(Tulisan menyambut Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2009).
Ada sebuah buku yang ditulis oleh Robert Kiyosaki yang menurut saya layak untuk diperhatikan, karena memang kontroversial, judulnya “If You Want to be Rich and Happy, Don’t Go to School”. Ada kata-kata school atau sekolah pada judul buku tersebut, dan ditempatkan dalam suatu makna yang negatif. Ada 2 (dua) hal yang menjadi perhatian saya di sini, yaitu (1) sekolah itu sendiri, serta (2) persepsi tentang sekolah. Berbicara tentang sekolah, tentu kita tidak bisa memisahkannya dalam suatu sistem besar, yaitu pendidikan.
Dalam filsafat, tepatnya filsafat ilmu pengetahuan, maka setidaknya kita mengenal 3 (tiga) istilah, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Secara definisi sederhana, ontologi adalah ilmu pengetahuan apa atau what, lalu epistemologi berbicara mengenai dari mana mendapatkan ilmu pengetahuan atau metodologi, sifatnya proses penalaran. Terakhir, aksiologi membahas untuk apa ilmu pengetahuan itu dipergunakan atau what for. Aksiologi inilah yang akan menjadi fokus perhatian saya pada catatan ringkas ini.
Apakah gunanya sekolah? apakah gunanya pendidikan secara umum? Mari kita mulai dengan isu persepsi tentang sekolah. Apakah sekolah itu harus mampu membuat orang jadi kaya? Kalau definisi kaya kita itu adalah kaya material atau harta, memang mungkin tidak perlu sekolah. Kalau sekedar kaya dan punya harta, jadi maling pun bisa kaya, atau jadi penipu, serta mengerjakan pekerjaan yang tidak halal lainnya pun bisa kaya. Dalih apapun bisa dibuat untuk melegitimasinya. Jadi, memang kalau hidupnya mau sekedar kaya harta doang, ya gak perlu sekolah lah.
Sekolah sejatinya memiliki tujuan yang jauh lebih besar. Meminjam istilah Daniel Goleman, sekolah atau pendidikan pada lingkup yang lebih besar, harus mampu membentuk emotional intelligence, social intelligence, dan ecological intelligence, serta spiritual intelligence seperti yang disampaikan oleh Ian Marshall dan Danah Zohar. Dengan demikian, sekolah bisa membentuk orang menjadi sekedar mandiri atau kaya secara harta, tetapi juga memiliki karakter yang positif untuk kehidupan, baik untuk diri sendiri (emotional intelligence), kepada masyarakat (social intelligence), kepada alam dan lingkungan hidup (ecological intellgence), serta kepada Sang Pencipta, Yang Maha Kuasa (spiritual intelligence).
Kembali, ke filasafat ilmu pengetahuan, sekolah atau pendidikan harus mampu memberikan ilmu pengetahuan (ontologi), mempertajam penalaran (epistemologi), dan memberikan karakter positif kepada manusia agar memanfaatkan ilmunya agar bermanfaat (aksiologi), tidak hanya untuk dirinya, melainkan juga masyarakat dan alam atau lingkungan hidup. Jadi memang tidak sekedar menjadi kaya harta semata.
Seorang ahli keuangan yang handal, tetapi ternyata melakukan rekayasa keuangan sehingga merugikan banyak pihak, menunjukkan ketidakseimbangan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dia memiliki ontologi yang hebat (manajemen keuangan), epistemologi yang hebat (nalar dan analisis keuangan yang hebat), tetapi aksiologi yang rendah (digunakan untuk menipu orang banyak melalui rekayasa keuangan). Masalahnya, aksiologi lebih banyak dibentengi oleh etika, hati nurani, ketimbang hukum positif.
Dengan demikian, sekaligus menjawab isu yang satu lagi, yaitu sekolah itu sendiri, maka sekolah perlu atau pendidikan secara umum harus mampu menyeimbangkan aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi, dan tentu saja aksiologi yang membawa perbaikan terhadap kehidupan dan manfaat untuk manusia dan alam atau lingkungan hidup. Dari sisi ontologi ekonomi dan bisnis, maka aksiologi yang harus dibentuk adalah pemanfaatan untuk kewirausahaan, manajer, dan sebagainya, tetapi dalam koridor emotional intelligence, social intelligence, dan ecological intelligence, serta spiritual intelligence.
Sejatinya sekolah atau pendidikan harus mampu menyeimbangkan ketiga aspek tersebut … ontologi, epistemologi, dan aksiologi ….
Selamat Hari Pendidikan Nasional …



May 3rd, 2009 5:36 pm
mungkin ga boleh terlalu banyak pada sekolah sebagai satu-satunya lembaga yang mencetak manusia utuh….ada peran lingkungan, ada peran keluarga, media massa, dan tingkah laku elit politik yang juga menjadi bahan pendidikan putra-putri kita….sehingga tidak lagi akan berkata Don’t go to school….!
May 9th, 2009 3:46 pm
Wah, suatu ulasan yang menari dari Pak Riri.
terima kasih untuk tulisan ini Pak.
Saya sendiri, pernah berhadapan dengan suatu lingkungan kerja dimana pimpinannya berpikir seperti Kiyosaki. Akhirnya Pak, “kekacauan” yang terjadi dalam organisasi.
Saya memang sempat mengikuti beberapa seminar Kiyosaki, mengoleksi hampir semua buku-bukunya dan sering mengikuti siaran TV LIve dari Kiyosaki.
Dan yang menarik sebenarnya, dalam suatu wawancara, Kiyosaki sendiri mengatakan bahwa Dia tidak pernah mengatakan bahwa sekolah itu tidak penting atau tidak perlu. Dia hanya ingin memberikan wawasan kepada orang-orang (yang tidak bisa mengikuti pendidikan sekolah secara formal hingga jenjang pendidikan tinggi) bahwa kesuksesan dalam hidup tidak hanya melalui “jalur formil sekolah”. Malah Kiyosaki menyatakan kalo dia sendiri “sekolah” dari Ayah Kayanya secara informal.
Setelah banyak membaca buku2 yang direkomendasikan Pak Riri, saya menyadari, justru banyak penemuan2 baru dalam dunia Teknologi Informasi yang diciptakan oleh “orang-orang yang mengenyam jalur pendidikan formal”, misalnya Universitas.
Jadi, pendidikan - dimana terdapat proses learning - bisa ditempuh secara formal (melalui sekolah) ataupun non-formal (melalui pengalaman hidup)
May 26th, 2009 10:23 am
makasi banget pak atas tulisannya…kebetulan saya lagi nyari referensi buat skripsi saya…klo bisa siy diperbanyak pak ..tentang persepsi sekolah ini…hehehehe…
June 25th, 2009 10:20 am
bagus
November 17th, 2009 6:50 pm
wah… aku kok masih belon paham ya…
mang beda antara ontologi, epistimologi N aksiologi itu apaan ya…?
tolong bales neng emailQ ya..
matur nuwun….
————————-
silakan baca lebih detail di wikipedia :
http://en.wikipedia.org/wiki/Ontology
http://en.wikipedia.org/wiki/Epistemology
http://en.wikipedia.org/wiki/Axiology