Tulisan saya ini dimuat pada Majalah SWA pada tahun 2006 dalam rangka menyambut 14 tahun balanced scorecard. Perkembangan terakhir saat ini, tahun 2008, dalam usia yang ke-16, Kaplan dan Norton selaku penggagas konsep balanced scorecard sudah menerbitkan buku baru, yaitu Execution Premium.

Pada awal tahun 1992, Robert S. Kaplan dan David P. Norton mempublikasikan tulisan mereka yang berjudul “The Balanced Scorecard : Measures that Drive Performance” pada majalah Harvard Business Review edisi awal tahun tersebut. Bisa dikatakan, inilah pemunculan metode balanced scorecard yang pertama untuk konsumsi publik. Ide apa yang diusung oleh kedua penulis ? Ada dua ide utama, yaitu pengukuran indikator kinerja bisnis serta empat perspektif untuk melakukan pengukuran tersebut. Banyak pengamat memberi label “balanced scorecard generasi pertama” untuk tulisan ini.

Metode balanced scorecard versi lengkap pertama kali muncul dalam bentuk buku pada tahun 1996, berjudul “The Balanced Scorecard : Translating Strategy into Action” ditulis oleh Robert S. Kaplan dan David P. Norton. Pada buku ini sudah diulas secara lengkap hubungan sebab-akibat (cause-effect relationships), penyusunan insiatif stratejik (strategic initiatives), customer value proposition, serta konsep lead dan lag. Lagi, banyak pengamat memberi label “balanced scorecard generasi kedua” untuk buku ini.

Sekarang, setelah 14 tahun sejak pemunculannya yang pertama, bagaimana perkembangan metode balanced scorecard ? Ulang tahun ke-14 ini ditandai dengan pemunculan buku Robert S. Kaplan dan David P. Norton yang terbaru, yang berjudul “Alignment : Using the Balanced Scorecard to Create the Corporate Synergies”. Ini adalah buku mereka yang keempat.

Buku kedua dan ketiga masing-masing adalah “Strategy-Focused Organization” (2001), serta “Strategy Maps”, (2004). Setiap buku tersebut selalu mengulas perkembangan teranyar tentang metode balanced scorecard. Khusus untuk buku ketiga yaitu “Strategy Maps”, banyak pengamat memberikan label “balanced scorecard generasi ketiga”, dengan memberikan penekanan kepada evaluasi kesiapan (readiness assessment) serta membangun keselarasan (alignment) antara strategi dengan aset tak berwujud (intangible assets), yaitu human capital, information capital, serta organization capital.

Ternyata, metode balanced scorecard ini mendapatkan banyak sambutan, baik di kalangan praktisi, maupun akademisi bisnis dan manajemen. Pada perjalanannya, berbagai akademisi dan praktisi mengembangkan balanced scorecard sehingga menjadi lebih kaya. Bisa dikatakan, balanced scorecard mengalami perkembangan pesat, baik secara vertikal maupun horizontal.

Secara vertikal, balanced scorecard berkembang mulai dari tingkat korporat, sampai dengan tingkat individu (personal scorecard). Salah satu tokoh yang giat mengembangkan hal ini adalah Hubert K. Rampersad yang mengusung konsep total performance scorecard, yaitu merupakan perpaduan yang cantik antara balanced scorecard tingkat korporat dan organisasi, balanced scorecard tingkat individu, manajemen berbasis kompetensi, serta total quality management.

Sedangkan secara horizontal, balanced scorecard berkembang ke berbagai bidang fungsional manajemen, bahkan sangat spesifik. Perkembangan yang pesat ditunjukkan oleh bidang fungsional manajemen SDM, mulai sejak tahun 2001. Saat itu diterbitkan buku “The HR Scorecard : Linking People, Strategy, and Performance”, yang ditulis oleh Brian E. Becker, Mark. A. Huselid, serta Dave Ulrich. Belakangan mereka membedakan antara balanced scorecard untuk sumber daya manusia organisasi (workforce scorecard) dengan balanced scorecard untuk departemen SDM (HR scorecard). Ini diulas secara mendalam dalam buku mereka “The Workforce Scorecard : Managing Human Capital to Execute Strategy”, (2005).

