(Kisah acara reuni dadakan alumni SMA 2 Padang di Jakarta, di Resto Pulau Dua Jakarta, yang ternyata menjadi ajang menghantarkan seorang sahabat, Syafri Iskandar alias Cecep menuju tempat peristirahatan terakhir. Tulisan ini adalah dokumentasi kisahnya, pernah saya posting juga di notes Facebook notes saya).


Dari kiri : Mastrialdi, Yan Zen, saya, dan Cecep.

JUM’AT, 8 JAN 2010

sekitar 18:30

Saya sampai di Resto Pulau Dua setelah terjebak macet yang cukup lama mulai dari Harmoni sampai Tomang, setelah menjemput teman saya Dahrina di Stasiun Gambir. Saya lihat masih belum ramai yang hadir. Setelah menyalami teman satu per satu, saya menyalami Melly Tri Yenny khusus untuk mengucapkan belasungkawa (suaminya meninggal beberapa waktu sebelumnya).

Saya mengambil duduk di sisi dalam, bareng-bareng sama sahabat laki-laki yang lain, di sana juga ada Yan Zen, Yond Rizal, Satya Widya Ditya, Rionaldy, serta Ermasdi Ajo.

sekitar 19:00

Syafri Iskandar alias Cecep datang, dan setelah menyalami kami satu per satu, Cecep bergabung bersama kami, dan duduk persis di sebelah saya. Saya ingat persis, Cecep duduk si antara saya dan Rionaldy. Kita semua bercanda seperti biasa, senda gurau, sambil mengulang-ngulang cerita lama.

Tak lama kemudian, kami semua makan. Ketika sedang makan, datang Edo Edrian, lalu menyusul Delfi Azraaf. Selesai makan, biasalah, senda gurau pun berlanjut, bahkan tambah seru. Cecep bahkan beberapa kali melontarkan gurauan, terutama tentang profesi Edo sebagai pilot.


Sesaat sebelum Cecep anfal malam itu. Dari kiri : Edo, Cecep, Rio, dan Widya.

sekitar 20:00

Saat itu Uda Poer (Sampoerna Bahri), Ketua Ikatan Alumni SMA 2 Padang di Jabotabek sedang menyampaikan beberapa gagasan, dan sambil mendengarkan, kami memesan kopi. Tak lama kemudian, belum sempat kopi pesanan datang, saya lihat tiba-tiba Cecep tersandar di tempat duduknya (persis di sebelah saya), badannya terlihat kejang-kejang, dan dia mengeluarkan suara seperti orang ngorok berat, dan matanya terlihat hanya putihnya. Saya berteriak memanggil Effa Yuliastry (teman kita yang kebetulan dokter), dan saya lihat Effa langsung memeriksa denyut nadi Cecep.

Dengan cepat diputuskan untuk membawa Cecep ke rumah sakit terdekat. Cecep segera digotong ramai-ramai menuju mobilnya si Wid “Amoy” (ada sopirnya). Segera Cecep dibawa, ditemani oleh Effa, Yan Zen, dan satya Widya. Juga mengikuti ke rumah sakit Edo Edrian dan Delfi Azraaf.

Keluarga Cecep harus diberi tahu, tapi bagaimana caranya ? Tidak ada yang tahu no telepon rumah Cecep, apalagi no hp isterinya. Saya ingat, sewaktu Cecep anfal tadi, dompetnya terjatuh dan saya simpan. Nah, pasti ada yang bisa dijadikan petunjuk di sana.

Ternyata yang bisa dijadikan petunjuk hanya KTP, serta kartu-kartu nama. Ada kartu nama Cecep dan no telepon kantornya. Maka dimulailah kegiatan telepon-menelepon, dilakukan beberapa teman, antara lain Mastrialdi, Rionaldy, Dahrina, Yond Rizal, Wid “Amoy”, dan juga teman-teman lain … and somehow, setelah beberapa lama, akhirnya berhasil mengontak isteri Cecep.

Rupanya Cecep dibawa ke RSAL Mintohardjo di Bendungan Hilir, dan setelah memastikan isteri Cecep juga sedang menuju ke sana, maka kami semua bertolak menuju RSAL Mintohardjo.

sekitar 21:30

Kami sampai di RSAL Mintohardjo dan bergabung bersama teman-teman yang lain di sana. Saya lihat Effa masih menemani Cecep dan saya lihat Cecep ada di UGD, sudah diberi oksigen dan ada infus, dan menurut Effa isinya obat. Saya tidak tahu itu obat apa. Yan Zen dan Delfi Azraaf sudah berinisiatif mengurus semua masalah administrasi, tetapi untuk keputusan penting, kami mesti menunggu isteri Cecep.

sekitar 22:00

Isteri Cecep, namanya Dina, sampai ke RSAL Mintohardjo, ditemani kerabatnya yang lain. Akhirnya kami pun menjelaskan apa yang terjadi kepada Dina. Kami juga mengetahui dari Dina bahwa Cecep memang punya riwayat jantung, dan penyakit lainnya.

Suprise! .. Cecep sempat agak sadar, dan duduk, walaupun terlihat tidak sadarkan penuh, tetapi kami semua sempat gembira melihat kondisinya. Rasa optimis pun menghinggapi kami semua.

sekitar 22:30

Akhirnya, setelah menyerahkan Cecep sepenuhnya kembali kepada keluarga, bahkan Edo Edrian dan Adriansyah Asenx mengambil mobil Cecep yang masih ada di Resto Pulau Dua untuk diserahkan ke Dina, kami pun pamit kepada keluarga Cecep, dengan harapan dan optimisme karena melihat kondisi Cecep yang terlihat agak membaik.

sekitar jam 23:30

Saya dan Iid sampai di rumah kami.

SABTU, 9 JAN 2010

Paginya, harusnya saya ke kampus IPB, tetapi karena badan agak kurang fit, saya putuskan untuk istirahat saja di rumah, sambil baca-baca. saya buka FB, rupanya Iid sudah upload foto-foto acara semalam, termasuk sewaktu kami di RSAL Mintohardjo.

Sekitar jam 15:00 saya mendapat telepon dari Thia yang mengabarkan Cecep sudah berpulang … inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun …

MINGGU, 10 JANUARI 2010

Sekitar jam 11 siang, Cecep dimakamkan di TPU Pondok Rangoon Cibubur Jakarta, dan kami pun menghantarkan sahabat kami menuju tempat peristirahatan terakhir … selamat jalan Cep ..

Leave a Reply


January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
My Twitter Update
FIND ME ON :