( Tulisan ini saya buat tahun 2007 sebagai apreasiasi terhadap Chrisye (alm) atas prinsip profesionalisme yang ditunjukkan dalam profesinya, dan prinsip itu di-share kepada kita semua melalui sebuah buku )

Salah satu kesukaan saya adalah membaca buku biografi atau autobiografi orang-orang yang terkenal. Menurut saya, selalu ada saja pelajaran atau lessons learned yang bisa dipetik dari pengalaman hidup mereka, setidaknya dari apa yang dituliskan di buku itu.

Nah, salah satu buku yang biografi yang menarik adalah “Chrisye : Sebuah Memoar Musikal” yang ditulis oleh Alberthiene Endah. Mengapa menarik ? Karena buku ini tidak hanya berkisah mengenai sang legenda musik Indonesia, Chrisye, melainkan juga berisikan berbagai hikmah atau lessons learned yang diungkapkan oleh (alm) Chrisye berkaitan dengan perjalanan hidupnya sebagai penyanyi atau musisi. Hampir semua himah atau lessons learned yang disampaikan (alm) Chrisye relevan dengan berbagai teori atau konsep manajemen yang lazim dipergunakan dalam bisnis.

Petikan dari buku tersebut, “Berpuluh tahun saya menjalani profesi penyanyi, saya akhirnya menyadari bahwa pencapaian terbesar saya adalah bahwa saya bisa terus berjalan dalam proses. Saya bisa setia pada musik. Saya bisa banyak menggenggam nilai kehidupan berkat musik. Dan saya sangat bahagia jika bisa membagikan pengalaman buat siapapun yang ingin bertahan dalam profesi yang dicintai ! ..(halaman 325) “.

Saya merangkum dari buku tersebut, setidaknya ada 6 pelajaran yang menarik, berkaitan dengan kesuksesan berkarir, yang juga lazim dibahas dalam dunia manajemen.

LESSON 1 : JADILAH DIRI SENDIRI
LESSON 2 : KREATIVITAS, DIUNDANG, TAPI JANGAN DIPAKSA !
LESSON 3 : MEMILIH PARTNER, JANGAN ASAL COMOT !
LESSON 4 : JANGAN RESAH DENGAN PERSAINGAN (KOMPETISI)
LESSON 5 : CIPTAKAN SESUATU YANG BARU (VALUE INNOVATION)
LESSON 6 : JANGAN LUPAKAN SPIRITUALITAS

Read More…

Posted in Buku, Manajemen stratejik, Pengembangan diri at August 12th, 2008. 4 Comments.

Beberapa waktu yang lalu, secara mengejutkan, saya dikirimi sebuah buku, “The Definitive Drucker“, yang dikirim oleh penulisnya langsung, Elizabeth Haas Edersheim. Thank you Elizabeth.

Terus terang, saya nggak kenal dengan Elizabeth Haas Edersheim. Bahkan setelah saya dikirimi buku, baru saya cari identitas dirinya. Saya memang pernah menerima email dari seseorang yang mengaku sekretaris Elizabeth, dan minta alamat surat saya, karena Elizabeth mau mengirimi saya buku. Tetapi sungguh, saya tidak punya bayangan, siapa dia, dan buku apa yang mau dikirim. Tapi email itu saya balas, dan saya kasih alamat saya.

Setelah saya telusuri lewat Google, ternyata Elizabeth Haas Edersheim adalah partner wanita pertama di McKinsey, kantor konsultan manajemen ternama di dunia. Dia memiliki gelar Ph.D di bidang operation research and industrial engineering dari MIT … wow ! .. Elizabeth sangat akrab dengan Peter Drucker sebelum Drucker meninggal dunia tanggal 11 November 2005

Rupanya Elizabeth pernah membaca tulisan ringkas saya mengenai Peter Drucker, terutama berkaitan dengan komentar saya tentang buku Peter Drucker yang berjudul “People and Performance”. Rupanya komentar saya (dalam bahasa Inggris) dibaca oleh Elizabeth, yang kebetulan menulis buku tentang pemikiran Peter Drucker. Maka, dikirimilah saya sebuah buku, dengan pesan singkat “from a Drucker fan to another“.

