
Apa beda dan hubungan antara data, observation, indicator, dan behavior ? Nah, saya suka dengan penjelasan gambar di atas. Gambar dan penjelasannya dapat dilihat lebih lanjut di sini. Sepintas ini mirip dengan alur exploratory research. Tetapi tidak murni exploratory, di mana ada unsur teori yang masuk, yaitu pada saat menentukan indikator yang membawa kita menyimpulkan suatu behavior atau perilaku tertentu.
Suatu kali saya diminta menjadi penguji tamu untuk sidang tesis mahasiswa S2 di sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta. Si mahasiswa membuat tesis mengenai analisis efektivitas penerapan sistem ERP di sebuah perusahaan yang dia jadikan studi kasus. Nah, ini tentu topik yang menarik.
Tetapi sayangnya, setelah saya baca habis tesis yang bersangkutan, saya menemukan banyak sekali kelemahan logika dalam berargumen untuk tingkat S2. Banyak sekali blok-blok pemikiran yang “jaka sembung naik ojek, kagak nyambung jek !“. Sebelum ujian sidang dilaksanakan, saya konfirmasikan kepada sekretaris jurusan program studi tersebut, kok tesis begini bisa lewat untuk maju sidang ? Si sekretaris jurusan gak bisa jawab dengan jelas, hanya dia bilang, pembimbing yang bersangkutan, seorang dosen senior di universitas tersebut, sudah mengizinkan yang bersangkutan maju … Well, oke deh … Read More…
Ini catatan ringan mengenai viable system model (VSM) yang menurut saya sangat komprehensif dan holistik dalam memetakan sistem di dalam organisasi. Saya juga lagi seru-serunya belajar VSM ini, yup, masih untuk disertasi S3 ..
Viable system model (VSM) adalah suatu pemodelan yang menggambarkan hubungan organisasi dengan lingkungannya, serta bagaimana interaksi organisasi dengan lingkungan tersebut. Ini sejalan dengan konsep yang mengatakan bahwa organisasi pada hakekatnya adalah sebuah sistem terbuka (open systems) dan interaktif dengan lingkungannya.
Pemodelan dengan VSM menggambarkan setidaknya 3 (tiga) hal di dalam organisasi, yaitu (1) kondisi organisasi saat ini, termasuk kondisi internal dan interaksi dengan kondisi eksternal, (2) arah pengembangan organisasi, dan ini sejalan dengan konsep organsiasi pembelajar di mana organisasi diarahkan untuk mencapai suatu keunggulan dengan proses pembelajaran, serta (3) semua kebijakan yang diperlukan untuk membawa kondisi saat ini menuju kondisi yang diinginkan tersebut. Sepintas VSM ini mirip dengan konsep black box system, yaitu merumuskan kebijakan untuk perubahan organisasi. Hanya saja, pada VSM semua komponennya didefinisikan sangat lengkap dan jelas termasuk interaksinya. Read More…
Ini catatan ringan mengenai soft system methodology. Pendekatan sistem yang lebih humanis dan non-determinsitik. Saya juga lagi senang ngutak-atik metode ini, terutama untuk keperluan disertasi S3 …
Jika system dynamics sering diklasifikasikan sebagai hard system methodology (HSM), maka di sisi lain terjadi perkembangan yang sangat pesat dalam disiplin ilmu soft system methodology (SSM). Pendekatan SSM ini merupakan pendekatan pemodelan sistem yang lebih humanis dan sangat memperhitungkan berbagai aspek dalam perilaku, baik perilaku organisasi maupun perilaku manusia.
SSM dikelompokkan dalam “soft” operation research tools, sebagai alternatif dari “hard” model matematik dan model keputusan konvensional yang merupakan tools yang ada pada bidang operation research (OR). SSM adalah sebuah metodologi untuk menganalisis dan pemodelan sistem yang mengintegrasikan teknologi (hard) sistem dan human (soft) system. Read More…
Posted in
System thinking at August 1st, 2008.
1 Comment.
Saya suka pemodelan sistem blogsphere yang dikembangkan oleh blogger Pak Dhe Rovicky ini. Beliau adalah seorang ahli geologi dan banyak nge-blog masalah-masalah geologi dan fenomena alam lainnya. Saya sendiri pernah ketemu beliau pada Pesta Blogger 2007 yang lalu di Blitzmegaplex Jakarta.
Pak Rovicky menggambarkan bahwa blogsphere adalah suatu sistem besar yang melibatkan banyak aktor, mulai dari blogger sampai dengan masyarakat umum. Terdapat 4 jenis interaksi dalam model tersebut (lihat gambar di atas). Beliau menyebut ada interaksi hanya sekedar “katak di bawah tempurung” untuk blogger, sampai dengan interaksi yang memungkinkan ide-ide brilian para blogger menjadi bermanfaat untuk masyarakat banyak. Read More…
Untuk kedua kalinya, saya atas nama People Performance Consulting menjadi fasilitator untuk topik open thinking and learning untuk Sierad Produce, sebuah perusahaan perunggasan atau poultry yang besar di Indonesia. Workshop kali ini diikuti oleh para manajer di lingkungan Sierad Produce, dan bertujuan untuk memberikan kompetensi berpikir terbuka dan belajar dari lingkungan, terutama lingkungan kerja. Acara ini berlokasi di Gading Golf - Serpong. Jadinya, dari ruangan workshop, kami bisa menatap luasnya lapangan golf, dan membuat mata tidak bosan, tidak sumpek, dan ide-ide bisa keluar dengan baik.
Ada 3 kata kunci yang harus dibahas pada workshop ini, yaitu (1) open, (2) thinking, serta (3) learning. Dengan demikian, materi workshop ini pun dipilah atas 3 topik besar tersebut walaupun saling berkaitan satu dengan yang lain. Open berarti terbuka, mau menerima paradigma yang lain, serta kreatif mencari sesuatu yang baru di luar yang biasanya terjadi atau dilakukan. Thinking di sini maksudnya adalah paradigma berpikir. Ada manusia yang berpikir rasional, emosional, dan kultural. Di sisi lain, manusia juga bisa berpikir empiris, interpretif, dan kritis. Sedangkan learning adalah berbagai pola belajar yang terjadi pada orang dewasa, antara lain concrete experience, reflective, abtract, dan sebagainya. Read More…
Masih belum hilang rasa letih sehabis liburan dari Parai - Bangka kemarin, maka hari ini menjadi fasilitator workshop untuk topik Creative Problem Solving, dalam rangka Program Pendidikan Manajemen Madya untuk PT. Jamsostek (Persero). Ini adalah untuk kesekian kalinya saya membawakan topik sejenis untuk program pendidikan di Jamsostek. Topik ini sangat menarik, karena yang namanya kreativitas pasti tidak bisa diajarkan, melainkan harus dicobakan. Maka jadilah workshop ini seharian dengan penuh canda tawa, tanpa menghilangkan keseriusan.
Aspek konsep sangat minim dibawakan dalam workshop ini, karena memang konsep kreativitas itu tidak banyak. Paling hanya definisi kreativitas, pola pikir sistematis dan kreatif atau otak kiri dan kanan manusia, hambatan berpikir kreatif, serta berbagai metode kreatif seperti SCAMPTER, morfologi atau pengandaian, dan sebagainya. Selebihnya, kita latihan dan mencoba untuk menerapkan konsep kreativitas di kelas. Read More…