Archive for July, 2009
Innovation is the key of business success! Ungkapan ini sudah sering kita dengar, baik dari para praktisi bisnis di lapangan, maupun di berbagai buku teks teori manajemen. Tetapi sayang, kelihatannya itulah yang gagal dilakukan oleh Friendster, walaupun sudah mencanangkan mau membuat pusat inovasinya di Asia Tenggara setahun yang lalu (lihat posting saya tentang hal itu di sini). Bahkan merekrut Richard Kimber, mantan petinggi Google di Asia Tenggara sebagai CEO Friendster tidak banyak menolong.
Friendster memang sempat mengalami masa kejayaannya di Asia Tenggara, bahkan sekarang mungkin masih besar. Tetapi sebuah sinyal kekalahan melawan Facebook sudah mulai terlihat. Kondisi ini mirip dengan kisah Yahoo dan Google, di mana pemain yang duluan muncul ke pasar akhirnya menyerah dengan pendatang baru, karena sang pendatang baru ini jauh lebih inovatif.
Akhirnya, Friendster akan dijual seperti yang ditulis oleh Washington Post :
Friendster, the long-time U.S. social network which now has its biggest presence in Southeast Asia, has reportedly put itself up for sale there … Friendster has expanded aggressively in Southeast Asia recently. The company raised $20 million in a round last August, which it said it would use in part to further build up its presence there, where 75 percent of its registered users now live. It’s the top social network in the Philippines, Indonesia, Malaysia, and Singapore … But it also faces renewed competition in those countries from the same social networks-including Facebook-that displaced its early lead in the United States …
AI adalah suatu metode penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan sisi kekuatan dari suatu organisasi atau komunitas sosial, untuk menyusun suatu kebijakan menuju masa depan.
Dengan demikian, AI itu adalah suatu metode riset yang sifatnya futuristik, dipergunakan untuk menyusun langkah-langkah atau pemodelan masa depan, yang umumnya dilakukan dengan pendekatan kualitatif, dengan cara mengeksploitasi kekuatan atau kelebihan yang dimiliki oleh organisasi atau komunitas sosial tersebut.
Watkins dan Mohr (2001) mendefinisikan AI sebagai berikut :
“Collaborative and highly participative, system-wide approach to seeking, identifying, and enhancing the “life-giving forces” that are present when a system is performing optimally in human, economic, and organizational terms. It is a journey during which profound knowledge of a human system at its moments of wonder is uncovered and use to con-construct the best and highest future of that system.
The term “appreciative” comes from the idea that when something increase when claue it “appreciates”. Therefore, AI focuses on the generative and life-giving forces in the system, the things we want to increase. By “inquiry” we mean the process of seeking to understand through asking questions”.
(lanjutan posting yang ini)
Bonding capital is good for under-girding specific reciprocity and mobilizing solidarity… Bridging networks, by contrast, are better for linkage to external assets and for information diffusion…. Moreover, bridging social capital can generate broader identities and reciprocity, whereas bonding social capital bolsters our narrower selves …. (Robert Putnam).
Bonding social capital: suatu modal sosial yang sifatnya ekslusif pada satu kelompok masyarakat tertentu. Kelompok masyarakat ini sebenarnya memiliki modal sosial yang besar, tetapi sangat ekslusif, atau sangat fanatik, sehingga pihak yang berbeda pemikiran tidak bisa bergabung dengan kelompok masyarakat ini. Jika dianalisis dengan menggunakan dua dari unsur-unsur penunjang modal yaitu acceptance dan diversity, maka tentu saja ada yang pincang pada modal sosial kelompok masyarakat ini. Pada akhirnya, modal sosial yang terbentuk bisa jadi akan memberikan manfaat besar kepada anggota kelompok sosialnya, tetapi tidak akan memberikan manfaat untuk masyarakat yang lebih luas, bahkan bisa jadi merusak untuk masyarakat yang lebih luas. Jika dibawa kepada modal sosial pada masyarakat komunitas internet, maka ini adalah suatu jaringan sosial berbasis internet yang sifatnya ekslusif dengan persyaratan keanggotaan yang ketat.
Bridging social capital: suatu modal sosial yang sifatnya lebih terbuka terhadap dunia luar pada satu kelompok masyarakat tertentu. Pada kategori ini ada dua kemungkinan. Pertama, kelompok sosial masyarakat itu tetap ekslusif dalam hal keanggotaan, tetapi mampu menerima perbedaan dan keragaman, terutama dari sisi pemikiran, opini, dan paradigma. Kedua, kelompok sosial masyarakat ini sifatnya terbuka untuk siapa saja yang berminat, dan tentu saja perbedaan dan keragaman sangat dihargai. Masyarakat komunitas berbasis internet saat ini sudah banyak mengarah ke kategori ini, dipelopori oleh aplikasi jaringan sosial seperti Twitter, Facebook, Friendster, Wordpress, Plurk, serta MySpace. Hasil penelitian Ferlander (2003) pun menunjukkan bahwa internet cenderung membawa masyarakat membentuk bridging social capital.


