Tadi siang saya mengikuti acara talkshow mengenai buku yang ditulis oleh Bob Sadino, yang berjudul “Mereka Bilang Saya Gila” bertempat di toko buku Gramedia - Matraman Jakarta. Buku ini menceritakan pandangan Bob Sadino mengenai kewirausahaan (entrepreneurship) sebagai suatu lessons learned dari pengalaman kehidupan seorang Bob Sadino, yang memang terbukti sebagai wirausaha handal dan papan atas. Pencapaian yang telah beliau raih adalah suatu bukti bahwa beliau memang layak untuk didengarkan untuk berbicara mengenai kewirausahaan. Ini adalah pengalaman dari yang merasakan sendiri, jadi tidak mengada-ada.

Harus saya akui, dengan segala sikap nyentrik dan nyelenehnya, Bob Sadino adalah sosok wirausaha yang saya kagumi. Saya pernah beberapa kali berdiskusi secara instensif dengan beliau pada berbagai forum diskusi manajemen yang diselenggarakan oleh Lembaga Manajemen PPM pada kurun waktu tahun 2002 - 2003. Di balik semua sikap dan cara bicaranya yang nyeleneh, sebenarnya terkandung suatu pemikiran yang hebat yang layak untuk dipelajari.

Berikut ini adalah catatan saya mengenai acara talk show tersebut.

Pertama, acara ini sama sekali tidak membahas buku Bob Sadino. Acara ini sama sekali bukan bedah buku. Saya tadinya berharap, akan ada acara bedah buku, tetapi yang terjadi justru hanyalah puja-puji dari para panelis kepada Bob Sadino, tanpa membahas sedikitpun isi bukunya. Masing mending Bob Sadino, yang memberikan kesempatan kepada audiens untuk bertanya apa saja mengenai kewirausahaan. Padahal ada konsep yang menarik yang perlu dibahas di dalam buku Bob Sadino itu, yaitu konsep lingkaran Bob Sadino mengenai pembelajaran seorang wirausaha. Menurut saya, konsep Bob Sadino ini sangat bagus dan layak untuk dibahas tuntas sebagai pembelajaran untuk para wirausaha maupun calon wirausaha. Sebaiknya acara ini tidak berjudul “bedah buku”, melainkan cukup “jumpa fans” Bob Sadino, maka ini lebih pas rasanya.

Kedua, ini yang menarik, Bob Sadino akhirnya mengeluarkan teori sendiri, yaitu lingkaran Bob Sadino mengenai kewirausahaan. Awalnya adalah tahap tahu atau memahami teori, di tahap ini orang belajar mengetahui sesuatu seperti sekolah. Tahap selanjutnya adalah tahap mampu, yang diperoleh di masyarakat. setelah itu tahap trampil, dan terakhir orang itu menuju tahap profesional. Orang yang sampai pada tahap terakhir ini layak disebut sebagai entrepreneur. Nah, saya mengenal Bob Sadino ini sebagai orang yang anti-teori, tetapi akhirnya beliau terjebak sendiri, karena mengeluarkan sebuah teori atau juga ikut berteori. Jadi menurut saya, istilah anti-teori yang dianut Bob Sadino sebenarnya bukanlah anti-teori, melainkan dia tidak suka apabila orang berhenti di tataran teori semata tanpa walk the talk di lapangan. Saya duga begitu. Buktinya, dia juga berteori kok …

Ketiga, Bob Sadino selalu membuat dikotomi atau mempertentangkan antara sekolah tinggi dengan berwirausaha, bahkan dengan tegas dia mengatakan, tidak perlu sekolah tinggi untuk menjadi wirausaha. Ketiga saya bertanya kepada beliau mengenai hal ini pada acara tersebut, sekaligus mengungkapkan fakta untuk meng-counter balik opini beliau itu, di mana akhir-akhir ini muncul kumpulan orang knowledge entrepreneur atau high-tech entrepreneur (seperti Matt Mullenweg). Ini adalah para entreprenur di era ekonomi baru berbasis pengetahuan (knowledge economy) seperti di Silocon Valley di AS, Bengalore di India, dan sebagainya. Begitu juga dengan bisnis konsultansi yang saya jalani, tidak mungkin bisa saya jalankan kalau saya tidak bersekolah tinggi ! Atau teman saya yang mendirikan sebuah perusahaan konten telekomunikasi berbasis 3-G ? Wirausaha kan tidak hanya sebatas menjual bakso, buka warung, dan sebagainya, melainkan juga berkembang entrepreneur berbasis pengetahuan. Bagaimana komentar Om Bob ? he he he … kayaknya Bob Sadino agak keteteran menjawab pertanyaan saya ini, sehingga sama sekali tidak menjawab inti pertanyaan saya … Tetapi beliau menyadari bahwa jawabanya tidak memuaskan. Beliau bilang, “Jawaban saya pasti tidak memuaskan anda ..”

