Kelas Corporate Information System pada program Magister Manajemen (MM) Eksekutif angkatan 44 - Sekolah Tinggi Manajemen PPM sudah memasuki tahap akhir. Kuliah ini diasuh oleh tim dosen yang terdiri dari saya sendiri, Jonathan Sofian Lusa, dan Henry Christanto (kita foto dulu di PPM tadi sore sehabis kuliah).

Tadi siang sudah dilakukan group presentation oleh masing-masing kelompok (ada 5 kelompok) mengenai aplikasi materi kuliah di praktik sehari-hari di organisasi / perusahaan. Semua isu yang dipresentasikan sangat menarik, mulai dari penerapan teknologi informasi untuk manajemen data medik rumah sakit, lalu ada community building melalui membership untuk produk kesehatan, sampai dengan penerapan ERP di perusahaan, mulai dari yang kecil, sampai yang berskala nasional.

Tetapi permasalahannya adalah, tidak semua peserta mampu melakukan analisis secara mendalam dan sistematis terhadap permasalahan yang muncul, sampai kepada mengusulkan solusi. Semua kelompok mampu mempresentasikan apa yang dilakukan di perusahannya dengan baik, dan ini berarti mereka mengenali dengan baik baik apa yang dilakukan. Tetapi begitu masuk ke analisis masalah, ada yang mampu menganalisis dengan baik, tetapi ada juga yang hanya berhenti pada gejala masalah. Demikian pula dengan memberikan solusi, ada yang sangat generik dan normatif, ada juga yang sangat spesifik dan mendalam.

Pemahaman mengenai teori memang diperlukan untuk melakukan analisis yang mendalam, serta memberikan solusi yang spesifik. Misalnya, tanpa memahami konsep business model, maka tentu kita akan sulit melakukan analisis dan solusi mengenai dampak implementasi teknologi informasi terhadap perkembangan bisnis kita, apakah akan business as usual, atau akan terjadi perubahan yang signifikan mengenai cara berbisnis?

Sebenarnya teori dan praktik itu sejalan. Bukankah berbagai teori dalam ilmu manajemen itu dibangun dari best practice yang ada? Banyak orang yang mempertentangkan teori dan praktik, dan sesungguhnya ini suatu kekeliruan besar. Contoh kasus seperti Bob Sadino yang mengaku anti-teori, tetapi akhirnya membuat teori sendiri. Ini terjadi karena hukum alam memang teori dan praktik itu sejalan, teori dibangun dari praktik, kecuali untuk hal-hal yang sifatnya “filosofis” atau “religius”, itu mungkin agak berbeda.

Dari mana berbagai teori ilmu manajemen itu berasal? Ada 3 sumber perkembangan teori ilmu manajemen, yaitu dari (1) para pakar manajemen (experts) dari business school ternama, (2) konsultan manajemen ternama yang berbasis riset, serta (3) para praktisi manajemen yang berhasil (corporate heroes) yang merefleksikan pengalamannya.

Konsep five-forces untuk analisis industri, value chain, yang dipopulerkan oleh Michael Porter termasuk ke dalam kategori pertama, di mana Porter adalah profesor manajemen pada Harvard Business School. Contoh lain dalam kategori ini adalah blue ocean strategy dari Kim Chan dan Renee Mauborgnee, keduanya dari INSEAD sebuah business school ternama di Perancis.

Kemudian, kategori kedua, yaitu yang berasal dari para konsultan manajemen ternama antara lain adalah konsep 7-S untuk pengembangan organisasi dari McKinsey, lalu BCG Matrix dari Boston Consulting Group, dan sebagainya.

Sementara itu, ada kombinasi dari dua pihak di atas, yaitu profesor berkolaborasi dengan konsultan, misalnya balanced scorecard yang dipopulerkan oleh Robert S. Kaplan (Harvard Business School) dan David P. Norton (Renaissance Solutions, Inc.).

Kategori ketiga yang berasal dari para corporate heroes atau praktisi manajemen yang berhasil. Contohnya adalah teori kepemimpinan Jack Welch, serta lean manufacturing dari Taiichi Ohno (Toyota Corporation).

Jadi, kalau masih ada yang mempertentangkan teori dan praktik, sesungguhnya itu memperlihatkan ketidakmengertian mereka. Keduanya sebenarnya sangat bersinergi, selama kita menempatkannya dengan porsi yang benar …

2 Responses to “TEORI DAN PRAKTIK”

Leave a Reply