Jan 01
Semua ajaran agama dan kata-kata bijak para filsof mengajarkan bahwa dalam kehidupan “hari ini harus lebih baik daripada kemarin, dan hari esok harus lebih baik daripada hari ini“, dan inilah yang menjadi landasan untuk konsep continuous improvements serta manajemen kinerja (performance management), termasuk untuk kehidupan pribadi kita sehari-hari. Hanya saja persoalannya adalah, apa yang dimaksud dengan “lebih baik” ? Tentu saja ini akan berbeda untuk setiap individu, dan kita sama sekali tidak bisa menyamakan kriteria “lebih baik” ini untuk setiap orang.
Tapi satu hal yang harus sama, yaitu kita harus memiliki ukuran untuk mengatakan lebih baik, supaya yang kita bisa menilai bahwa kita memang sudah lebih baik dalam kehidupan masing-masing. Ukuran ini merupakan kombinasi dari ukuran kuantitatif dan kualitatif.
Jika hal tersebut sudah ada, maka baru kita melakukan kontemplasi mendalam terhadap diri sendiri dan jujur menilai diri sendiri, apa adanya, apa yang dicapai dan apa yang tidak, dibandingkan dengan rencana yang dibuat di awal tahun. Apapun pencapaian kita, terlebih dahulu, mari kita syukuri kepada Yang Maha Kuasa.
Hanya saja memang kita disuruh untuk berpikir oleh Yang Maha Kuasa, merenungi kehidupan, dan tentu saja juga mengevaluasi perjalanan kehidupan kita. Artinya, kita juga dituntut untuk mengevaluasi kinerja kita selama ini (anggap saja dilakukan per tahun), mensyukuri keberhasilan dan menganalisis kegagalan, dan tentu saja melakukan perbaikan seperlunya untuk tahun berikutnya.
Baca selengkapnya … »
Dec 31
Ini adalah hasil pengamatan semata, belum menjadi sebuah kesimpulan akhir. Bagaimana konflik diselesaikan dalam masyarakat ? Menurut pengamatan saya (belum melihat teori ilmu sosial manapun), ada 3 tingkat penyelesaian konflik, terkait dengan peraturan atau regulasi yang berlaku.
Penyelesaian konflik yang paling rendah adalah dengan kekerasan. Siapa yang memiliki kekuatan akan memenangkan konflik. Ini terjadi di semua strata sosial masyarakat. Pihak yang kalah akan mundur dari gelanggang pusat konflik. Pada bentuk penyelesaian ini, hukum, peraturan, regulasi, atau apapun namanya, sudah tidak diperhatikan lagi, dan yang menjadi acuan utama adalah kekuatan untuk melakukan pemaksaan. Pada strata sosial yang kelas bawah, misalnya, gerombolan preman yang memperebutkan lahan parkir. Strata sosial yang lebih tinggi adalah penggunaan kekerasan oleh debt collector untuk menagih hutang. Tingkatan yang paling tinggi untuk hal seperti ini tentu adalah konflik bersenjata yang melibatkan militer antar negara. Konflik seperti ini akan berakhir dengan situasi win-loose.
Penyelesaian konflik yang sedikit lebih tinggi, sudah memperhatikan hukum, peraturan, atau regulasi (apapun lah namanya). Tetapi penyelesaian konflik dilakukan dengan “memperdebatkan” aturan main yang ada dalam hukum, peraturan, atau regulasi tersebut. Ini biasanya dilakukan dengan melibatkan institusi formal, misalnya pengadilan, lembaga arbitrase, dan sejenisnya. Intinya adalah, hukum, peraturan, regulasi, menjadi acuan dan sangat diperhatikan, tetapi terjadi “perdebatan” dan mungkin bahkan “mensiasati”-nya. Nah, mereka yang memang dalam konflik tentu mereka yang “pintar mensiasati” hukum. Ini juga akan berakhir dengan situasi win-loose. Baca selengkapnya … »
Dec 14
Suatu kali, saya lagi jalan-jalan di sebuah toko buku, pandangan saya tertuju kepada sebuah buku yang sangat eye catching, berwarna agak menyolok (merah), tapi yang menarik adalah gambar sampulnya, seorang bawa koper, kesannya seperti eksekutif perusahaan atau bisnis, lalu ada lingkaran di atas kepalanya (seperti simbol malaikat) sekaligus juga punya ekor yang ujungnya tajam (seperti simbol setan). Penasaran kan ? Judul bukunya : “THE CORPORATION”, ditulis oleh Joel Bakan, seorang profesor bidang hukum dari University of British Columbia.