Kesimpulan saya, Bob Sadino adalah seorang wirausaha unggul yang terbukti berhasil, dan memiliki kumpulan pengalaman yang luar biasa. Pengalaman hidupnya adalah kumpulan pembelajaran yang sangat berharga. Tetapi, zaman sudah berubah. Sekarang muncul generasi knowledge entrepreneur atau high-tech entrepreneur. Banyak kisah sukses Om Bob dan tercermin dalam opini beliau kelihatannya tidak lagi valid untuk generasi baru ini. Jika berbicara mengenai bisnis buka restoran, buka toko, dan sebagainya, opini Om Bob mengenai dikotomi sekolah dan bekerja mungkin benar, tetapi untuk generasi knowledge entrepreneur atau high-tech entrepreneur sudah tidak valid lagi. Konsep lingkaran Bob Sadino sebagai sebuah wisdom tentu masih valid, tetapi bukan dengan cara mengdikotomikan dengan sekolah. Ini jelas bukan hanya tidak valid, tetapi juga berbahaya …

37 Responses to ““ORANG GILA” ITU BERNAMA BOB SADINO”

  • Siwie:

    Dear Admin

    Saya kurang setuju dengan orang2 yang hidup di zaman materialisme seperti sekarang ini bahwa tujuan akhir dari menuntut ilmu di sekolah adalah untuk mencari harta dan kemewahan dunia (punya rumah besar, istri cantik/ suami ganteng, tabungan banyak berlimpah ruah dengan uang/ emas/ saham, kerja di perusahaan besar, dll).

    Seperti yang dicontohkan oleh Rasul Muhammad SAW, beliau menyarankan umatnya untuk mencari ilmu dan mau belajar dimana saja dan kapan saja sejak lahir sampai dengan ajal menjemput. Masalah Rezeki itu biar Alloh SWT yang mengatur.

    Sebaiknya kita tidak usah berdebat tentang perlunya pendidikan sekolah atau tidak sekolah, tetapi seharusnya kita berdebat bagaimana masyarakat mau terus belajar untuk terus mau mencari ilmu dan mengembangkannya untuk merubah hidup dirinya dan lingkungan sekitar, karena manusia adalah khalifah Tuhan di muka bumi.

    Kebanyakan dari masyarakat berpendapat bahwa belajar adalah cuma pada saat di sekolah/ lembaga formal saja, akhirnya setelah lulus mereka merasa bahwa mereka tidak perlu lagi belajar. Akhirnya hidup mereka tidak berkembang, ya hanya begitu2 saja. Gak kaya n sejahtera tapi lebih cenderung kearah kemiskinan absolut.

    Seharusnya yang diributkan adalah bagaimana caranya dengan ilmu pengetahuan yang mereka punya yang diberi oleh Tuhan dimanfaatkan sebesar2nya untuk kesejahteraan umat, baik di Indonesia maupun didunia!!

    Menjadi entrepreneur adalah jalan terbaik untuk menolong banyak orang pada saat yang bersamaan (Efek Multiplier) daripada hanya menjadi pegawai saja.

    Maaf kalo saya lanncang, karena saya cuma manusia biasa yang banyak khilaf. Cuma Alloh SWT yang Maha Sempurna.

    Salam,

    Siwie Pambudhi

    —————————-

    Yup, dalam banyak hal, saya setuju dengan pendapat anda … terima kasih atas komentarnya … salam kenal :)

  • TEORI DAN PRAKTIK : www.RiriSatria.Net:

    […] teori dan praktik, dan sesungguhnya ini suatu kekeliruan besar. Contoh kasus seperti Bob Sadino yang mengaku anti-teori, tetapi akhirnya membuat teori sendiri. Ini terjadi karena hukum alam memang teori dan praktik itu sejalan, teori dibangun dari praktik, […]

  • Emanuel Setio Dewo:

    Wah, wacana yang menarik. Daku setuju dengan Pak Riri. Dunia sudah berubah, termasuk dunia usaha.

    Salam sukses.