Bidang fungsional lain yang juga mengadopsi balanced scorecard adalah teknologi informasi. Kerja ini dimulai oleh Ronald Saull yang mempublikasikan artikel “The IT Balanced Scorecard” pada Information Systems Control Journal, tahun 2000. Setahun kemudian, bersama Win Van Grembergen, Ronald Saull memperkenalkan istilah penyelarasan (alignment) antara strategi organisasi dengan teknologi informasi dengan menggunakan balanced scorecard. Buku yang mengulas hal ini secara lengkap ditulis oleh Jessica Keyes yang berjudul “Implementing IT Balanced Scorecard” (2005).

Kontribusi lain adalah dari sisi metode penyusunan balanced scorecard. Banyak pihak yang berkontribusi mengenai hal ini, antara lain Paul Niven, Nills-Goran Olve, Mark Graham Brown, dan sebagainya. Kembangan lain dari balanced scorecard juga muncul untuk bidang internal audit (Mark L. Fringo, 2002), manajemen proyek (Jack Phillips), institusi pemerintahan dan LSM (Paul Niven, 2003), jasa konsultansi (Jack Phillips, 1999), kepemimpinan (Jack Phillips), dan sebagainya. Begitu juga dengan upaya untuk menggabungkan dengan alat manajemen yang lain seperti six sigma (Praveen Gupta, 2003).

Kemudian juga bermunculan perangkat lunak komputer (software) untuk balanced scorecard, mulai dari yang murah meriah seperti Strategy Dialog buatan India, sampai dengan yang mahal seperti QPR buatan Finlandia. Kabar terakhir mengatakan bahwa dua pemain aplikasi ERP terbesar yaitu SAP dan Oracle juga sedang mengembangkan modul khusus balanced scorecard untuk melengkapi modul aplikasi ERP mereka saat ini.

Ringkas cerita, balanced scorecard adalah sebuah metode manajemen yang fenomenal. Berbagai asosiasi juga bermunculan untuk menaungi balanced scorecard. Anda cukup masuk ke search engine apapun di internet, lalu ketik “balanced scorecard”, dan anda akan mendapatkan link yang jumlahnya luar biasa banyaknya. Bahkan banyak sekali artikel atau ulasan mengenai balanced scorecard yang dapat diperoleh secara gratis di internet.

Mengapa balanced scorecard menjadi begitu fenomenal ? Ada beberapa alasan. Pertama, secara eksplisit memaksa para pimpinan organisasi berpikir secara kuantitatif, karena ada indikator kinerja (key performance indicator atau KPI) yang harus didefinisikan secara kuantitatif. Ini mengubah pola pikir para pimpinan organisasi yang terbiasa dengan pola pikir secara umum dan tidak operasional, atau sangat filosofis menjadi kuantitatif dan operasional.

Kedua, secara eksplisit memaksa para pimpinan organisasi berpikir secara sistematik, karena ada hubungan sebab-akibat (cause-effect relationships) yang harus dibangun untuk setiap strategi dan program kerja organisasi. Hal ini mengubah pola berpikir para pimpinan organisasi yang terbiasa dengan pola pikir yang tidak berkait, tidak bisa melihat dampak dari sebuah tindakan terhadap unit lain, menjadi lebih sistemik dan integratif.

Ketiga, secara eksplisit memaksa para pimpinan organisasi berpikir secara komprehensif, karena harus melihat kinerja organisasi dari berbagai perspektif sudut pandang, tidak hanya satu sudut pandang. Ini mengubah pola berpikir para pimpinan organisasi yang terbiasa dengan pola pikir yang parsial, hanya satu atau dua perspektif, menjadi lebih komprehensif atau mampu melihat organisasi sebagai satu kesatuan yang utuh.

Keempat, sebagai sebuah metode manajemen strategi, balanced scorecard dikenal sangat simpel dan mudah untuk dipahami. Metode ini tidak rumit dan membutuhkan suatu keahlian khusus yang spesifik. Umumnya orang membutuhkan waktu yang tidak lama untuk memahami metode ini, bahkan menjadi pengguna metode ini. Karena simpel, maka metode ini bisa dipahami oleh berbagai lapisan di dalam organisasi, dengan demikian manajemen strategi organisasi menjadi sangat baik, karena strategi dipahami oleh semua lapisan.

