TAHUN BARU DAN MANAJEMEN KINERJA

3 komentar »

Semua ajaran agama dan kata-kata bijak para filsof mengajarkan bahwa dalam kehidupan “hari ini harus lebih baik daripada kemarin, dan hari esok harus lebih baik daripada hari ini“, dan inilah yang menjadi landasan untuk konsep continuous improvements serta manajemen kinerja (performance management), termasuk untuk kehidupan pribadi kita sehari-hari. Hanya saja persoalannya adalah, apa yang dimaksud dengan “lebih baik” ? Tentu saja ini akan berbeda untuk setiap individu, dan kita sama sekali tidak bisa menyamakan kriteria “lebih baik” ini untuk setiap orang.

Tapi satu hal yang harus sama, yaitu kita harus memiliki ukuran untuk mengatakan lebih baik, supaya yang kita bisa menilai bahwa kita memang sudah lebih baik dalam kehidupan masing-masing. Ukuran ini merupakan kombinasi dari ukuran kuantitatif dan kualitatif.

Jika hal tersebut sudah ada, maka baru kita melakukan kontemplasi mendalam terhadap diri sendiri dan jujur menilai diri sendiri, apa adanya, apa yang dicapai dan apa yang tidak, dibandingkan dengan rencana yang dibuat di awal tahun. Apapun pencapaian kita, terlebih dahulu, mari kita syukuri kepada Yang Maha Kuasa.

Hanya saja memang kita disuruh untuk berpikir oleh Yang Maha Kuasa, merenungi kehidupan, dan tentu saja juga mengevaluasi perjalanan kehidupan kita. Artinya, kita juga dituntut untuk mengevaluasi kinerja kita selama ini (anggap saja dilakukan per tahun), mensyukuri keberhasilan dan menganalisis kegagalan, dan tentu saja melakukan perbaikan seperlunya untuk tahun berikutnya.
Baca selengkapnya … »

TINGKAT PENYELESAIAN KONFLIK

1 komentar »

Ini adalah hasil pengamatan semata, belum menjadi sebuah kesimpulan akhir. Bagaimana konflik diselesaikan dalam masyarakat ? Menurut pengamatan saya (belum melihat teori ilmu sosial manapun), ada 3 tingkat penyelesaian konflik, terkait dengan peraturan atau regulasi yang berlaku.

Penyelesaian konflik yang paling rendah adalah dengan kekerasan. Siapa yang memiliki kekuatan akan memenangkan konflik. Ini terjadi di semua strata sosial masyarakat. Pihak yang kalah akan mundur dari gelanggang pusat konflik. Pada bentuk penyelesaian ini, hukum, peraturan, regulasi, atau apapun namanya, sudah tidak diperhatikan lagi, dan yang menjadi acuan utama adalah kekuatan untuk melakukan pemaksaan. Pada strata sosial yang kelas bawah, misalnya, gerombolan preman yang memperebutkan lahan parkir. Strata sosial yang lebih tinggi adalah penggunaan kekerasan oleh debt collector untuk menagih hutang. Tingkatan yang paling tinggi untuk hal seperti ini tentu adalah konflik bersenjata yang melibatkan militer antar negara. Konflik seperti ini akan berakhir dengan situasi win-loose.

Penyelesaian konflik yang sedikit lebih tinggi, sudah memperhatikan hukum, peraturan, atau regulasi (apapun lah namanya). Tetapi penyelesaian konflik dilakukan dengan “memperdebatkan” aturan main yang ada dalam hukum, peraturan, atau regulasi tersebut. Ini biasanya dilakukan dengan melibatkan institusi formal, misalnya pengadilan, lembaga arbitrase, dan sejenisnya. Intinya adalah, hukum, peraturan, regulasi, menjadi acuan dan sangat diperhatikan, tetapi terjadi “perdebatan” dan mungkin bahkan “mensiasati”-nya. Nah, mereka yang memang dalam konflik tentu mereka yang “pintar mensiasati” hukum. Ini juga akan berakhir dengan situasi win-loose. Baca selengkapnya … »

THE CORPORATION : PERUSAHAAN (DAN PENGUSAHA) ITU MALAIKAT ATAU SETAN ?

Tidak ada komentar »

Suatu kali, saya lagi jalan-jalan di sebuah toko buku, pandangan saya tertuju kepada sebuah buku yang sangat eye catching, berwarna agak menyolok (merah), tapi yang menarik adalah gambar sampulnya, seorang bawa koper, kesannya seperti eksekutif perusahaan atau bisnis, lalu ada lingkaran di atas kepalanya (seperti simbol malaikat) sekaligus juga punya ekor yang ujungnya tajam (seperti simbol setan). Penasaran kan ? Judul bukunya : “THE CORPORATION”, ditulis oleh Joel Bakan, seorang profesor bidang hukum dari University of British Columbia.

Kembali ke gambar sampul buku ini. Ini kan sebuah simbol, atau sebuah penggambaran, apakah itu perusahaan ? siapakah itu pengusaha ? apakah malaikat atau setan ? atau kombinasi keduanya ?

Logikanya begini. Banyak buku yang mengulas mengenai keberhasilan sebuah perusahaan (termasuk pengusahanya) menuliskan sisi baik dari perusahaan itu. Misalnya melakukan tanggung jawab sosial, memperhatikan karyawan, dan sebagainya. Termasuk si pengusahanya, selalu diulas yang baik-baik saja. Apakah benar begitu ? Apakah benar perusahaan (serta pengusaha) yang sukses itu seperti malaikat ?

Ada beberapa kutipan menarik dari buku ini :

[Corporations] deliberately programmed, indeed legally compelled, to externalize costs without regard for the harm it may cause to people, communities, and the natural environment. Every cost it can unload onto someone else is a benefit to itself, a direct route to profit. (halaman : 72-73).

Baca selengkapnya … »

BEBERAPA CATATAN TENTANG GOOD GOVERNANCE

2 komentar »

Tadi sore, The 2nd Annual Top Executive Forum on Governance sudah ditutup. Banyak pemikiran-pemikiran menarik yang muncul dalam forum ini, bahkan menurut saya, ada beberapa yang radikal. Saya mencatat setidaknya ada 2 pembicara yang radikal dalam pengertian mengajak kita untuk berpikir dengan paradigma yang lain, suatu cara pandang yang lain, untuk mencapai kemaslahatan bersama, yaitu Tun Dr. Mahathir Mohamad (mantan PM Malaysia), dan Dr. Fadel Muhammad (Gubernur Provinsi Gorontalo). Jika Tun Dr. Mahathir berbicara dalam skala regional Asia, maka Dr Fadel berbicara dalam skala daerah atau provinsi di Indonesia.

(Lihat tulisan posting tentang pemikiran Tun Dr. Mahathir di sini, lalu masalah governance di daerah di sini, serta penegakan hukum di ini).

Inilah beberapa catatan yang buat / rangkum selama acara berlangsung : Baca selengkapnya … »

Tulisan sebelumnya »