    ———————–

    salam sukses juga Mas Dewo .. :)

  • sanggita:

    Pak, saya masih bingung. Knowledge enterpreneur itu bukannya masih di kuadran kiri sebagaimana karyawan, hanya naik pangkat sedikit? CMIIW

    Karena sepemahaman saya tentang enterpreneur, ketika di empunya bisnis ga ada, penghasilan tetap mengalir.

    Sedangkan knowledge enterpreneur masih mengandalkan dirinya supaya penghasilan masuk, seperti dokter yang membuka praktek pribadi gitu.

    Mohon pencerahannya.

    ——————————–

    Berarti kalau argumen Sanggita begitu, maka Matt Mullenweg (pencipta wordpress dan pendiri Automattic) atau Sergey Brin (salah satu pencipta Google dan pendiri Google company) bukan termasuk entrepreneur donk … mereka knowledge entrepreneur dan benar2 entrepreneur dalam definisi anda itu (ketika di empunya bisnis ga ada, penghasilan tetap mengalir), bukan self-employed seperti dokter … di Indonesia dalam skala yang lebih kecil sudah mulai bermunculan …

  • ez:

    “Tadi siang saya mengikuti acara talkshow mengenai buku yang ditulis oleh Bob Sadino, yang berjudul “Mereka Bilang Saya Gila” bertempat di toko buku Gramedia - Matraman Jakarta.”

    Note: Pak Riri, koreksi kecil, sepertinya penulis buku tsb bukan Bob Sadino deh, hehehe… Dia narasumbernya.
    Salam

    ———————-

    Eh, iya ya … terima kasih atas koreksinya … tetapi kok penulisnya gak muncul ya … seharusnya dia aktor utama kan ?

  • fai:

    keberhasilan itu adalah ’saya’.sukses hanya menurut orang belum tentu untuk diri sendiri.yang penting terus maju dan usaha jangan takut gagal.belajar dan bertindak.

    ——————-

    Setuju !

  • fikri awaludin:

    menurut pendapat saya apa yg dikatan oleh om bob itu benar karena pendidikan di indonesia itu hanya mengedepankan utk jadi pekerja bukan menjadi entrepreneur,contoh dosen bilang ke qt bahwa anda harus bisa menciptakan lapangan kerja tapi mereka tdk tau cara membuka peluang usaha itu. banyak sekali sarjana yg nganggur karena anggapan mereka selesai kuliah kemudian IPK diatas 3 mereka bisa diterima diperusahaan besar,saya kurang sependapat dengan mas riri mengenai teori dengan praktek harus sejalan kalo menurut saya itu harus dibalik, teori itu dibangun berdasarkan berdasarkan praktek dari orang yg buat teori tsb jadi intinya teori hanya kumpulan cerita dari org yg mengalaminya logikanya kaya gitu lo, praktek harus 95% dan sisanya teori trimakasih

    ——————————

    menurut pendapat saya apa yg dikatan oleh om bob itu benar karena pendidikan di indonesia itu hanya mengedepankan utk jadi pekerja bukan menjadi entrepreneur

    Setuju !

    contoh dosen bilang ke qt bahwa anda harus bisa menciptakan lapangan kerja tapi mereka tdk tau cara membuka peluang usaha itu.

    Setuju !

    banyak sekali sarjana yg nganggur karena anggapan mereka selesai kuliah kemudian IPK diatas 3 mereka bisa diterima diperusahaan besar

    Setuju !

    saya kurang sependapat dengan mas riri mengenai teori dengan praktek harus sejalan

    maksudnya gimana nih ? :)

    kalo menurut saya itu harus dibalik, teori itu dibangun berdasarkan berdasarkan praktek dari orang yg buat teori tsb jadi intinya teori hanya kumpulan cerita dari org yg mengalaminya logikanya kaya gitu lo


    He he he .. kalau dibaca dengan baik tulisan saya di atas … saya juga mengatakan hal yang sama … jadi kita sejalan … jadi tidak setujunya di mana ? :) theory is a proven best practice .. memang begitu kok …

    praktek harus 95% dan sisanya teori trimakasih

    Ha, ini yang saya gak paham … kalimat penutup ini gak nyambung dengan kalimat sebelumnya, artinya penjelasan di kalimat sebelumnya, gak bisa disimpulkan dalam kalimat terakhir ini … bukankah kita sepakat bahwa theory is a proven best practice … lha kok bisa muncul angka 95% …

    Anyway, terima kasih atas komentarnya … salam. :)

