(Diskusi mengenai tulisan ini juga bisa dibaca di ngerumpi.com serta politikana.com).
Sewaktu terjadi gempa di kampung halaman saya, di kota Padang dan sekitarnya, di sela-sela waktu melakukan banyak hal, saya menelusuri berbagai ragam komentar dan ulasan yang diberikan banyak orang mengenai bencana ini di berbagai situs di internet.
Ada yang menyatakan keprihatinan mendalam, ada yang menganalisis ini adalah teguran dan bahkan mungkin azab Tuhan, ada yang menggalang solidaritas dan membuka penyaluran bantuan, ada yang menganalisis secara ilmiah, dan tidak ketinggalan pula ada yang membuat bencana ini menjadi bahan candaan atau lelucon.
Buat saya … speechless … saya tidak bisa menuliskan apa yang saya saksikan. Walaupun saya masih bisa bersyukur kepada Yang Maha Kuasa di mana kedua orang tua saya selamat, dan keluarga besar yang lain juga masih diselamatkan oleh Allah … tetapi rasa keprihatinan dan gejolak emosi kesedihan berkecamuk di dalam batin saya.
Satu per satu, tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari hidup saya di kota Padang ternyata sudah hancur. Hotel Ambacang yang persis berada di depan SMP tempat saya sekolah juga sudah runtuh. Begitu juga dengan tempat-tempat lain. Ini belumlah seberapa jika dibandingkan dengan 5 desa yang hilang dari peta bumi karena tertimbun longsor di Pariaman.
Kembali ke judul tulisan ini … bagaimanakah manusia memberi komentar terhadap bencana? … Dugaan saya, komentar tersebut sangat dipengaruhi oleh sejauh mana bencana ini berkaitan dengan diri mereka.
Bagi yang tidak ada sangkut-pautnya dengan lokasi bencana dan memiliki rasa empati yang kecil, tentu saja dengan ringan dan enteng bisa mengeluarkan komentar apapun, bahkan termasuk lelucon dan candaan. Atau mungkin juga dengan mudah menghakimi masyarakat yang terkena gempa memang pantas dihukum Yang Maha Kuasa karena memang sudah sedemikian bersalahnya .. hanya itu, habis itu, ya sudah selesai ..
Bagi yang punya empati, tentu akan menyatakan keprihatinan yang mendalam, ungkapan berduka. Mereka yang dikaruniai pengetahuan yang lebih oleh Tuhan akan menganalisis secara ilmiah masalah gempa ini, dan ikut memikirkan bagaimana supaya korban bisa minimal jika bencana sejenis terjadi di wilayah lain di muka bumi ini.
Mereka yang punya kemampuan, ikut menggalang solidaritas dan memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki ..
Memang, apapun komentar kita dan sikap kita, sangat tergantung kepada seberapa jauh ikatan emosional kita dengan lokasi atau obyek yang berada di wilayah bencana serta derajat kemampuan berempati. Dengan demikian, tidaklah mengherankan akan muncul berbagai komentar dan sikap yang beragam …
Buat saya pribadi, yang memiliki ikatan emosional langsung dengan lokasi dan obyek di wilayah bencana, hal ini sangat mengaduk-aduk emosi dan ruang pikiran saya …
Saya sangat memahami bagaimana perasaan saudara-saudara saya yang terkena bencana (di Sumatera Barat, di Jawa Barat, dulu di Aceh, dsb), saya juga memahami bagaimana rasanya diberi komentar yang menyakitkan oleh mereka yang jauh dari rasa empati, apalagi simpati …



October 12th, 2009 5:17 am
SETUJU dengan statement bapak, bahwa komentar dan sikap kita berkaitan dengan ikatan emosional langsung dengan lokasi dan obyek di wilayah bencana.
Saya sendiri, dengan malu mengakui, setelah berteman dekat dengan teman yang dari Padang (Uda Ikrar), baru bisa merasakan “kepedihan”. Buntutnya, jadi sangat bersemangat dalam mengumpulkan bantuan buat dikirim ke Padang.
Sedangkan saat terjadi bencana tsunami di Aceh … ga merasa “pedih” seperti sekarang ini.