Tadi siang sampai sore, saya mengajar pada mata kuliah Knowledge Management and Learning Organization pada program Magister Manajemen (MM) Eksekutif angkatan 42 di Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Jakarta. Sekolah Tinggi Manajemen PPM adalah almamater saya juga, di samping Fakultas Ilmu Komputer - Universitas Indonesia dan program Doktor Manajemen Bisnis - Institut Pertanian Bogor (di mana saya sedang menyelesaikan S3 saya).
Di samping itu, saya pernah bekerja di PPM ini selama 7 tahun, yaitu pada kurun waktu 1997 - 2004, dan ini merupakan masa kerja terlama dalam karir saya di sebuah organisasi. Itulah sebabnya, mengajar di PPM sering memberikan kesan emosional tertentu pada diri saya, karena ini juga merupakan organisasi yang ikut membesarkan saya, baik dari sisi keilmuan, maupun profesional.
Oke, kembali ke kuliah ini. Saya kebagian sebanyak 2x pertemuan, tadi siang serta hari Sabtu minggu depan, untuk membahas learning organization. Sebelumnya, kolega saya di PPM sekaligus koordinator mata ajaran ini, Dr. Ningky Munir, sudah membahas secara mendalam mengenai knowledge management. Oh ya, Ibu Ningky ini dulu menulis disertasi doktor di Universitas Indonesia mengenai knowledge management, sedangkan saya sedang menulis disertasi doktor di IPB mengenai learning organization. Jadi, klop deh gelombang diskusi kami berdua.
Pada sesi ini, saya masih membahas apa itu learning organization, baik dari sisi pandang Peter Drucker dengan istilah information age organization, maupun Peter Senge istilah fifth discipline. Sebenarnya banyak sisi pandang yang lain, misalnya Agrylis, lalu ada juga Marquardt, tetapi saya merasa kedua konsep Peter Drucker dan Peter Senge lebih komprehensif untuk dibahas.
Keunggulan konsep Peter Drucker terletak kepada penekanan bahwa learning organization ini tidak hanya masalah training and development semata, melainkan ada juga unsur lainnya, yaitu struktur organisasi, sistem reward dan pengembangan karir, serta kesamaan visi dalam organisasi. Orang sering terjebak membatasi pengertian learning organization hanya sebatas training and development. Padahal, intinya adalah bagaimana membuat orang menjadi pintar bersama melalui proses knowledge sharing atau berbagi pengetahuan seperti collective and collaborative learning. Nah, konsep berbagi pengetahuan ini mudah untuk diucapkan, tetapi sulit untuk dilaksanakan. Mengapa ? karena ada unsur struktur dan sistem di dalam organisasi yang juga menentukan terbentuknya perilaku ini.
Sedangkan keunggulan konsep Peter Senge terletak kepada penjelasan proses yang sistemik bagaimana mengubah individu yang handal (personal mastery) menjadi tim yang handal (team learning) melalui suatu pola berpikir sistemik di dalam organisasi (system thinking). Nah, system thinking merupakan keunggulan dari konsep Peter Senge. Bahkan dalam bukunya yang terbaru, “The Necessary Revolution” yang lebih banyak menyoroti kehidupan umat manusia di bumi, Peter Senge juga menggunakan system thinking. Tetapi saya akan membahas system thinking ini pada sesi minggu depan.
Well, silakan lihat slide berikut ini untuk kuliah tadi siang …








October 12th, 2008 4:26 pm
Bang sering-sering aja posting artikel seperti ini, jadi saya sekalian bisa ikut kuliah jarak jauh… Terima kasih bang, salam sukses selalu!
————
Sip, terima kasih atas apresiasinya … mudah2an bermanfaat …
October 13th, 2008 8:11 am
Mungkin menarik juga mengeskplorasi kaitan praktek learning management dengan kolapsnya organisasi raksasa semacam Lehman Brothers, Merril Lynch, dan AIG (serta juga limbungnya Citibank).
Mengapa organisasi yang solid itu bisa roboh? Bagaimana menjelaskan tragedi ini semua dari sudut pandang learning organization and knowledge management?
————————
Setuju Yodh, gw juga lagi nulis disertasi tentang LO ini … nah, sekarang lagi ngumpulin literatur, termasuk kajian mutakhir seperti yang ente tulis di atas Yodh … terima kasih banyak …
October 26th, 2008 12:18 pm
[…] siang saya melanjutkan kuliah Learning Organization di program Magister Manajemen Sekolah Tinggi Manajemen PPM. Pada pertemuan kedua ini, saua banyak […]
November 18th, 2008 12:08 pm
saya tertarik dengan disertasi yang akan anda tulis,klo blh sy tau.judulnya ap?
Bgmn caranya mengkaji LO pada suatu organisasi,terutama organisasi pmrintah?
trimakash…
——————–
judulnya belum fixed … tapi topiknya tentang desain LO di perusahaan … pendekatannya menggunakan soft system methdology dan viable system modelling ….
May 5th, 2009 1:11 pm
selamat siang Pak,
saya mendengar anggapan bahwa 5th dicipline yang dikemukakan oleh Senge mengenai pembentukan organisasi pembelajar adalah suatu sistem yang ideal, bahkan karena terlalu idealnya sampai para praktisi LO menganggapnya sebagai suatu hal yang imposible untuk diterapkan. bagaimana tanggapan Bapak?
———————–
Nah, iya betul … bahkan ada buku yang ditulis oleh Robert Flood yang memberikan kritik kepada teori Peter Senge, judulnya “Re-thinking the Fifth Discipline”. Kalau sempat, silakan baca buku tsb setelah membaca buku Peter Senge, maka kita akan melihat pro dan kontranya … lalu sebagai pembanding lihat buku Marquardt, judulnya “Designing the Learning Organization” …
May 22nd, 2009 10:30 am
pak Riri…
saat ini saya sedang membaca 5th discipline…
yang ingin saya tanyakan pada saat ini adalah:
mengapa orang sudah merasa siap (bahkan sudah merasa menang) dalam menghadapi pertarungan di luar sana jika mereka hanya mempersiapkan masa depan daripada menciptakan masa depan?
menurut saya, mungkin ini alasan mengapa LO sulit untuk di implementasikan.
karena LO mengajak kita untuk menciptakan peluang yang akan kita hadapi dimasa depan daripada mempersiapkan kemungkinan tantangan dimasa yang akan datang.
————————
he he he … ini masalah paradigma .. kalau puas dengan mempersiapkan masa depan = paradigma sebagai karyawan atau follower … tetapi kalau puas dengan menciptakan masa depan = paradigma seorang entrepreneur atau inovator … yang, kita yang mana? … duanya2 bisa menerapkan LO lho …
May 25th, 2009 5:07 pm
pak Riri…
benarkan kalo single n double loop learning (Schon n Argyris) itu merupakan bentuk LO dari paradigma teknis dan CoP (Wenger) merupakan bentuk LO dari paradigma sosial?
berarti KM selama ini merupakan implementasi dari LO itu sendiri?
(pertanyaan ini dari dulu mengganggu pikiran saya mengenai kaitan LO dan KM)
tapi mengapa Dunamis dalam membuat peringkat MAKE award memasukkan LO sebagai budaya dalam salah satu kriterianya?
sebagaimana kita ketahui bahwa MAKE award ditujukan bagi perusahaan yang telah melaksanakan KM didalam organisasinya.
terimakasih pak.
July 3rd, 2009 11:17 am
apakah kita bisa menggunakan pendekatan blue ocean strategy dalam mendesain LO di sebuah perusahaan?