  • fauzi:

    mang betul tuh teory hasil praktek,dan om bob telah berpraktek lama sekali dan saatnya dia mengeluarkan teory hasil prakteknya.
    sebetulnya sekolah itu sangat bagus apa lagi sampai PT. yang salah adalah kurikulum dan pengajarnya. para pengajar apalagi PNS terlalu bangga dengan kepangkatanya dan al hasil mengajar seenaknya. kurang praktek walaupun teory penting.jarang membuktikan teory dengan kehidupan sebenarnya.
    saya sendiri seorang yang mengalir begitu saja seperti om bob.
    saya memang pengambil resiko besar seperti om bob tapi dalam bidang yang berbeda. dan merugi yang besar sebanding resiko yang saya ambil.saya jadi tau cara merubah resiko besar menjadi keuntungan besar yang bermanfaat bagi diri dan orang lain.
    saya sendiri seorang Programmer,Guru,instruktor,teknisi,Musisi,pengusaha ayam/perikanan.
    bisa dibilang hidup saya rumit sekali seperti profesi yang saya sebutkan diatas. semua saya pelajari dengan biaya yang tidak sedikit.
    saya sendiri sedang konsen dengan hasil praktek saya untuk kutularkan teorinya melalui sebuah Buku

    “lakukanlah yang ingin kita lakukan,selama itu bermanfaat untuk orang banyak”

    ———————

    salam sukses selalu Mas Fauzi … terima kasih atas komentarnya …. :)

  • fauzi:

    sdr fikri knp bingung dengan 95% praktek sisanya teory. he…he… itulah yang seharusnya dilakukan oleh semua warga indonesia. dan om bob telah melakukan. coba bayangkan jika para presiden,mentri,DPR melakukannya. niscaya negara akan Makmur seperti makmurnya Om bob.

    ————————-

    he he he .. masalahnya bukan teori atau praktik, tetapi saya yakin maksudnya adalah walk the talk, talk cukup 5%, walk yang 95%. Jadi ini masalah walk the talk, bukan teori dan praktik, that’s my point … :)

  • fauzi:

    coba kalau dibalik 95% teory dan sisanya praktek. negara akan ngitung-ngitung terus ampe kiamat.

    ——————–

    :)

  • Delfiar Sari:

    he he he .. masalahnya bukan teori atau praktik, tetapi saya yakin maksudnya adalah walk the talk, talk cukup 5%, walk yang 95%. Jadi ini masalah walk the talk, bukan teori dan praktik, that’s my point …

    ———-

    Setuju Riri … walk the talk!

    Anggaplah memang nggak usah hitung-hitungan XX%, kata kunci yg kemudian didapat memang adalah ‘gimana walknya’.

    Kalau saya sih makin ke sini makin senang senang dengan yg ini : Plan your work, work your plan! (PYW,WYP)
    Jika diambil pula kata kuncinya, kita diminta KONSISTEN .. Anda bikin rencana itu dengan bagus kemudian anda harus kerjakan itu dengan benar!

  • Bob Sadino Gila! | Catur PW.Com:

    […] articles: “Orang Gila” itu bernama BOB SADINO - RiriSatria.net Mari Kita Pindahkan Dulu Otak Ke Dengkul Kita […]

  • Carnos:

    Saya setuju dengan om Bob, memang pendidikan Indonesia kebanyakan teori yang tidak aplikatif dan memang teori itu kebanyakan sampah yang membelengu kita untuk bertindak atau ragu dalam bertindak. Apa yang dirisaukan oleh om Bob harus disikapi dengan bijaksana. Semua pihak terkait harus intropeksi diri, bagaimana sebaiknya sistem pendidikan yang ideal. Sebaiknya sistem pendidikan kita komposisinya 40 % teori dan 60% praktek. itu baru ideal. Sudah saatnya pendidkan kita melahirkan para wirausaha baru, bukan melahirkan pengangguran yang pada akhirnya jadi beban di masyarakat.

  • atta:

    saya akan mencoba nya.

  • Lakon Primanda:

    Gak usah mempermasalahkan masalah yang semestinya tidak menjadi masalah.. Yang namanya sekolah / menuntut ilmu tidak ada negatif dan ruginya, bukankah agama menyuruh kita ” Tuntutlah Ilmu sampai Negeri Cina “, ” Tuntutlah ilmu sampai liang Lahat” la terus apa yah korelasinya sama entrepreneur.. jadi begini, Saya yakin Bob Sadino hanya menyajikan sesuatu yang sifatnya memotivasi untuk anak2 muda Indonesia yg kurang beruntung mendapatkan pendidikan tinggi ( Miskin ) bahwa pendidikan yg tdk tinggi pun bisa mencapai sukses dalam kata lain Yang miskin tidak ada alasan untuk tidak bisa sukses, Buktikan tuh sama si kaya jgn mentang2 dia kaya bisa semaunya aja; la terus yang kaya juga jangan mau kalah sama si Miskin, si miskin bisa sukses apalgi yg kaya punya berbagai fasilitas.. Oke Bung, Salam Hangat dari saya.. Nb: Sesungguhnya SUKSES itu adalah PENGABDIAN, materi,harta itu adlh bonusnya.. HoraZ!! Wslm..