Kelima, sebagai sebuah metode manajemen strategi, balanced scorecard dikenal sangat fleksibel, bisa dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan organisasi. Misalnya, untuk organisasi bisnis komersial maka tentu perspektif finansial menjadi sasaran akhir organisasi, tetapi untuk organisasi pemerintahan yang sifatnya melayani masyarakat, hal ini tentu tidak tepat. Maka, kita dapat dengan mudah memodifikasi balanced scorecard untuk disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.

Keenam, sebagai sebuah metode manajemen strategi, balanced scorecard dapat diintegrasikan atau digabungkan dengan berbagai metode manajemen lainnya, seperti SWOT, six sigma, manajemen risiko, dan sebagainya. Menurut penciptanya, metode balanced scorecard dikembangkan tidak dimaksudkan untuk menggantikan metode manajemen yang sudah ada, melainkan melengkapinya, dan bahkan juga dimaksudkan untuk perangkai (integrator) dari metode-metode manajemen yang sudah ada saat ini.

Sekarang, pada usia yang ke-14, sudah sampai di mana perkembangan balanced scorecard ? Pada buku terbarunya Robert S. Kaplan dan David P. Norton mengupas hal-hal baru berkaitan dengan balanced scorecard. Pertama, berkaitan dengan penyelasaran strategi tingkat korporat, business unit, dan strategi fungsional di dalam organisasi, dengan menggunakan balanced scorecard. Kedua, mereka memperkenalkan enterprise value proposition, versi lebih lengkap dari customer value proposition yang telah ada saat ini. Ketiga, penggunaan balanced scorecard untuk menyelaraskan hubungan berupa peran dan fungsi dengan pihak eksternal organisasi. Keempat, mereka membungkus ketiga hal sebelumnya dengan kerangka total strategic alignment model.

Akankah hal ini akan diberi label “balanced scorecard generasi keempat” oleh para pengamat ? Mungkin saja, Sah-sah saja kan ? Jangan-jangan Kaplan dan Norton pun tidak peduli dengan label itu.

24 Responses to “14 TAHUN BALANCED SCORECARD”

  • asrina:

    Pa riri, bedanya Human Resources Scorecard sama Human Resources Balance Scorecard apa siy?? Saya lagi nyari beberapa literatur yang dapat menjelaskan kedua hal tersebut.. Terima kasih sebelumnya atas bantuannya..

    ——————

    Asrina, menurut saya keduanya sama saja kok, yang satu hanya istilahnya dipersingkat … terima kasih.

  • dhieno:

    Jk melihat ulasan & kronologis BSC yg Bpk tulis, sptnya Pak Riri mmg sgt expert &spesialis sekali di bdg Bsc ini.Fenomena yg Bpk tulis persis spt yg ada di perusahaan kami. Org sgt berpikr sektoral,tdk ada koordinasi program atas goal yg akn dicapai,ROI tdk dianggab sasaran akhir dlm penentuan KPI, dll. Mungkin dalam kesempatan nanti sbg supporting change management program,Bpk bisa mengulas urgency BSC ini. satu hal yg ptg trmasuk revitalisasi fungsi keuangan utk kemapanan sistem, kontrol sbg sasaran akhir (ROI),krn byk program dilksnkan tp gak brdampak pd growth or ROI td, no added value dan wasting money bkn?Krn tdk adanya KPI dlm ukuran yg kuantitatif dan jg no reward & punishment,org akan gampang sekali melaksanakan program yg apa adanya, asal2an, bahkan ada yg dianggab gagal malah dipromosikan??giman toch…? weleh…weleh….,Tp sbg warning saja, byk org sdh alergi dgn “jargon2″ spt ini krn sblmnya sdh byk yg dilakukn, jg dgn konsultan,tp tdk ada “roh”komitmen dan implementasinya….TANYA KENAPA? Good luck…….Vote 4 U :Excelent.

