Komentar saya mengenai C-League, yaitu eksekutif yang menempati top-level, di majalah SWA No. 11/XXV/20 Mei - 10 Juni 2009, halaman 54 - 56. Terima kasih untuk Mbak Tutut Handayani dari majalah SWA. Tulisan asli dan lengkap bisa dibaca di sini.
Lalu, bagaimana saran konsultan agar masuk dalam jajaran C-League? Riri Satria, Consulting Director People Performance Consulting Indonesia, memberi masukan, pertama, eksekutif harus memiliki sesuatu yang dia tawarkan untuk menyelesaikan persoalan yang ada di perusahaan yang dimasukinya atau strategi untuk membawa perusahaan tersebut menjadi lebih baik, dengan menjelaskan secara stratejik-normatif dan teknis-operasional. Sampaikanlah dengan jelas dan lugas, dan tentu harus menguasai bidang usaha perusahaan yang akan mereka pimpin. Ini menunjukkan kepada head hunter bahwa “you are really someone that fit for this job“.
Kedua, eksekutif harus memahami karakteristik penggajian di sektor industri tersebut. Ini penting, supaya si eksekutif juga tidak over-expectation dengan remunerasi nantinya. “Kecuali jika anda memang punya sesuatu yang sangat luar biasa, tidak ada salahnya untuk menembus batas karakteristik remunerasi di sektor industri tersebut,” ujar Riri.
Menurutnya, sudah tidak zamannya eksekutif hanya memahami satu bidang tertentu (sangat spesialis), atau tidak mampu berpikir holistik. Yang begini lebih baik jadi expert saja. Atau generalis sekalian. Tahu banyak, tetapi tidak mendalam, tidak paham teknis-operasionalnya, ini akan menjadi orang yang sangat normatif, “tidak membumi”, bahkan ada yang hanya job oriented, tetapi kurang people oriented. Keduanya tidak lagi dipertentangkan, melainkan saling melengkapi.Nah, di sini eksekutif harus mampu memahami sektor industri serta bagaimana kondisi perusahaan yang ditawarkan kepadanya untuk dimpimpin. Dengan memahami sektor industri, maka si eksekutif akan memahami karakteristik industri: kondisi pertumbuhan, pola kompetisinya, prospek, karakteristik remunerasi, karateristik SDM, dsb. Ini penting untuk mengukur diri, apakah fit dengan karakteristik sektor industri tersebut.
Di samping itu, eksekutif masa depan adalah yang sifatnya kombinasi antara wawasan yang generalis dengan keahlian yang spesialis. Apalagi dalam situasi bisnis yang mengalami krisis seperti saat ini. Pada situasi krisis, eksekutif harus terjun sampai tataran teknis-operasional, tidak hanya pada tataran strategis-normatif semata. Hal ini menuntut eksekutif memahami aspek teknis operasional di bidangnya, tidak hanya bersifat umum. Di sisi lain, dia juga harus memiliki wawasan yang generalis, artinya dia juga memiliki wawasan mengenai bidang yang di luar penugasannya, tetapi sangat relevan untuk kebutuhan bisnis perusahaan.
Tak lupa, yang juga dituntut untuk dimiliki oleh eksekutif akhir-akhir ini, yaitu kemampuan untuk membaca peta kekuatan di dalam organisasi. Suka tidak suka, di dalam setiap organisasi ada benturan kepentingan, blok-blok kekuatan, yang sering disebut dengan istilah politik kantor (office politics). “Nah, eksekutif juga harus memahami dan mampu membuat peta office politics ini supaya dia bisa memainkan berbagai variabel di dalam organsiasi untuk mencapai tujuan bersama,” kata Riri.
Terakhir, tentu citra diri dan personal branding. Seorang eksekutif yang memiliki itu semua akan jadi incaran head hunter. Namun hati-hati, personal branding yang berlebihan bisa menjadi back-fire, yang justru akan merugikan sehingga kandas dari jajaran C-League.



June 6th, 2009 3:24 pm
harusnya di pemerintahan para C levelnya bisa berpikir seperti ini.
….
bakalan nyaman orang2 pada kerja