  • eric:

    Salam

    Hmmm…. inti dari tulisan anda adalah kesalutan diri anda dari bob sadino. namun, anda sedikit/banyak tidak setuju dengan pandangan bob tentang kalo mau jadi enterpreneur maka tidak perlu sekolah.

    kalo opini saya sendiri, cenderung sama dengan bob sadino. pasalnya untuk jadi enterpreneur dibutuhkan yang namanya kegigihan dan kerja cerdas. nah… sekolahan, tidak memberikan bekal kesana. melainkan hanyalah sebuah ilmu dasar, untuk mengembangankan diri diluar lingkup sekolahan alias masyarakat. sayangnya pengembangan kemasyarakatan ini jarang sekali dilakoni oleh para kaum terdidik. jikapun ada, jumlahnya hanya sedikit dan tidak banyak. mungkin begitu…

  • STEV:

    WhaTz Up BroW……….”"”"”"

    untuk pertama kali dengar2 berita angin mengenai Motode dan Kata2 O’m Bob saya sih senang dan percaya kpd dia….

    But Before saya datang dan nonton secara LIVE apa yang dia bicaakan mengenai itu semua(…..bla….bla…..bla…)

    emang cara berbisnisnya bisa kita tiru tapi kata2nya itu ngk bisa masuk akal 100.01 persen……soalnya klu gw liat sih tua itu CONGKAK nya minta ampun kerena sudah mendapatkan sem,uanya (kesejatraan.kekayaan.dsb…)

    salah satu kata2nya yg ngk bisa gw trima adalah orang GOBLOK bisa sukses dari orang yg pintar…….
    yang ada mas orang GOBLOK itu berusaha jadi LEBIH BAIK dan dia BERHASIL……..,SIH tua itu dia bisa bicara begitu kerena dia sudah merasa di atas dan sangat berhasil …..truz coba loe2 pikir man …dia itu bisa pergi ke jerman dan kerja di perusahaan besar di sana….,apa dia ngk kaya terlebih dahulu dan pernah kuliah sebelumnya da bisa di trima disana?????????

  • dian:

    makasih mas riri artikelnya, byk komen yg pro dan kontra
    dian pikir, ambil aja yg baiknya dan buang yg jeleknya. jika bs di implementasikan kepada diri kita sendiri lebh bgus, tidak bisa jg tidak apa..
    tidak smua org sejaln dgn pikiran org lain.
    moga aja byk manfaat dari ilmu yg di sampaikan Om Bob ya..
    nice artikel
    salam kenal

    ———————–

    Setuju Dian, pro dan kontra itu perlu, supaya kita dapat melihat sesuatu lebih jernih, dari berbagai perspektif, dan itulah sebuah proses pembelajaran .. terutama buat saya sendiri sebagai pemilik blog ini … mudah2an juga bagi yang lain … terima kasih ..

  • netz:

    bob sadino itu keren bgt…. bikin kita jadi lebih semangat…!!!!

  • johan:

    saya lebih setuju jika teori di kluarkan stelah ada praktik.
    krna bnyak hal dlam teori yg gagal dalam praktik.
    bisa bongkar,blum tentu bisa pasang.
    tp jika bisa pasang pasti bisa bongkar,.
    seperti itu jelas nya.

  • dewi:

    sepertinya buku BOB menarik nih buat di baca…sayang disini gak di ulas sedikit, hehehe….tapi jelas beliau sih udah terbukti sukses yaa.

  • ayahmeha:

    wah, komennya MANTAB-MANTAB. :)

    1. diskusi masalah teori-praktek, opini saya : ya gitu deh.
    2. opini dikit nih buat admin, klo nanyain masalah konwledge base entepreneur sama si om bob mah ngga tepat kali, bidangnya kan beda :). Saya punya opini yg mungkin aja bisa jadi satu ponit of view. saya dukung pemikiran om bob bahwa tidak perlu sekolah tinggi untuk menjadi wirausahan (hmmm saya setuju), dan opini saya begini: “life is never ending learning”, dan yg menjadi point penentu adalah mindset anda, logika berfikir anda, kemampuan alami menganalisis, dan yg paling utama dare to make a choice and responsibility for any result of your choice.
    3. pendapat saya, setiap orang punya cara masing untuk mencapai tujuannya. just keep straight on your destination, never listen even hear any “bird voice blowed by the wind”.

