Sepanjang saya belajar mengenai teori ekonomi (walaupun bukan major bidang saya), ada satu hal yang menarik perhatian saya sampai saat ini, yaitu bidang ilmu ekonomi berbasis perilaku (behavioral economics). Dalam sejarah penerima Hadiah Nobel di bidang ekonomi, terdapat satu, dan masih satu-satunya sampai sekarang, pemenangnya yang bukan ahli ekonomi, melainkan ahli psikologi, yaitu Daniel Kahneman, (juga lihat di sini, di sini, serta di sini). Dia memadukan ilmu psikologi, dalam hal ini perilaku manusia (human behavior) ke dalam ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi memiliki basis pemikiran bagaimana manusia memenuhi kebutuhan hidupnya secara optimum, tetapi kenyataannya sehari-hari perilaku manusia tidak selalu begitu. Makna optimum itu sangat subyektif dan itu akan membentuk bagaimana manusia membuat keputusan ekonomi dalam hidupnya.
Si Ali punya tiba-tiba menang undian, dan dapat mobil baru seharga Rp. 100 juta. Lalu Ali diperbolehkan memilih, apakah tetap mendapatkan mobil itu, atau menjualnya kembali untuk mendapatkan uang tunai. Lalu si Budi juga menang undian, tetapi dia harus memilih, apakah diberi mobil (yang jenis dan harganya sama dengan yang diberi ke si Ali) atau diberi uang tunai saja. Jika seandainya kedua orang ini, si Ali dan Budi ingin mendapatkan uang, berapa uang yang mereka inginkan ? Jika eksperimen ini dilakukan terhadap sampel yang banyak, maka terjadi kecenderungan bahwa orang dalam kelompok si Ali mengharapkan uang lebih banyak daripada kelompok si Budi.
Artinya begini, kelompok si Budi kalau ditekan bahwa uang yang akan diterima sekitar Rp. 60 juta saja, maka dia cenderung untuk menerima. Sedangkan kelompok si Ali akan bertahan dengan jumlah uang yang lebih besar daripada kelompok si Budi, misalnya Rp. 80 juta atau lebih. Mengapa kelompok si Ali bisa menginginkan uang lebih banyak ? karena barang atau mobil sudah di tangan. Sedangkan untuk kelompok si Budi, barang belum di tangan, tetapi disuruh memilih antara barang dan uang, maka dia cenderung berharap uang lebih sedikit. Standar kepuasan yang dimiliki oleh kelompok si Ali menjadi tinggi karena dia sudah mendapatkan barang atau mobil, sementara itu kelompok si Budi belum. Akibatnya harapan terhadap jumlah uang pun kelompok si Ali lebih tinggi terhadap kelompok si Budi, walaupun barang yang menjadi acuan itu sama.
Nah, kelihatan tidak rasional bukan ? Seharusnya secara rasional kedua kelompok di atas menginginkan uang dalam jumlah yang sama, tetapi kok berbeda ? Itulah gambaran ringkas mengenai prospect theory, yaitu bagaimana manusia dalam membuat keputusan ekonomi, dan juga memiliki unsur perilaku di dalamnya. Di sini kita tidak bicara optimum atau tidak keputusan itu, melainkan secara deskriptif, itulah perilaku yang terjadi.
Daniel Kahneman telah memasukkan variabel perilaku ke dalam ilmu ekonomi. Ini merupakan terobosan awal untuk mengeksplorasi kehidupan sosial masyarakat lebih jauh dan lebih holistik.
Sekarang sudah ada topik bahasan sosiologi ekonomi (economic sociology) yang bermain dalam tatanan makro, dan socionomics dalam tatanan mikro yang dipopulerkan oleh Robert Prechter. Kejadian black monday dalam bursa saham dunia tahun 1987 dianalisis para pakar dengan pendekatan socionomics.
Bisa jadi suatu saat ternyata variabel budaya (culture) juga terdapat dalam ilmu ekonomi, dan suatu saat akan ada pemenang Nobel bidang Ekonomi yang ahli antropologi … siapa tahu, ya nggak ?
Kisah Daniel Kahneman dan juga Robert Prechter semakin meyakinkan saya bahwa ilmu pengetahuan itu sebenarnya dalam kenyataan sehari-hari itu tanpa sekat. Tidak ada pembatas antar bidang ilmu pengetahuan. Buat saya, hirarki atau struktur pohon ilmu sudah tidak relevan. Pada kenyatannya di lapangan, konvergensi ilmu pengetahuan itu terjadi untuk menjelaskan fenomena kehidupan. Proses pembelajaran tidak boleh membentuk manusia menjadi spesialis dengan “mata kuda”. Menjadi spesialis dalam pengertian memberikan konsentrasi kepada satu bidang tertentu tentu saja diperlukan, tetapi perlu disadari bahwa dalam kenyataan hidup, konvergensi itu niscaya terjadi …

strategy | organization | HRD 



Hidup itu realita…. Siapa yang dapat bertahan hidup itulah kiranya sang pemenang ( menurut Dirinya sendiri ). kalau kita menggunakan satu senjata, kita mungkin kalah maka pakailah beberapa senjata, gabungkanlah senjata itu supaya bisa bertahan hidup,…
Trims
—————-
Mas Arief, terima kasih atas komentarnya … komentar Mas Arief kelihatannya berkaitan dengan kovergensi ilmu pengetahuan ya … di mana jangan hanya punya satu “senjata” atau satu keahlian saja … begitu Mas ?
Mas Arief, terima kasih atas komentarnya … komentar Mas Arief kelihatannya berkaitan dengan kovergensi ilmu pengetahuan ya … di mana jangan hanya punya satu “senjata” atau satu keahlian saja … begitu Mas ?
Betul pak ….. Keterampilan atau keahlian yang saling mendukung, seperti seorang dosen pengetahuan dan keahlian untuk menulisnya…
trims..
——————
setuju Mas Arief … bahkan kalau kita pelajari dengan seksama, orang2 yang sukses itu umumnya multi-talenta …
[…] apa ini ? Pertama, kondisi ini semakin mengukuhkan bahwa behavioral economics atau unsur perilaku dalam ilmu ekonomi itu memang benar-benar exist dan bukanlah mengada-ada. Ilmu […]
Komentar dan Diskusi