Ilmu pengetahuan atau sains (science) ternyata dikembangkan melalui empat hal, yaitu (1) logika, (2) matematika, (3) statistika, serta (4) bahasa. Ilmu pengetahuan berkembang melalui penelitian atau riset, dan penelitian itu sendiri memanfaatkan keempat hal di atas.

Dengan logika, manusia sanggup menyusun hubungan sebab-akibat, serta menyimpulkan sesuatu baik induktif maupun deduktif. Ini adalah dasar dari pengembangan ilmu pengetahuan. Penjelasan yang mudah dan menarik mengenai metode induktif dan deduktif dapat dibaca di blog ini, dan ini lanjutannya, (ini blog matematika dan logika yang menarik ..). Logika atau nalar ini memang bermula dari sikap kritis akan sesuatu fenomena alam, dan setelah itu, proses berpikir akan berjalan. Bahkan sekarang, logika pun bisa diekspresikan ke dalam simbol-simbol seperti matematika (symbolic logic serta mathematical logic). Menurut saya malahan irisan antara logika dan matematika ini sudah menjadi suatu topik bahasan sendiri, yang dikenal dengan istilah matematika diskrit (discrete mathematics).

Matematika dan statistika (di mata orang awam seringkali dua hal ini tidak ada bedanya, tetapi sesungguhnya berbeda) adalah alat untuk memperjelas suatu fenomena dengan presisi tinggi. Penjelasan dengan matematika dan statistika akan membuat suatu fenomena lebih mudah dipahami ( he he he … jadi sebenarnya matematika dan statistika ini tujuannya mempermudah lho .. tapi kok sering malahan membuat jadi ruwet !). (Catatan : kalau mau baca blog matematika, lihat di sini, menarik lho … ). Walaupun dengan matematika dan statistika terjadi reduksi dari fenomena, terutama dalam ilmu sosial, tetapi setidaknya ini bisa dipakai dalam penjelasan dasar. Nanti gilirannya saat interpretasi, tentu saja logika akan kembali bermain lebih dominan.

Terakhir, bahasa, di mana fungsinya adalah sebagai media penyampaian perkembangan ilmu pengetahuan. Bahkan pemahaman mengenai bahasa pun (dikenal dengan dengan hermeneutics) menjadi penting untuk perkembangan ilmu pengetahuan, dan menjadi bagian dari metode penelitian. Hermeneutics ini menjadi penting, karena bahasa itu pasti tidaklah context-free (kecuali bahasa pemrograman komputer .. he he he), sehingga ada makna atau pesan yang terkandung di dalamnya.

Bagi yang mendalami system thinking, maka keempat hal di atas juga merupakan komponen pembentuk system thinking, ditambah dengan metode visualisasi sistem itu sendiri. Visualisasi bisa dilakukan dengan bentuk diagram lingkar, atau yang lebih manusiawi adalah rich-picture diagram.

Well, jika memang bangsa ini berniat dengan komitmen tinggi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, maka sejatinya 4 hal di atas mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh. Saya menggarisbawahi pelajaran matematika dan statistika yang dianggap “mengerikan” dan “ruwet” bagi kebanyakan orang, sehingga orang skeptis memandangnya. Tetapi sesungguhnya diperlukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Tantangannya adalah, bagaimana membuat matematika dan statistika itu menjadi menyenangkan dan mudah dipahami ? Inilah pe-er kita, terutama sebagai pendidik, baik guru maupun dosen …