Archive for the ‘System thinking’ Category
Banyak pihak yang skeptis melihat para peneliti atau ilmuwan, dan “menuduh” mereka hanyalah pihak yang hanya “omong doang” atau “hanya berwacana atau berteori” tanpa ada suatu “aksi konkrit”.
Untuk memotret hal ini, saya sering mengibaratkan dengan dunia penerbangan. Dalam dunia penerbangan ada 3 (tiga) proses dalam value chain-nya dan 3 (tiga) profesi utama dalam setiap proses.
Pertama, yang paling awal adalah kegiatan analisis, dan profesi di sini adalah ahli fisika dengan teori aerodinamika, teori gerak, dan sebagainya. Tanpa adanya ahli fisika yang merumuskan teori-teori tersebut, maka manusia tidak akan pernah mampu menciptakan pesawat terbang. Pesawat terbang dibangun berdasarkan berbagai teori fisika, seperti teori aerodinamika.
Lalu proses kedua design atau rancang bangun, dan profesi di sini adalah para engineer yang membuat pesawat. Berdasarkan teori-teori yang diformulasikan melalui berbagai riset para ahli fisika, maka para engineer mendesain dan membangun pesawat terbang.
Read the rest of this entry »
AI adalah suatu metode penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan sisi kekuatan dari suatu organisasi atau komunitas sosial, untuk menyusun suatu kebijakan menuju masa depan.
Dengan demikian, AI itu adalah suatu metode riset yang sifatnya futuristik, dipergunakan untuk menyusun langkah-langkah atau pemodelan masa depan, yang umumnya dilakukan dengan pendekatan kualitatif, dengan cara mengeksploitasi kekuatan atau kelebihan yang dimiliki oleh organisasi atau komunitas sosial tersebut.
Watkins dan Mohr (2001) mendefinisikan AI sebagai berikut :
“Collaborative and highly participative, system-wide approach to seeking, identifying, and enhancing the “life-giving forces” that are present when a system is performing optimally in human, economic, and organizational terms. It is a journey during which profound knowledge of a human system at its moments of wonder is uncovered and use to con-construct the best and highest future of that system.
The term “appreciative” comes from the idea that when something increase when claue it “appreciates”. Therefore, AI focuses on the generative and life-giving forces in the system, the things we want to increase. By “inquiry” we mean the process of seeking to understand through asking questions”.
Setelah membuat catatan ringan tentang strategic decision dan operational decision berupa lessons learned dari film Executive Decision, maka kali ini saya membuat hal sejenis untuk film Crimson Tide. Entah kenapa, film Crimson Tide tiba-tiba ada di RCTI barusan, jadi klop-lah.
Ini kisah di sebuah kapal selam nuklir AS, USS Alabama, yang diperintahkan oleh panglima tertinggi AL untuk meluncurkan peluru kendali berkepala nuklir untuk meng-counter rudal sejenis yang diluncurkan menuju wilayah AS dari instalasi nuklir Rusia yang direbut oleh pemberontak ultranasionalis Rusia. Perintah diterima oleh pimpinan kapal selam, lalu setelah diotentifikasi, ternyata valid dan otentik, dan itu berarti perintah harus dilaksanakan.
Menurut prosedur baku, peluncuran peluru kendali nuklir harus disetujui oleh 2 pihak, yaitu kapten kapal (CO / commanding officer) serta XO (executive officer). Jika kedua pihak ini setuju, maka kode eksekusi ada di tangan perwira senjata (WEPS / weapon officer). Hanya saja, menjelang peluncuran, USS Alabama terlibat pertempuran dengan kapal selam Rusia yang dikendalikan oleh para pemberontak, sehingga membuat mereka bermanuver di bawah laut, dan tentu saja saluran komunikasi putus. Sesaat menjelang komunikasi putus, mereka menerima perintah lanjutan dari panglima tertinggi AL tentang peluncuran peluru kendali nuklir tersebut, tetapi transmisi pesan terputus, sehingga tidak diketahui maksudnya.
Sementara persiapan peluncuran rudal nuklir sudah dimulai, tetapi mereka tidak bisa menkonfirmasi ulang perintah yang terakhir karena terlibat pertempuran di bawah laut, dan akibat pertempuran, USS Alabama mengalami kerusakan, termasuk saluran komunikasi. Read the rest of this entry »