Saya memang menyukai pemikiran Peter Drucker, bahkan juga membaca tulisan-tulisan beliau yang sudah lama ditulis. Tidak salah kalau Peter Drucker dikasih julukan Bapak Manajemen Modern. Pada buku ini, Elizabeth membahas pemikiran Peter Drucker tentang “the silent revolution“, yaitu yang dia gambarkan sebagai ” … silent revolution is built around human assets. It’s all about knowledge, information, and collaborative connections and partnerships-the powerful new tools driving our future …”. Lalu ada juga penegasan, ” … ability to learn is far more important than ever ..”.

Well, sekali lagi, terima kasih Elizabeth … saya sependapat dengan New York Times, ” … the story of Peter Drucker is the story of management itself .. “.

Posted in Buku, Manajemen organisasi, Manajemen stratejik at August 11th, 2008. No Comments.

Teori Igor Ansoff mengenai pemasaran agresif dapat dilihat dari dua variabel, yaitu (1) pasar, dan (2) produk, yang dikenal dengan teori matriks pertumbuhan pasar dan produk (market - product growth matrix). Kedua variabel tersebut terdiri dari dua kondisi, yaitu baru (new) atau yang sudah ada (present). Dengan demikian kita akan mengenal empat kondisi, yaitu (1) strategi pemasaran di pasar yang ada dengan produk yang ada, atau dengan kata lain mempertahankan wilayah dan produk yang ada, disebut dengan istilah penetrasi pasar (market penetration). (2) Strategi pemasaran di pasar yang ada tetapi dengan meluncurkan produk yang baru, disebut dengan istilah pengembangan produk (product development). (3) Strategi pemasaran untuk produk yang sudah ada, tetapi merambah ke pasar yang baru, disebut pengembangan pasar (market development). Terakhir (4) adalah strategi pemasaran untuk produk yang baru dan juga dilempar ke pasar yang baru, disebut dengan istilah diversifikasi.

Ternyata, Indonesia adalah pasar yang sudah besar untuk Friendster, dan manajemen Friendster sudah menjadikan Indonesia sebagai fokus pemasarannya atau dengan kata lain Indonesia adalah present market yang sudah barang tentu perlu dijaga. Artinya Friendster harus melakukan strategi penetrasi pasar serta pengembangan produk di Indonesia. Berita yang diluncurkan DetikInet, khusus untuk pengembangan produk, ternyata CEO Friendster, Richard Kimber mengatakan bahwa pengguna Friendster Mobile yang baru saja diluncurkan beberapa bulan, sangat tinggi pertumbuhannya di Indonesia. Ini bukti bahwa strategi pengembangan produk Friendster berhasil di Indonesia. Keseriusan Friendster untuk fokus ke wilayah Asia Tenggara terlihat dengan penunjukan Richard Kimber sebagai CEO, di mana sebelumnya Kimber adalah managing director Google untuk wilayah Asia Tenggara! Read More…

Mumpung masih fresh baru balik dari Batam, dan mendapatkan kesempatan untuk ngobrol dengan orang-orang penting di jajaran pemko Batam dan pemda Kepulauan Riau (Kepri), maka saya mencoba menuliskan pemikiran ini, mengenai strategic positioning Batam dan Kepri secara umum. Tulisan ini memang baru pemikiran awal, secara umum, dan memang masih perlu studi lebih lanjut untuk rinciannya.

Saya sangat mempercayai teori cluster dan dari Michael Porter. Jadi alat analisis saya di sini adalah teori cluster. Cluster adalah sebuah wilayah yang dibangun dengan fokus kepada satu keunggulan tertentu. Sebuah cluster ditopang oleh beberapa hal, yaitu kondisi bisnis, infrastruktur, kondisi pasar, regulasi pemerintah, pendidikan, industri lain yang relevan, serta sumber pendanaan atau keuangan.

Kepri, saat ini adalah propinsi termuda di Indonesia, terdiri dari 96% lautan, dan hanya 4% daratan. Tanpa analisis yang mendalam, kita sudah bisa menebak, bahwa industri maritim adalah strategic positioning dari Kepri. Industri maritim ini memiliki banyak sub-industri yang bisa diangkat sebagai cikal bakal cluster, antara lain perikanan, perkapalan, pariwisata kelautan. Kepri juga memiliki keunggulan komparatif yang lain, yaitu terletak di posisi silang jalur pelayaran, serta memiliki cadangan minyak bumi di sekitar Natuna. Oke deh, minyak bumi kita keluarkan dulu dari daftar strategic positioning ini, walaupun bisa saja suatu saat pemda berpartisipasi dalam hal ini seperti Bumi siak Pusako di Riau yang ikut mengelola sumur minyak ex Caltex (sekarang Chevron) bersama Pertamina. Dengan demikian, Kepri memiliki strategic positioning industri maritim, meliputi perikanan, perkapalan, dan pariwisata kelautan. Read More…

Posted in Batam, Manajemen stratejik, Pengembangan wilayah at August 10th, 2008. No Comments.

