Ternyata benar local wisdom para leluhur kita di nusantara ini, kalau sukses janganlah menyombongkan diri, karena itulah pangkal malapetaka … Setidaknya itulah hasil riset empiris yang dilakukan beberapa tahun terakhir oleh Jim Collins seperti yang diuraikan dalam bukunya yang terbaru (terbit 19 Mei 2009 yang lalu), “How the Mighty Fall”. Ini adalah buku ketiga Jim Collins, setelah 2 buku sebelumnya yang juga menjadi best seller, yaitu “Built to Last (1994)” serta “Good to Great (2001)”.

Oh ya, Jim Collins baru menulis 3 buku, tetapi ketiga buku tersebut adalah hasil riset tahunan dengan data empiris yang luar biasa lengkap. Bisa dikatakan, ketiga buku Jim Collins ini bukanlah buku asal-asalan, atau buku yang dibombastiskan. Riset selama 6 tahun untuk satu buku adalah sesuatu yang membutuhkan ketekunan, persistensi, komitmen, kesabaran, serta dedikasi yang tinggi. Tanpa dibombastiskan, the book speaks itself!

Nama Jim Collins pun menjadi suatu jaminan mutu untuk sebuah tulisan, baik buku ataupun artikel. Hebatnya, dia membagikan artikel-artikelnya secara gratis lewat internet di sini.

Okey, back to the book .. Hasil riset Jim Collins menunjukkan adanya kesamaan pola dari para perusahaan raksasa yang pernah sukses, tetapi berikutnya tumbang. Dia menguraikan pola itu dalam 5 tahap kehidupan perusahaan menjelang kejatuhan.

Apa yang menarik? Ternyata 3 tahap awal sama sekali tidak menunjukkan aura kejatuhan, melainkan penuh dengan aura kesuksesan. Tetapi rupanya ada suatu bahaya yang perlahan-lahan menghampiri dan dia akan mencekik perusahaan itu pada tahap ke-4 dan membunuhnya pada tahap ke-5! … and the mighty fall!

Ringkasan 5 tahap di atas adalah sebagai berikut (saya ambil dari MarketWatch) :

Stage 1 is hubris born of success. The company’s people become arrogant, regarding success as virtually an entitlement.

Stage 2 is the undisciplined pursuit of more — more scale, more growth, more acclaim. Companies stray from the disciplined creativity that led them to greatness in the first place, making undisciplined leaps into areas where they cannot be great or growing faster than they can achieve with excellence, or both.

Stage 3 is denial of risk and peril. Leaders of the company discount negative data, amplify positive data and put a positive spin on ambiguous data. Those in power start to blame external factors for setbacks rather than accept responsibility.

Stage 4 is grasping for salvation. Common “saviors” include a charismatic visionary leader, a bold but untested strategy, a radical transformation, a “game changing” acquisition or any number of other silver-bullet solutions.

Stage 5 is capitulation to irrelevance or death. Accumulative setbacks and expensive false starts erode financial strength and individual spirits to such an extent that leaders abandon all hope of building a great future. In some cases their leaders just sell out. In other cases the institution atrophies to utter insignificance.

Resensi mengenai buku tersebut dapat dilihat di BusinessWeek, sekaligus tempat gambar 5 tahap Jim Collins di atas saya ambil, juga di MarketWatch, HarvardBusiness.org, CEO Blog (Jim Estill), dan yang menarik di Lefsetz (karena ini sebenarnya media musik), serta ChinaPost.

Pelajaran yang kita petik adalah, tetaplah rendah hati walaupun kesuksesan sudah kita peroleh. Jangan-jangan kesuksesan itu adalah sebuah cobaan juga. Seperti kata wisdom leluhur kita yang lain, bagaikan padi, semakin berisi, semakin merunduk …

2 Responses to “MENGAPA RAKSASA BERTUMBANGAN?”

Leave a Reply


July 2009
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
My Twitter Update
FIND ME ON :