Opini saya sebagai hasil wawancara oleh Majalah SWA mengenai penerapan balanced scorecard di PT Riau Andalan Pulp & Paper (April Asia Group), tulisan lengkap dapat dibaca di sini.
Oleh : Sudarmadi
Reportase: Eddy Dwinanto Iskandar.
BSC merupakan alat untuk meraih pertumbuhan masa depan melalui perencanaan dan pengukuran kinerja. “Ia bisa difungsikan untuk pengukuran kinerja dan juga cara mencapai kinerja yang diinginkan,” Riri Satria, pakar BSC yang juga Direktur Consulting People Performance Consulting, menyebutkan. Pada tool ini, pengukuran kinerja terejawantahkan melalui indikator kinerja utama (key performance indicator/KPI) yang biasanya juga dirinci dalam target-target yang diinginkan. KPI pasti ada di perusahaan yang sudah menjalankannya karena merupakan prasyarat. Demikian pula inisiatif strategis yang merupakan cara mencapai kinerja yang diinginkan.
Riri Satria mengakui, sejak dimunculkan pertama kali oleh Kaplan dan Norton, BSC menjadi management tool yang makin diminati perusahaan-perusahaan besar. Apalagi setelah konsep intangible asset yang terdiri dari human capital, information capital, dan organization/culture capital marak dibicarakan orang sebagai alat mencapai keunggulan kompetitif perusahaan. BSC berkembang menjadi alat untuk menyelaraskan antara intangible asset dengan strategi perusahaan. Pada fase itu, “Dengan BSC kita bisa melihat kesenjangan antara kompetensi karyawan dengan strategi organisasi, atau kesenjangan antara infrastruktur TI dengan strategi bisnis, dan lainnya,” ia menuturkan.
Dalam pandangan Riri, salah satu tahap penting implementasi BSC ialah pengukuran kinerja. Di sini sering sulit mencari indikator (KPI). Kecuali untuk bagian pemasaran yang indikatornya mudah dan jelas diukur (target pasar, penjualan, dan lain sebagainya). “Yang agak rumit untuk karyawan bagian supporting seperti SDM, keuangan, dan lainnya. Ini perlu pendekatan lain untuk menentukan KPI guna melengkapi BSC, misalnya dengan service level agreement,” katanya.
Karena itu, supaya BSC sukses, semua unit memang harus mau duduk bersama guna mengintegrasikan seluruh strategi di perusahaan. “Umumnya penerapan BSC gagal karena semua pihak tidak mau duduk bersama,” ungkap Riri. Selain itu, sebaiknya BSC juga dipadukan dengan tool lain semisal TQM, Customer Value Proposition, sistem competency-based, serta sistem reward and punishment yang baik. Ini semua merupakan amunisi keunggulan bersaing di iklim kompetisi yang kian ketat.


