Secara teoritis saya sangat paham bahwa tingkat keamanan (security) selalu berbanding terbalik dengan kenyamanan (comfortability). Artinya begini, semakin tinggi tingkat keamanan yang mau diterapkan di suatu tempat, maka semakin rendah tingkat kenyamanan di tempat tersebut. Contohnya, demi tingkat keamanan yang tinggi, maka setiap kali kita masuk mall besar atau hotel berbintang di Jakarta, kita selalu harus melewati pemeriksaan berlapis, bahkan tas dan bawaan kita juga diperiksa dengan rinci. Tentu rasanya tidak nyaman, tetapi itu adalah suatu cost yang harus dibayarkan demi tingkat keamanan yang tinggi.

Seminggu yang lalu saya menghadiri acara 2009 Asia Pacific Palladium Summit bertempat di Hotel Mulia di Jakarta. Saya tahu bahwa hotel ini termasuk yang menerapkan standar keamanan yang tinggi. Pemeriksaan pun sangat ketat menjelang masuk ke hotel. Ini tentu dapat dimaklumi, dan malahan perlu diberi pujian.

Hanya saja, saya lupa, di ruangan mana persisnya acara 2000 Asia Pacific Palladium Summit itu diselenggarakan. Maka saya mencoba untuk mencari petunjuk acara harian di lobby hotel, dan ternyata tidak ada. Kemudian, saya mencoba bertanya kepada seorang petugas pembuka pintu, dan dia menjawab. “Tidak tahu, Pak” …. Nah lho …

Lalu saya coba bertanya kepada petugas yang lain yang sedang lewat di lobby hotel, dia menjawab, “Apakah Bapak membawa undangan untuk acara tersebut? Bapak bisa lihat di undangan mengenai lokasi acara” … Nah, masalahnya saya tidak membawa undangan, dan saya benar-benar lupa di mana acara dilaksanakan, apakah di ballroom atau ruangan lainnya … Setelah saya jelaskan, si petugas menjawab, “Maaf Pak, saya tidak bisa memberi tahu Bapak di mana ruangan acara tersebut, karena begitu aturannya“, … lalu saya dipersilakan menuju ke petugas concierge, siapa tahu petugas concierge bisa membantu saya …

Saya pergi ke meja concierge … dan saya ulangi kembali pertanyaan saya … dan lagi-lagi saya mendapatkan jawaban yang sama … petugas concierge tidak bisa memberitahu saya ruangan lokasi acara, dan saya dipersilakan melihat di undangan acara … bahkan setelah saya jelaskan bahwa undangan saya tertinggal, si petugas concierge juga tidak mau tahu …

Kemudian, dengan mulai emosi karena sudah hampir terlambat, saya jelaskan ke petugas concierge, siapa yang bisa membantu saya menunjukkan ruangan lokasi acara 2009 Asia Pacific Palladium Summit, kalau perlu saya temui GM hotel ini deh … Akhirnya, si petugas concierge mau juga menunjukkan ruangan tempat acara tersebut diselenggarakan.

Sekali lagi, memang secara teoritis tingkat keamanan berbanding terbalik dengan kenyamanan. Penerapan tingkat keamanan yang tinggi akan mengakibatkan tingkat kenyamanan akan turun … Tetapi pertanyaannya, apakah perlu sekaku itu kepada tamu hotel dengan alasan tingkat keamanan?

Belakangan saya tahu, ternyata ada beberapa peserta yang mengalami kejadian yang sama dengan saya … So, kalau pergi ke acara-acara di hotel berbintang sekarang, jangan lupa bawa undangan, karena kalau anda lupa, siap-siap untuk kecewa karena anda tidak akan dilayani …

5 Responses to “KEAMANAN VS KENYAMANAN”

  • Aditya Djati SP:

    Keamanan dan kenyamanan fasilitas umum menurut saya seperti keamanan dan kenyamanan di dunia IT pak, jika sistem dibuat seaman mungkin untuk mengindari ancaman dari luar dan dalam, semakin aman sebuah sistem maka semakin mengeluh pula usernya.

    Kesimpulannya diperlukannya saling pengertian antara petugas keamanan/pembuat sistem dengan pengunjung/user, karena keamanan yang ketat ditujukan untuk menjaga keamanan para pengunjung juga…, namun untuk fleksibilitasnya sepertinya perlu perlu sedikit dikendurkan, karena siapapun yang menemui masalah seperti anda akan mengalami situasi yang penuh dengan gejolak emosi dan kebingungan pak.

    Semoga ini tidak terjadi pada teman-teman yang lain…., semoga kita tidak lupa untuk membawa undangan sebagai tiket masuk untuk acara-acara di tempat dengan standarisasi keamanan yang cukup ketat.

  • Bintang:

    Setuju Pak. Memang kalau mau dijalankan secara saklek, antara keamanan dan kenyamanan akan selalu berbanding terbalik. Salah satu solusinya ya mencari kompromi di antara keduanya. Seperti pelajaran Bapak, mengenai pengertian masalah, yaitu tidak ada kesesuaian antara Kenyataan dan keingina, yang untuk mengatasinya dilakukan kompromi di antara keduanya. Nah untuk keamanan dan kenyamanan yang perlu kita ajak kompromi adalah personnya, dengan selalu mengajak dan menyebarkan benih “Sense of Security”.

    Sebagai Info, saya murid Bapak di Deplu, pak. Ini alamat saya http://kawuloalitox.wordpress.com kalo ada waktu, kunjungi ya pak. Trims.

  • yustika utama:

    Lupa undangan biasa…tapilupa bahwa keamanan dibayar ketidak nyaman kita kelihatan luarbisa mengesalkan…standarisasi keamanan OK… walaupun udangan jadi tiket masuk …tapi kita sebelumnya *harus tau jalan keluarnya* kalau ada/timbul kejadian seperti itu….!!!terkadang dari penampilan seseorang menyakinkan Petugas Hotel tsb…Kita ikut acara tanpa undanganpun banyak bisa lolos….kalau tempat/ruang…termasuk tema acara yg akan diikuti….kesimpulannya petugas securiry ternyata akan terkecoh juga dengan penampilan/ gaya dari seseorang…dengan pengakuan yg meyakinkan .. petugas Hehehe
    pengalaman pribadi dihotel mulia..

  • Emanuel Setio Dewo:

    Wah lupa ya?
    Tapi ingat kuncinya kan?

    *nyanyi lagunya kuburan*

  • riwanlky:

    Memang menjengkelkan. Tetapi keamanan itu penting juga untuk kita semua. Bayangkan bom Marriot dan Ritz Carlton, karena petugas percaya pada perangkai bunga, sehingga tidak memeriksanya. Bayangkan kalau keluarga, teman, kita yang kena bom. Jadi saya setuju kenyamanan berkurang, tetapi aman.

Leave a Reply