Pada saat ditulis pertama kali pada tanggal 4 Agustus 2008, judul tulisan ini adalah Luck = Opportunity x Capability. Pada saat itu, saya hanya menulis berdasarkan pengalaman dan apa yang saya amati. Ternyata, setelah melakukan studi pustaka, saya menemukan bahwa teori yang seeprti ini sudah dirumuskan oleh Blumberg & Pringle tahun 1982 (sudah lama juga ya, berarti saya yang pengetahuannya masih kurang … ). Blumberg dan Pringle mengatakan bahwa Performance (kinerja) = Opportunites (kesempatan) x Capability (kemampuan) x Willingness (kemauan atau motivasi). Pada tanggal 16 Agustus 2008, judul tulisan ini saya ubah, dan isinya pun saya revisi di sana-sini. Saya mengucapkan terima kasih banyak atas semua komentar yang diberikan oleh pengunjung blog ini.
Ya, saya percaya betul dengan “rumus” judul tulisan ini. Keberuntungan (luck) adalah sinergi antara kesempatan (opportunity) dengan kesiapan atau kemampuan (capability) atau kata lainnya kompetensi, serta kemauan (willingness). Dalam banyak hal, orang sering mengidentikkan keberuntungan dengan kesempatan. Padahal, menurut saya, tidaklah demikian. Dalam banyak kasus, kesempatan itu sering datang dalam berbagai wujud. Hanya karena memang kita tidak memiliki kesiapan, maka kesempatan itu lewat begitu saja. Jarang kesempatan yang sama datang untuk kedua kalinya. Walaupun kesempatan adalah situational factor yang sering berada di luar kendali diri kita, tetapi kemampuan MELIHAT dan MEMILAH kesempatan adalah sesuatu yang harus kita dimiliki.
Itu jugalah yang terjadi pada Aris, si juara Indonesian Idol tahun ini, atau Gisell sang grand finalist yang juga penyanyi panggilan pinggiran, serta para finalis lomba sejenis. Bayangkan, kesempatan yang sama terbuka untuk ribuan yang melamar pada audisi Indonesian Idol. Ini berarti kesempatan (opportunity) sebenarnya sama untuk setiap orang yang mengikuti audisi. Tetapi memang, keberhasilan (performance) hanya datang kepada mereka yang siap dan punya kemampuan (capability) serta memiliki persistensi atau kegigihan atau dengan kata lain willingness yang tinggi, disamping memang ada kesempatan yang terbuka (walaupun kesempatan semata tidak cukup). Dengan demikian, seorang pengamen jalanan seperti Aris akan mendapatkan kebehrasilan tadi, karena dia mampu memadukan kemampuan yang dia miliki dengan kesempatan yang dia lihat di depan matanya, yaitu ajang lomba Indonesian Idol, serta memiliki kegigihan yang tinggi. Read More…
Sungguh, saya sangat trenyuh membaca tulisan Pak Sjafri Mangkuprawira di blog beliau mengenai nilai pensiun seorang akademisi dengan kategori guru besar atau profesor.
” …. Besarnya uang pensiun sebagai PNS dengan masa pengabdian selama 39 tahun dua bulan, yang saya terima adalah sebesar Rp2.182.500 ditambah dengan tunjangan isteri sebesar Rp218.250 plus lain-lain; totalnya adalah Rp2.400.800. …”
Ayah saya juga seorang dosen, juga sudah pensiun, dengan golongan yang hampir sama dengan Pak Sjafri, dan memang uang pensiun diterima hampir sama.
Bagaimana tidak trenyuh, nilai di atas masih belum setengahnya penghasilan anak muda yang baru saja memulai karir di sebuah perusahaan telekomunikasi besar, atau perusahaan minyak dan gas. Bahkan seorang asisten lawyer pada sebuah law firm terkenal, yang baru lulus sarjana S1 pun bergaji lebih dari 2x nilai tersebut. Read More…
Pentingkah mengukur ROI (return on investment) untuk evaluasi pengembangan SDM seperti pendidikan dan training ? Pendapat yang agak mengejutkan saya keluar dari Jim Kirkpatrick sewaktu dia menjadi salah satu pembicara pada Asia HRD Congress 2008 tadi siang. Well, baru kali ini saya lihat orangnya langsung bicara, biasanya hanya baca bukunya.
Jim Kirkpatrick adalah anak dari Don Kirkpatrick, orang yang pertama kali mengembangkan konsep evaluasi training yang dikenal dengan 4-level training evaluation. Level 1 adalah reaksi dari peserta (reaction), level 2 adalah terjadinya proses pembelajaran (learning), level 3 adalah berubahnya perilaku dan menerapkan ilmu baru di tempat kerja (behavior), serta level 4 adalah terjadinya perbaikan di dalam bisnis perusahaan (result).
Jim Kirkpatrick mengatakan bahwa yang terpenting bukanlah ROI atau return on investment untuk training, atau ada juga yang menyebutnya ROTI (return on training investment), melainkan ROE atau return on EXPECTATION. Expectation siapa ? Tentu saja para pengguna jasa manajemen SDM di dalam perusahaan, yaitu unit lainnya atau business leaders. Jadi, menurut Jim, yang perlu diketahui pertama kali adalah apakah harapan atau ekspektasi pimpinan unit lain (business leaders) terhadap pengembangan SDM. Read More…
Posted in
Manajemen SDM at July 24th, 2008.
No Comments.
Seharian tadi saya mengikuti pre-conference workshop dalam rangka Asia HRD Congress 2008 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta. Ada 9 seri topik workshop yang ditawarkan, dan saya memilih topik “cultural dynamics in cross cultural team” yang dibawakan oleh Jitske Kramer dari Human Dimension - Netherlands. Biasanya kalau workshop, saya sering berada di depan kelas sebagai fasilitator, tapi kali ini, saya sebagai peserta
Latar belakang Jitske adalah antropologi budaya, sehingga terlihat dalam kerangka berpikir yang dia tawarkan, pendekatan antropologi budaya cukup dominan, walaupun Jitske mencoba untuk membawanya ke ranah manajemen dan organisasi. Jitske sendiri mengakui hal ini, dan untuk itulah dia berkolaborasi dengan Margreeth Kloppenburg, teman dia yang ahli di bidang team management, sehingga menghasilkan suatu pendekatan cultural dynamics untuk team. Read More…
Posted in
Manajemen SDM,
Workshop at July 22nd, 2008.
1 Comment.