    ——————————-

    Terima kasih Pak atas komentarnya … saya sangat setuju, memang akhirnya komitmen pelaksanaannya yang penting … Nah, repotnya, kalau sudah pelaksanaan, konsultan nggak bisa apa2 lagi … peran terbesar akan ada di tangan perusahaan tsb … konsultan itu ibarat dokter, dia bisa menyarankan pasiennya ini dan itu, tapi kalau pasiennya nggak mau, ya gimana lagi ? …

    Satu hal yang sering saya ulas dalam berbagai kesempatan, bahwa di dalam organisasi ada yang namanya office politics. Jika nuansa office politics ini tinggi, maka dia bisa mengalahkan berbagai praktek manajemen yang ada. Sehingga perusahaan dengan nuansa iffice politics yang tinggi, memang butuh waktu yang relatif lebih lama untuk menerapkan berbagai konsep manajemen modern seperti balanced scorecard tsb, nggak akan bisa dilakukan dalam waktu cepat apalagi instan … kecuali kalau office politics-nya dibawa ke arah yang positif, tentu akan lain lagi ceritanya … begitu Pak …

  • Trias:

    Pa’ Riri.. saya Trias mahasiswi UNY angkatan 2004 ingin meneliti tentang Implementasi BSC pada BPR Syariah namun ternyata BPRS yg akan saya teliti tersebut baru berusia 1 th per Nov 2008 besok..
    nah pertanyaanya apakah BPRS tersebut sdh bisa diukur kinerjanya melalui BSC ini ??

    terimakasih sebelumnya..

    ————————

    halo Trias … saya khawatir belum bisa, kecuali sejak awal dia sudah pakai BSC … bagaimana kalau skripsinya diubah menjadi analisis kemungkinan penerapan BCS di bank tsb ?

  • asrina:

    assalamu’alaikum pa riri,, saya asrina lagi.. kebetulan saya salah satu mahasiswa S1 bimbingan pa sjafri,, saya tau bapak ketika halal bi halal komunitas blogor di rumah pa sjafri,, dan kebetulannya lagi di blog bapak ada tulisan mengenai balance scorecard,jadi saya akan banyak tanya hal mengenai HR BSC ini ke bapak,hehe,, maaf ya pak sebelumnya jadi basa-basi dulu..
    Oh jadi sama aja ya pak? kebetulan salah satu teman saya yang juga murid bimbingan pa sjafri mengambil tema yang sama trus gimana dong pak? berarti penelitian yang kita lakukan sama,,memang kata pa sjafri silahkan saja mengingat tempat penelitian (perusahaan yang akan kita teliti) berbeda tapi hasilnya akan tidak jauh berbeda,,apa itu ga pa2, pak riri?
    Lalu kalau tempat penelitian untuk tema HR Balance Scorecard ini lebih baik di perusahaan manufaktur atau jasa? mengingat banyak skripsi yang ada di ipb ttg HR BSC bertempat di manufaktur.. terima kasih banyak atas bantuan bapak dan terima kasih sebelumnya sudah mau diganggu oleh saya, saya seolah2 konsultasi informal ke bapak..

    ———————–

    yup, nggak masalah sama metode di perusahaan yang berbeda … krn hasilnya pasti berbeda, ini yang disebut dengan case study research … tempat penelitian ? bisa perusahaan apa saja kok, bahkan instansi pemerintahan juga bisa .. :)

  • estiati:

    assalamualaikum……………..
    pak, saya mau tanya. sekarang saya skripsi dan mengambil tentang BSC. tapi saya agak bingung dalam mencari objek penelitiannya. posisi saya ada di jember. menurut bapak, saya enaknya penelitian dmn ya???? yang 1 kota. kmrn saya sempat mencari objek penelitian, tetapi saya harus penelitian langsung ke pusat/cabang yaitu di Sby. terima kasih sebelumnya atas informasi bapak

    ———————–

    wa’alaikum salam, … wah, esti .. saya juga gak tahu tuh kondisi surabaya, apalagi jember … :(

  • asrina:

    pak, kalau BSC itu lebih pas dikaitkan dengan manajemen stategic perusahaan/organisasi atau dengan menggunakan BSC sebagai instrumen pengukuran kinerja?

    karena :
    (1)
    dari dua buku yang saya baca, yaitu manajemen mutu SDM karangan Syafri mangkuprawira, disitu dikatakan bahwa BSC merupakan dasar pemetaan strategic perusahaan, terutama perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. sedangkan dari buku karangan dr ir hubert rampersad (personal balance scorecard) disitu secara tidak langsung dikatakan bahwa BSC itu dapat meningkatkan kinerja karyawan, lalu dengan meningkatkan kinerja karyawan, kinerja perusahaan juga akan meningkat seperti peningkatan kepuasan pelanggan dari perspektif pelanggan dan peningkatan pendapatan perusahaan dari perspektif finansial.

