Archive for May, 2009
Setelah membuat catatan ringan tentang strategic decision dan operational decision berupa lessons learned dari film Executive Decision, maka kali ini saya membuat hal sejenis untuk film Crimson Tide. Entah kenapa, film Crimson Tide tiba-tiba ada di RCTI barusan, jadi klop-lah.
Ini kisah di sebuah kapal selam nuklir AS, USS Alabama, yang diperintahkan oleh panglima tertinggi AL untuk meluncurkan peluru kendali berkepala nuklir untuk meng-counter rudal sejenis yang diluncurkan menuju wilayah AS dari instalasi nuklir Rusia yang direbut oleh pemberontak ultranasionalis Rusia. Perintah diterima oleh pimpinan kapal selam, lalu setelah diotentifikasi, ternyata valid dan otentik, dan itu berarti perintah harus dilaksanakan.
Menurut prosedur baku, peluncuran peluru kendali nuklir harus disetujui oleh 2 pihak, yaitu kapten kapal (CO / commanding officer) serta XO (executive officer). Jika kedua pihak ini setuju, maka kode eksekusi ada di tangan perwira senjata (WEPS / weapon officer). Hanya saja, menjelang peluncuran, USS Alabama terlibat pertempuran dengan kapal selam Rusia yang dikendalikan oleh para pemberontak, sehingga membuat mereka bermanuver di bawah laut, dan tentu saja saluran komunikasi putus. Sesaat menjelang komunikasi putus, mereka menerima perintah lanjutan dari panglima tertinggi AL tentang peluncuran peluru kendali nuklir tersebut, tetapi transmisi pesan terputus, sehingga tidak diketahui maksudnya.
Sementara persiapan peluncuran rudal nuklir sudah dimulai, tetapi mereka tidak bisa menkonfirmasi ulang perintah yang terakhir karena terlibat pertempuran di bawah laut, dan akibat pertempuran, USS Alabama mengalami kerusakan, termasuk saluran komunikasi. Read the rest of this entry »
Anda sudah pernah nonton film Executive Decision? Sebuh film lama yang diproduksi tahun 1996, dibintangi oleh Steven Seagal, Kurt Russel, dan Halle Barry? Apa yang menarik dari film ini selain peran minor dari Steven Seagal? (jujur saja, baru ini film di mana tokoh yang diperankan oleh Steven Seagal gagal dan tewas di awal-awal film).
Jika dipotret dari dunia manajemen, maka film ini menggambarkan bagaimana ada 2 (dua) jenis keputusan yang harus dibuat untuk mencapai sasaran dengan sukses. Pertama, strategic decision (atau executive decision) yang harus dibuat oleh para petinggi militer di Pentagon, dan kedua operational decision yang harus dibuat oleh pasukan pembebas pembajakan pesawat.
Alkisah, sebuah pesawat B-747 dibajak dalam perjalanan menuju AS, dan pembajak menaruh bom di dalam pesawat. Mereka mengancam akan meledekkan bom tsb di atas wilayah AS sehingga akan menimbulkan korban, tidak hanya yang di dalam pesawat, tetapi juga di kota yang mereka pilih di tanah AS. Pentagon mengirimkan pasukan pembebasan pesawat, tetapi tidak sepenuhnya berhasil masuk ke pesawat .. bahkan komandannya tewas (diperankan Steven Seagal). Hanya sebagian pasukan yang berhasil masuk ke pesawat, dibantu seorang ilmuwan (diperankan Kurt Russel, yang justru kayaknya pemeran utama film ini).
Di sinilah mulai cerita yang menegangkan. Pentagon mengira misi pasukan itu gagal. Sehingga mereka harus membuat keputusan stratejik yang sulit, menembak pesawat tersebut sebelum mencapai tanah AS dengan korban sekitar 400 warga negara AS di dalam pesawat. Kalau tidak korban yang lebih besar akan terjadi. Read the rest of this entry »
Komentar saya di majalah SWA 09/XXV/ 30 April - 13 Mei 2009, halaman 76 - 80, tentang kisah Bambang Soeryanto membenai Indonesia Ferry (d/h ASDP). Lihat tulisan lengkapnya di sini. Terima kasih untuk Mbak Tutut Handayani dari SWA …
Bagi Riri Satria, kunci sukses perusahaan tidak terletak pada strategi yang hebat, melainkan eksekusi yang tepat. Artinya, strategi yang sederhana, tapi sangat serius dalam eksekusi dan pengendaliannya. “Inilah masalah umum yang terjadi di banyak perusahaan,” papar pengamat manajemen SDM dari PPC Indonesia Consulting itu.
Best practice dalam manajemen strategis juga demikian. Bahkan Kaplan dan Norton, perancang konsep Balanced Scorecard, dalam bukunya Execution Premium yang terbit tahun 2008 menegaskan bahwa yang terpenting adalah “eksekusi strategi”. Berbagai perusahaan kelas dunia yang sukses memberikan perhatian khusus pada eksekusi strategi ini.
“Saya melihat gaya Bambang Soerjanto sejalan dengan prinsip eksekusi strategi itu. Lihat saja, bagaimana dia menyamar menjadi sopir truk untuk melihat kondisi riil di lapangan. Ini menunjukkan bahwa beliau sudah punya paradigma, bahwa yang perlu diberi perhatian adalah eksekusi,” kata Riri. Hebatnya, dia melanjutkan, Bambang juga telah membentuk kelompok change of agent yang bertugas mendukungnya sebagai akselerator perubahan. Read the rest of this entry »