Ini sekedar catatan ringan mengenai resource-based theory dalam manajemen stratejik. Maklum, sekarang lagi tertarik mempelajari paradigma yang satu ini, selain juga untuk bahan disertasi S3 .. he he he ..

Resource-based theory (RBT) adalah suatu pemikiran yang berkembang dalam teori manajemen stratejik dan keunggulan kompetitif perusahaan yang menyakini bahwa perusahaan akan mencapai keunggulan apabila memiliki sumber daya yang unggul. Dengan sumber daya yang unggul, perusahaan mampu melakukan strategi bisnis apa saja, yang pada akhirnya membawa perusahaan memiliki keunggulan kompetitif. Ini adalah cara pandang alternatif terhadap market-based theory yang menjadi mainstream pemikiran manajemen stratejik saat ini.

Apakah yang dimaksud dengan sumber daya yang unggul ? Sumber daya yang unggul adalah sumber daya yang langka serta susah untuk ditiru oleh pesaing. Sebuah perusahaan bisa saja membeli perangkat teknologi yang canggih, tetapi teknologi yang sama juga bisa dibeli oleh pesaing dalam waku cepat. Dengan demikian perangkat teknologi sepeti ini bukanlah sumber daya yang mampu membawa keunggulan kompetitif. Tetapi kompetensi manusia yang mampu mengoperasikan teknologi tersebut lah yang merupakan sumber daya yang unggul, sehingga dapat memanfaatkan perangkat teknologi tadi dengan maksimal sehingga memberikan manfaat besar untuk perusahaaan. Read More…

Posted in Manajemen stratejik at August 1st, 2008. No Comments.

Tadi sore, habis mengikuti pre-conference workshop pada Asia HRD Congress 2008 di Jakarta Convention Center, saya jalan-jalan ke Plaza Senayan. Tujuannya sih cari makan malam dan tentu saja tempat favorit saya (mungkin juga tempat di mana saya paling banyak menghabiskan uang di Plaza Senayan) yaitu toko buku Kinokuniya. Sehabis makan di food court, sushi jyo dari Ichiban kesukaan saya, terus ke lantai 5 Plaza Senayan.

Ternyata buku “Execution Premium” karya Kaplan dan Norton yang terbaru (2008) sudah masuk ke Indonesia. Ini adalah buku mereka yang kelima, setelah Balanced Scorecard (1996), Strategy-Focused Organization (2000), Strategy Maps (2003), serta Alignment (2006). Isinya ya masih satu seri, yaitu balanced scorecard, dengan berbagai pengembangannya. Read More…

Posted in Balanced Scorecard, Buku, Manajemen stratejik at July 22nd, 2008. 2 Comments.

Saya kembali mendapat kehormatan untuk memberikan workshop untuk Pendidikan Manajemen Utama untuk PT. Pelabuhan Indonesia I, II, III, dan IV, bertempat di Hotel Cisarua Cottage, di Cisarua - Puncak. Saya kebagian 2 sesi, yaitu sesi Strategic Management kemaren, dan Learning Organization pada hari ini. Workshop ini diikuti oleh para calon general manager pelabuhan serta senior manager di masing-masing kantor pusat Pelindo I, II, dan III. Pada program pendidikan ini, Pelindo IV tidak mengirimkan peserta.

Sesi strategic management adalah sesi yang paling seru. Ini sangat berkaitan dengan UU no 17 / 2008 mengenai Pelayaran, dan juga berdampak sangat signifikan kepada bisnis Pelindo. Jika dilihat lebih jauh, besar kemungkinan Pelindo harus melakukan restrukturisasi model bisnisnya dalam waktu dekat. Debat mengenai UU no 17 / 2008 ini terbagi dua. Pertama yang menganggap UU ini adalah sesuatu yang masih bisa diubah sehingga perlu melakukan judicial review. Kedua, yang menganggp UU ini sudah final, sehingga yang perlu dilakukan Pelindo adalah menerapkan manajemen perubahan untuk menyesuaikan diri. Read More…