    (2)
    Dari skripsi2 yang ada di IPB, jika BSC itu adalah instrumen pengukuran kinerja, maka perspektif yang diteliti adalah aspek finansialnya. sedangkan topik saya adalah HR balance scorecard yang menitik beratkan pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.

    maaf sekiranya semoga bapak dapat membantu, tolong balas ke email saya, terimakasih….

    ————————–

    Asrina, keduanya benar … nah, supaya lebih paham, baca buku BSC tulisan yang bikinnya langsung dong, Kaplan dan Norton … supaya paham bener, nggak setengah-setengah pemahamannya … :)

  • aries:

    Pak Riri,

    Saya pernah membaca di buku Kaplan & Norton ada 4 perspektif yang mereka kemukakan. Ada salah satu yang saya tertarik untuk mempelajari lebih dalam yaitu Perspektif Pembelajaran & Inovasi. Mereka mengemukakan ada 3 dimensi untuk mengukur perspektif ini yaitu 1. Kemampuan Pekerja 2. Kemampuan Sistem Informasi 3. Motivasi dan pemberdayaan.
    Yang saya tanyakan indikator dan ukuran yang bisa diukur untuk dimensi pada perspektif pembelajaran & inovasi diatas seperti apa ya? Terima Kasih atas perhatiannya.

    Salam,
    Aries

    ————————

    Mas Aries … indikator atau ukurannya (KPI) dapat dilihat dengan lengkap di buku “Strategy Maps”-nya Kaplan dan Norton … silakan dibaca di sana … :)

  • rasyid:

    Pak, saya sedang menyusun skripsi tentang pengukuran kinerja pemerintah daerah dengan BSC. menurut bpk apakah BSC dapat diterapkan utk pemda? Bgmn langkah-langkah pengukurannya? apakah bpk tahu contoh kuosioner untuk pengukuran kinerja pemda dengan BSC?

    ——————–

    Waduh, saya tidak punya … tapi pertanyaannya, apakah butuh kuesioner ?

  • Trias:

    assalamualaikum…

    Maaf Pak mengganggu waktu Bapak lagi, kalau saya mengganti judul skripsi dg “analisis kemungkinan penerapan …” sesuai yang disarankan Bapak maka untuk penelitiannya apakah sama dg kalau judulnya “implementasi ..” cuman bedanya di kesimpulannya saja atau kemana ya Pak arahannya. dan apakah untuk mengukur trend perkembangan usaha juga harus dari tahun ke tahun? bagaimana jika trend perkembangan usaha diukur dari bulan ke bulan?.
    dan Alasan Bapak mengatakan “khawatir belum bisa diukur dg BSC” apa ya.. selain dari faktor usia Perush yg baru 1 th ?

    terimakasih Pak sebelumnya..

    ——————–

    nah, ini agak panjang jawabannya … apakah Trias memahami berbagai jenis metode penelitian ? .. yaitu empiris - positivistik, interpretif, serta system design ? … pertanyaan anda bukan lagi mengenai BSC sebenarnya, tetapi lebih kepada pilihan metode riset-nya … saya khawatir, kalau anda belum memahami metode risetnya … kalau anda memahami metode risetnya, pertanyaan di atas pasti bisa dijawab dengan baik …

  • SEMINAR BALANCED SCORECARD DI BADAN PEMERIKSA KEUANGAN (BPK) : www.RiriSatria.Net:

    […] itu balanced scorecard di sini. Tulisan saya mengenai balanced scorecard dapat dilihat di sini : 14 tahun balanced scorecard, penerapan di Soho, penerapan di RAPP, dan execution […]

  • Trias:

    terimakasih Pak atas jawabannya.. :)

    ————–

    sama2, semoga membantu .. :)

  • jayeng:

    pak saya bisa dapat buku “Alignment : Using the Balanced Scorecard to Create the Corporate Synergies” dimana ya? saya cari-cari di gramedia matraman kok gak ada

    ————————-

    Wah, berarti habis tuh … coba di Kinokuniya Plaza Senayan … atau Gramedia yang lain (tp yg besar spt di Grand Indonesia, atau Mal Pondok Indah) ..

