Tadi siang saya diundang oleh sahabat saya, Dr. Yond Rizal, untuk memberikan presentasi singkat di kantornya, Kantor Pelayanan Pajak Gambir IV Jakarta. Yond, begitu saya memanggilnya, adalah sahabat saya sejak SMA di Padang dulu, dan sekarang menjabat sebagai Kepala KPP Gambir IV Jakarta . Saya memilih topik personal scorecard, yaitu suatu bentuk penerapan balanced scorecard untuk diri individu, untuk membangun strategy maps diri individu.

Prinsipnya sama dengan konsep balanced scorecard yang kita kenal. Ada strategy maps, key performance indicator, target, serta strategic initiatives. Hanya saja pendekatannya saya modifikasi sedikit, sehinggalebih bersifat individu, tidak organisasi (lihat bagan pada slide).

Setiap manusia pasti punya tujuan dan cita-cita hidup. Tujuan dan cita-cita hidup itu dibentuk oleh sukses finansial dan sukses sosial serta spiritual. Setiap manusia punya cita-cita hidup yang berbeda. Ada yang cenderung ke finansial, ada yang cenderung ke sosial, ada yang cenderung ke spiritual. Apapun tujuan hidup ini, yang penting kita sanggup memformulasikannya. Apa sih yang ingin dicapai dalam hidup ini ?

Ada yang bertanya, mengapa saya menempatkan sukses sosial dan spiritual setelah sukses finansial? Logikanya begini. Kita tentu akan susah diminta untuk menjadi pengurus RT/RW (aktivitas sosial) kalau seandainya nafkah untuk keluarga masih dirasa kurang. Begitu juga dengan spiritual. Kita tentu bisa menjalankan ibadah dengan baik, kalau kita punya nafkah yang cukup. Tuhan pun melarang hamba-Nya menjadi miskin.

Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah, definisi sukses finansial ini tentu berbeda untuk setiap orang, dan tidak bisa disamakan. Ada yang sudah merasa sukses finansial walaupun hidup sederhana. Sementara ada pula orang lain, sudah kaya, tetapi masih merasa kekurangan. Ya, silakan definisikan sendirilah makna sukses itu, sesuai dengan filosofi hidup kita masing-masing. Sukses finansial tidak selalu berarti kaya raya lho. Jadi mohon tidak disalahpahami.

Kita akan mencapai sukses finansial, apabila kita dikenal oleh orang (yang berpotensi menggunakan jasa keahlian kita, baik sebagai karyawan, maupun sebagai wirausaha), sehingga citra baik sebagai orang yang ahli di bidang tertentu itu diperlukan. Banyak orang yang ahli, tetapi tidak dikenal oleh orang. Jadinya ya, tenggelam begitu saja. Jadi, kita memang perlu sukses pencitraan. Ini bukan dalam konotasi negatif lho. Melainkan bagaimana karya-karya kita dikenal sehingga kita mampu memberikan jasa atau menjual sesuatu kepada orang lain dengan baik.

Sukses pencitraan akan diperoleh apabila kita mampu bekerja dengan baik ataua profesional dalam bidang kita masing-masing. Dengan bekerja secara profesional, dengan keahlian yang tinggi, maka kita akan mendapatkan sukses profesi.

Nah, awal dari semua ini, mirip dengan perspektif Learn and Growth, maka yang membentuk semuanya adalah sukses kompetensi. Kita tentu harus memiliki suatu kompetensi tertentu, atau kombinasi kompetensi, untuk mencapai sukses profesi. Sukses kompetensi ini bida diperoleh melalui sekolah, kursus, pengalaman, serta bakat. Saya mencontohkan, mengapa saya perlu bersusah-payah sekolah S3 manajemen bisnis di IPB? Sudahlah membutuhkan banyak waktu, mahal biayanya, bayar sendiri lagi. Ya, apa lagi, kalau bukan karena saya punya strategy maps sendiri dalam hidup saya, dan kuliah tersebut adalah salah satu strategic initiative-nya.

Tinggal sekarang, bagaimana kita membentuk suatu keselarasan atau alignment antara semua sukses tersebut, dijabarkan melalui sebuah jadwal / waktu, menentukan key performance indicators dan target, serta strategic initiatives atau action plan yang perlu kita lakukan dalam hidup …

Selamat mencoba sahabat semua … salam sukses selalu ..

8 Responses to “PERSONAL SCORECARD”

  • Ahmad Furqan:

    Good Read Sir

  • Jack Alenzo:

    Ulasan yang sangat menarik….

  • Chandra:

    Terimakasih atas uraiannya.

    Sebagian orang memang memiliki kesulitan untuk mengidentifikasi apa kelebihan atau kekurangannya, meskipun sebenarnya dia punya kelebihan yang tidak disadarinya karena tidak terekspos.
    Tanpa sadar dia akan berfikir “apa sih tujuan hidup saya?”.. sehingga muaranya kepada kalimat “hidup kaya raya mati masuk surga”.. tanpa ada tujuan karir yang jelas hanya menjalani apa yang ada dihadapannya. Atau sebenarnya dia punya tujuan yang sulit untuk dijelaskan secara verbal karena ragu akan tujuannya sendiri.

  • Dadung:

    Mantab bos … sebuah tulisan yg penuh dg motivasi. thank you bos pencerahannya.

  • agung:

    senang baca artikelnya pak, sayang saya gk bisa ikutin acar presentasinya. artikel ini juga di postind di Portal Intranet KPP Jakarta Gambir Empat

  • Ronald Manuel:

    Hi Pak,,

    Tulisan yang sangat menarik.

    Bolehkah saya dapat gambaran yang lebih lengkap mengenai steps dari Personal Scorecard ini?

  • emmy:

    Ass.wr.wb…

    Terima kasih ulasannya pak Riri…..

    Wass.wr.wb

  • HARRYSON BANGUN:

    Saya pernah jumpa Pak Riri ,topik personal scorecard untuk individu sangat bagus sesuai dengan perubahan di Pelindo I tolong bantu terus Pelindo Pak biar on the track dapatkah personal score card dikembangkan untuk keluarga SAYA MAU COBA MODIFIKASI ? Terima Kasih , salam MERDEKA Harryson 08126007784

Leave a Reply


June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
My Twitter Update
FIND ME ON :