    ——————————————-

    nah, saya setuju .. selama Om Bob menyampaikan bahwa pendapatnya tidak bisa digeneralisir, melainkan valid pada kondisi tertentu … artinya Om Bob harus dengan penuh bijak dan wisdom mengatakan bahwa pengalaman dia bukanlah di knowledge entrepreneur, sehingga pendapat dia tidak valid untuk hal itu, setidaknya masih perlu divalidasi lagi … nah, kalo gitu, baru deh ok … ketimbang Om Bob selalu “mencaci-maki’ orang yang memutuskan untuk sekolah dan juga jadi entrepreneur, tetapi knowledge entrepreneur ..

    contoh simpel, gak mungkinlah kita bisa bikin bisnis kantor pengacara / lawyer, kalo kita sendiri gak tahu apa itu ilmu hukum … kan perlu sekolah juga ..

    kalo mau lebih membuka mata lagi, apakah bisnis yang tumbuh di Silicon Valley itu yang sangat high tech muncul dari tangan2 orang yg tidak sekolahan? … saya punya kekhawatiran jika kita tetap terus menarik dikotomi antara entrepreneur dan sekolah, di mana di mata saya sesungguhnya bukanlah 2 hal yang perlu dipertentangkan, melainkan 2 hal yang sejatinya bersinergi ..

  • Eman BHT:

    saya bwlum berani memberikan komentar yang berlebihan tapi saya katakan saya salut dengan bapak bob sadino saya ingin belajar lagi seperti bapak bob sadino

  • Imam Asyara:

    Ass.Wr.Wb……
    Bob Sadino ngomong kayak gitu karna dia sudah sukses kok….sekarang kan tinggal ongkang-ongkang kaki tunggu hasilnya….. tapi…. dulu… waktu baru usaha, pasti beliau juga cari cara untuk maju (berarti berteori kan???), lalu beliau juga mencari cara atau mengatasi masalahnya untuk tidak rugi (teori juga Kan???).. ingat… orang yang mencari langkah langkah apa yang harus ditempuhnya, sesungguhnya dia sedang berteori…. bukankah Teori, Cara, Langkah atau apapun namanya, semuanya disebut ILMU …. lalu ILMU dianggap bermanfaat kalau di PRAKTEKKAN yang baru betul…. itulah bedanya kita dengan binatang…. dia tidak punya ilmu… cuma peraktek doang…. contoh.. bangau cuman taunya Terbang/mendarat.. makan.. lalu tidur… coba si bangau ikut sekolah penerbang.. pastilah dia memiliki segudang teori atau ilmu terbang. tebangnya pasti jauh lebih attraktif dech.. seperti itu tuh, pilot pesawat tempur yang mampu terbang spiral..terbang serong … terbang menukik dsb… waowww demostratif sekali pasti siburung bangau itu.. yakan???? he…he…he

    kalo bob sadino masih ngomong kayak gitu..wahhh berarti dianya sombong sekali hmmmm…. teori tanpa praktek = BUTA…. sebaliknya… Praktek tanpa teori =BINATANG…

    “TIDAKLAH LENGKAP KEIMANAN SESEORANG BILA DIA TIDAK MEYAKINI ILMU”…. ilmu itukan ILHAM dari ALLAH SWT.

  • koplax:

    saya setuju sama om bob lah…
    bagaimana pun dia sudah sukses, dan dia berarti berhasil dengan cara dia, dan sekarang dia share pengalamanny ke kita, sapa tau bermanfaat,,, klo cocok ya ambil klo gak ya tinggalkan….
    menarik kan bahas perbedaan ini?? lebih asik kan daripada praktik.?? nah tujuan om bob mungkin agar org2 gak hanya tenggelam dalam ilmu teori saja

    —————————–

    hehehe … bagaimana kalau jalan itu memang benar untuk satu kondisi, tetapi tidak selalu benar untuk semua kondisi, dan contohnya sudah banyak di luar sana? … bisa misleading kan? … nah, itu juga tujuan saya memberikan catatan untuk pendapat beliau … :)

  • Titi:

    menurut saya…..

    prjuangn yg slama ni di gpai dngn ssh pyh,
    skrng tlah di nikmatinya,

    saya sngt bngga dengan krja krsnya, saya ingin mnjadi sperti om Bob yng mmpunyai smngat yg tnggi untuk mggapai cita2,

    ini merupkan motivator hidp u/ mnjadi orang yang sukses & menggapai cita2.