  • HRM INDONESIA - SHARING SESSION : ADVANCED BALANCED SCORECARD : www.RiriSatria.Net:

    […] dibawakan di Bank Indonesia, Badan Pemeriksa Keuangan - RI, kuliah di S2 teknologi informasi UI, tulisan tentang BSC, nara sumber liputan tentang BSC di sini, dan di […]

  • violet:

    Mlm pak,
    saya mahasiswi s1 dan saat ini sedang menyusun skripsi dengan dengan tema analisis pengukuran kinerja dengan konsep bsc, yang saya tanyakan apakah untuk analisis tsb bisa hanya pada satu pilar bisnis saja? perusahaan yang menjadi objek penelitian saya memiliki 3 pilar bisnis yang berbeda dan saya akan melakukan analisis pengukuran kinerja dengan konsep bsc hanya pada satu pilar saja. mohon bantuan penjelasannya .
    terima kasih atas jawabannya :)

    ————————

    Perusahaan yang multi-bisnis pun juga bisa … nah, silakan lihat buku Alignment tulisan Kaplan dan Norton, di sana dibahas secara komprehensif untuk perusahaan multi-bisnis … good luck :)

  • TEORI DAN PRAKTIK : www.RiriSatria.Net:

    […] itu, ada kombinasi dari dua pihak di atas, yaitu profesor berkolaborasi dengan konsultan, misalnya balanced scorecard yang dipopulerkan oleh Robert S. Kaplan (Harvard Business School) dan David P. Norton (Renaissance […]

  • liza:

    bp. Riri Yth. Saya selalu tertarik dengan rulisan bapak tentang manajemen. Saya ingin melakukan penelitian tentang implementasi BSC di lembaga pendidikan swasta, terutama bagaimana sekolah swasta menyusun strategi bisnisnya menghadapi persaingan global dan kebijakan BHP.Saya mohon masukan dari bapak dan apakah penelitian ini bisa dilakukan secara kuantitatif.Terima kasih banyak.(saya mhs pascasarjana manajemen pendidikan)

    —————————-

    halo Mbak Liza, kalau bicara BSC, ini gak lagi bicara bisa atau nggak kuantitatif … melainkan HARUS kuantitatif, karena paradigma BSC adalah kuantitatif tetapi non-deterministik … begitu Mbak … :)

  • kaira:

    Ass…saya mahasiswa S1 akuntansi sedang mengambil skripsi tentang “penerapan HR scorecard untuk mengukur kinerja SDM pada perusahaan jasa” yang saya teliti, klo saya melihat skripsi teman saya yang memiliki judul yang sama tapi perusahaan manufaktur, saya paham. tapi..:( kok saat saya mengerjakan skripsi saya, saya jadi bingung… kiranya bapak mau memberikan referensi jurnal atau buku yang edisi indonesia.karena yang banyak beredar sekarang yang edisi international.Mohon bantuannya….trims

    —————-

    Ada 2 buku yang menarik tentang ini … yaitu HR Scorecard sama Workforce Scorecard … silakan dipedomani … menarik lho !

  • kaira:

    pak klo ga salah balanced scorecard mengukur kinerja dengan menggunakan ato menyusun KPI tapi klo HR scorecard gimana pak???.karena saya lihat KPI udah ada di laporan keuangan perusahaan yang saya teliti, berarti kan saya tinggal membandingkan antara KPI yang udah disusun oleh perusahaan jasa yang saya teliti dengan perhitungan HR Scorecard yang sedang saya gunakan sebagai judul skripsi saya kan???lha masalahnya gimana menyusun perhitungan dengan HR Scorecard pak???Mohon bantuannya….trimakasih

    ———————

    Ada 2 buku yang menarik tentang ini … yaitu HR Scorecard sama Workforce Scorecard … silakan dipedomani … menarik lho !