Kembali ke gambar sampul buku ini. Ini kan sebuah simbol, atau sebuah penggambaran, apakah itu perusahaan ? siapakah itu pengusaha ? apakah malaikat atau setan ? atau kombinasi keduanya ?
Logikanya begini. Banyak buku yang mengulas mengenai keberhasilan sebuah perusahaan (termasuk pengusahanya) menuliskan sisi baik dari perusahaan itu. Misalnya melakukan tanggung jawab sosial, memperhatikan karyawan, dan sebagainya. Termasuk si pengusahanya, selalu diulas yang baik-baik saja. Apakah benar begitu ? Apakah benar perusahaan (serta pengusaha) yang sukses itu seperti malaikat ?
Ada beberapa kutipan menarik dari buku ini :
[Corporations] deliberately programmed, indeed legally compelled, to externalize costs without regard for the harm it may cause to people, communities, and the natural environment. Every cost it can unload onto someone else is a benefit to itself, a direct route to profit. (halaman : 72-73).
Baca selengkapnya … »
Nov 26
Saat menulis posting ini saya sedang berada di executive lounge terminal 2F bandara internasional Soekarno Hatta menunggu boarding ke Denpasar. Somehow, saya terinspirasi untuk memunculkan tulisan saya yang sudah lama ini, mungkin karena sedang menjadi mobile worker. Tulisan saya ini pernah dimuat pada majalah Manajemen tahun 2002. Catatan : peralatan mobile seperti blackberry, mobile modem, etc, waktu tulisan ini dibuat tahun 2002 belum ada seperti sekarang. Kehadiran peralatan tersebut membuat konsep mobile workers menjadi lebih hebat lagi !
Profesi saya sebagai konsultan serta dosen atau instruktur manajemen, membuat saya bekerja berpindah-pindah dari suatu klien ke klien yang lain. Suatu pagi saya berada di klien di Jakarta, lalu siangnya berada di klien yang lain di daerah Bekasi. Malamnya saya harus berada di kantor di Jakarta untuk mengajar di kelas Magister Manajemen (MM). Irama kehidupan sehari-hari memang tidak selalu mengikuti pola demikian. Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa lokasi kerja saya sering berpindah-pindah. Seringkali klien yang saya tangani tidak hanya berada di Jakarta. Saya bisa berada di Bontang Kalimantan Timur selama seminggu, lalu berlanjut ke Tanjung Enim di Sumatera Selatan selama seminggu. Di samping itu, saya juga memiliki kegiatan lain, yaitu menulis berbagai artikel untuk media cetak, yaitu surat kabar dan majalah.
Sehari-hari saya ditemani komputer notebook yang berisikan berbagai bahan presentasi, bahan mengajar, serta artikel-artikel yang saya tulis. Jika diperlukan, notebook tersebut siap dihubungkan ke internet melalui modem. Saya bisa mengirimkan berbagai laporan kepada klien melalui e-mail, juga menerima PR atau paper yang ditulis peserta program MM, serta mengirimkan artikel ke berbagai media. Semuanya dilakukan melalui e-mail. Bahkan seringkali bimbingan tesis untuk peserta MM dilakukan melalui e-mail dan jika sangat diperlukan, baru dilakukan tatap muka dengan perjanjian terlebih dahulu. Apakah sopan mengumpulkan PR atau bimbingan tesis melalui e-mail ? Saya tidak terlalu peduli dengan pertanyaan seperti itu. Yang jelas, saya tidak menemukan sedikitpun celah “ketidaksopanan” dari pola demikian. Baca selengkapnya … »