  • Pringsewu:

    Setuju dengan Om Bob…..
    Jangan Munafik di Indonesia saat ini orang kuliah hanya untuk cari kerja.
    Jarang ( bukan gx ada ) orang kuliah niatnya bener2 belajar.
    Saya kira cari ilmu yg dimaksudkan Om Bob adalah belajar secara Otodidak tidak lewat jalur kampus.
    Buktinya banyak jebolan2 kampus malah Blo’on dan Miskin kalaupun yang kaya mungkin hasil korupsi dari jabatan.
    Mungkin Pendidikan Indonesia yang harus dibenahi

    —————————

    Mas Pringsewu … ini komentar saya ..

    Setuju dengan Om Bob…..

    Saya juga, tetapi tidak untuk semua pendapat beliau, ada yg saya setuju, ada yg saya tidak setuju …

    Jangan Munafik di Indonesia saat ini orang kuliah hanya untuk cari kerja.
    Jarang ( bukan gx ada ) orang kuliah niatnya bener2 belajar.

    Menurut saya, statement anda ini sangat spekulatif, apa benar demikian? how do you know? mohon tidak menggeneralisir sesuatu spekulatif, apalagi dengan menggunakan bahasa keras seperti “munafik”, ini namanya, sudahlah statement spekulatif, kemudian juga ofensif, kayak bahasa para politisi … hehehehe …

    Saya kira cari ilmu yg dimaksudkan Om Bob adalah belajar secara Otodidak tidak lewat jalur kampus.

    Kalau ini saya setuju sekali, bahkan saya memberikan apreasiasi kepada Om Bob, silakan baca apresiasi saya di tulisan di atas, bahkan karena apresiasi itulah saya bela-belain hadir pada cara peluncuran buku tsb …

    Buktinya banyak jebolan2 kampus malah Blo’on dan Miskin kalaupun yang kaya mungkin hasil korupsi dari jabatan.

    Lagi-lagi statement spekulatif tetapi ofensif … hehehehe … apa iya begitu ?

    Mungkin Pendidikan Indonesia yang harus dibenahi

    Kalau ini, saya setuju banget …

  • Rony:

    Setujuuuu dengan om bob setuju dengan semuanya juga.mana yg paling benar itu yang anda pikirkan dan pertahankan indikatornya tinggal melihat ke realita masing2 apakah sudah sesuai dengan yg anda harapkan dan di impikan. yang paling penting adalah kolaborasi ilmu pengetahuan (baca:teori) dengan action selaras.jadi klu menurut saya teori penting action atau praktek juga penting.cuman klu dari pengalaman saya pribadi yg bisa bikin cepat untuk maju yaitu dengan lebih mendominankan prakteknya setelah itu pake teori yg mendukung untuk kemajuan dari tindakan itu sendiri.terus terang saya pribadi juga gk beres kuliah,hehe
    jadi cara gila,cara goblok ,atau cara ilmu kuliahan itu sama2 teori juga cuman persepsi dan cara pandang yg berbeda atau label yang di berikan ,saya kira dua2nya penting,.saran saya gunakan cara yang anda suka terus terbuka pikiran sama cara orang lain setelah itu lihat realita semakin sering semakin meningkat kesadaran apa yg sebetulnya yg paling di perlukan sebgai tool mendongkrak kemajuan.kalau saya pahami dari teorinya om bob di situ yang paling penting klu menururt saya bagaiman caranya mendobrak sebuah keyakinan negatip (tidak mendukung) itu pointnya, mau paham teori atau mau paham praktek percuma klu tidak di dukung sama sebuah keyakina ataas cita2 diri kita sendiri.teori yg tidak benar bisa membuat mental blok baru ,begitu juga praktek yg tidak bisa menghasilkan mental blok baru.begitupun sebaliknya.jadi teori dulu atau praktek dulu atau sebaliknya ,terserah yg anda suka cuman saya ingatkan yg benar yaitu yg anda rasakan di relaitas anda sendiri,yaitu dengan indikator mengunakan sebuah kesadaran yg bijak tanpa di nistai EGO dari situ baru akan terpetik sebuah benang merah dari kalibrasi pengalam anda yg akan mendongkrak level yg anda inginkan.jadi teori dulu praktek dulu yaaaaaaaa cobain sendiri klu di coba berarti harus action ,action kan praktek.hehehehe