  • Brahma Tri Anggara:

    Pak Riri saya mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur lagi penelitian skripsi dan saya ingin mengangkat tema Total Performance Scorecard,literatur apa ya pak yang bisa saya pakai,terima kasih

    ——————-

    Silakan pakai buku Hubert Humpersad, judulnya “Total Performance Scorecard” …

  • Diana Nafis Baskoro:

    Pak Riri, saya mhsw s2 Unpad. Dosen saya menugasi buat paper ttg BSC u/ 4 perspektif plus satu perspektif lagi yaitu ASPEK LEGAL. Beliau menyatakan bahwa aspek legal adalah perkembangan baru dari BSC Kaplan. Kalo penerapannya di pemerintahan contohnya penegakan hukum yang serius. Saya brusaha nyari di internet TENTANG ASPEK LEGAL BSC KAPLAN kog gak nemu YA…

    mOHON BANTUANNYA.. tERIMAKASIH

    ———————————-

    kalau mau lihat BSC utk pemerintahan bisa dilihat di buku Paul Niven yang berjudul BSC for Goverment and Non-profits … mengenai perspektif, bisa ditambah dan dikurangi, tidak ada satu literatus pun yang mengatakan bahwa harus 4, termasuk kaplan dan Norton sendiri .. 4 perspektif itu hanya referensi dasar … kalau aspek legal, saya sendiri belum pernah lihat, tetapi rasanya bisa dibuat dengan analisis dan sintesis sendiri …

  • BALANCED SCORECARD @ DEPKEU RI : www.RiriSatria.Net:

    […] ini kami sedang ikut serta memberikan workshop mengenai balanced scorecard di Departemen Keuangan RI. Kami bangga bisa menjadi bagian dari proses reformasi birokrasi di […]

  • bambang:

    Hallo pak saya tertarik membaca tulisan bapak….maaf pak saya lagi ada tugas dari kantor untuk menyusun KPI untuk internal audit departemen /SPI….karena saya sudah browsing susah sekali dapat yang cocok atau detil tentang point kpi untuk SPI….jika bapak berkenan saya bisa peroleh informasi itu dimana ? atau Bapak punya informasi KPI u internal audit detil?
    trims atas pencerahannya.

    ——————————–

    KPI untuk internal audit itu ada 2, yaitu lag KPI, misalnya jumlah koreksi dari eksternal auditor (semakin kecil semakin baik tentunya), serta lead KPI, misalnya kecepatan pelaporan, dsb … terima kasih.

  • Eko.Mardianto:

    Assalamualaikum…Menanggapi tulisan Mr.Riri saya mengucapkan terimakasih karna saya telah mendapatkan gambaran mengenai hubungan antara BSC,Workforces,dan HR scorecard serta metode pengembangan yang ada didalamnya…
    Sekaligus saya mau minta Informasi dari Mr.Riri….kebetulan saat ini saya sedang mengambil Tugas Akhir mengenai Workforces Scorecard yang serta merta tentu saja berhubungan dengan balanced scorecard.sebagai praktisi yang mengetahui seluk beluk BSC saya mau tanya apakah Mr.Riri mengetahui Link dan site tertentu yang memiliki contoh jurnal mengenai Workforce scorecard yang kalau bisa berbahasa Indonesia dan secara gratis tentunya untuk diunduh….terimakasih sebelumnya Mr.Riri
    wassalamualaikum

    ——————————

    wa’alaikum salam … wah, kalau topik workforce scorecard dalam bahasa Indonesia dan siap diunduh … saya gak punya info tuh … susah juga neh permintaannya … :D

  • Ganda:

    Mr Riri,

    Sehubungan ketertarikan saya dgn BSC saya coba masuk ke website www.qpr.com dalam rangka mau mencoba sample aplikasinya. Tapi kok nggak bisa ya? Ada info sofware / aplikasi gratis BSC yang bisa di unduh?

    Terimakasih.

    —————————-

    hahahaha … QPR pasti gak ada lah … sama saja minta sampel SAP gitu … yg gratis setahu saja gak ada sih Mas …

Leave a Reply


October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
My Twitter Update
FIND ME ON :