  • Nyoman:

    sekolah belum tentu belajar….
    tidak sekolah belum tentu tidak belajar…

  • rian:

    Lebih baik kita ga usah heran dengan kata2 Om Bob, bukankah dia telah memproklamirkan dia itu orang “goblok”. Bagi saya tidak ada yang salah dengan kata2 Om Bob. Kenapa orang2 “pintar” pada ga terima dengan perkataan orang “goblok”. Bukankah dia itu “goblok”, makanya dia mengeluarkan statement yang “salah” menurut orang “pintar”. Misalnya dia bilang 2 x 2 = 16, apa orang yang merasa “pintar” akan menyalahkan dia. itulah egoisnya orang “pintar”, dia mau perkataannya dipahami dan ingin orang lain harus paham, tapi dia tidak bisa memahami bahasa “jalanan” atau bahasanya orang “goblok”. Om Bob itu nyeleneh, nyentrik, jadi jangan leterlek memahami bahasa Om Bob. Para orang2 “pintar” itulah yang harus menangkap makna atau benang merahnya.
    Orang2 besar di negeri ini sudah bisa memahami siapa Om Bob itu, dari mulai Suharto hingga SBY tidak menyalahkan serta mengharuskan Om Bob mengkuti kemauan protokoler kepresidenan, justru mereka telah memahami Om Bob, lihat foto2 Om Bob dengan mereka, tetap dengan celana jin buntung, kemeja buntung. Tidak ada yang menyalahkan.
    Jadi kalau Om Bob tidak bisa memuaskan dalam menjawab pertanyaan, jangan senang dulu, jelas saja dia tidak memuaskan jawabannya, kan dia itu “goblok”, justru kita sendiri yang “pintar” harus memahami maksudnya.
    Itulah Om Bob yang nyentrik, jadi kesimpulannya makna kata2 Om Bob itu luas, dan orang “pintar” lah yang harus membuat batasannya sendiri, jadi jangan mau kita malah jadi goblok yang sesungguhnya dalam memahami perkataan orang “goblok”.

  • feri viguna:

    pak bob sadino klo bs seminar di bandung bayar by jangan mahal coz di bandung butuh inspirasi wawasan pengetahuan tentang marketing yang di geluti leh anda…………….

  • dan:

    menurut saya yg terpenting sekarang adalah kalau ingin sukses ya, tekun and pantang menyerah entah itu dijalani dgn teori or praktek duluan dan saya setuju dengan Om Bob bahwa latar belakang pendidikan tidak membatasi usaha kita untuk maju chayoooo

  • adit:

    saya setuju dng om .bob..mnurut saya teori akan bza kta bentuk…bila kita sudah melkukan praktek….krn mbwt sutu usaha ngga perlu butuh bnyk teori…cukup kberanian,keuletan dan kedisiplinan lo kt pnya smua itu insyaalloh sukses…

  • adit:

    pokoknya saya ngefns bnget ma beliau lh……..

  • beck:

    yoi bro…
    gw setuju bgt ma yg lo pikirin…
    om bob emang hebat juga…, dia dah ada buktinya…
    sekolah emang penting kok.., minimal buka wawasan…

    soal bisnis dengan atau tanpa sekolah…, sama2 okenya…
    yg jelas tetep beda orang yang berpengetahuan dan tidak berpengetahuan,, entah bagaimanapun pengetetahuan itu di dapet…

    salam sukses buat kita semua… n TQ om bob…

  • mel:

    Yang dikatakan om bob itu benar. Sebenarnya tanpa pendidikan tinggi kita tetap bisa jadi entrepreneur sukses. Tanpa jadi lulusan perguruan tinggi, mau jadi knowledge entrepreneur pun bisa.

    Nggak percaya? Caranya : cari orang2 pintar lulusan perguruan tinggi buat jadi pegawai kita, asal kita manage mereka dengan baik, pasti mereka bisa mendukung usaha kita dengan baik. Kita hanya butuh sedikit pengetahuan tentang bidang usaha yang kita geluti.

    Ya tapi memang lebih baik lagi kalo kita sendiri sebagai entrepreneur juga lulusan PT. =)

    Sukses selalu om BOB!

  • nanang:

    Bagus bgt wacananya sy suka,maaf bisa minta alamat email langsung ke p.bob sadino ga syingn kenal lbh dekat mohon bantuanya ya.terimakasih sukses selalu

Leave a Reply