Dalam sebuah diskusi di kelas yang saya pandu, ada pertanyaan yang sangat filosofis dan menjadi perdebatan hangat, yaitu apakah itu kebenaran (truth). Banyak pendapat yang terungkap, mulai dari yang sangat religius, seperti kebenaran itu sesuai dengan ajaran agama, sampai dengan jawaban yang ngambang, di mana kebenaran itu adalah sesuatu yang tidak salah (lha iya lah
), sampai dengan yang malas mikir, kebenaran itu sudah dari sononya sehingga tidak usah dipikirkan, capek !
Nah, di sini saya mencoba mengulas kebenaran versi saya, atau pemahaman yang saya anut. Pemahaman ini tentu saja merupakan hasil akumulasi pengetahuan dan pengalaman hidup yang saya alami, sehingga bisa saja sangat subyektif.
Menurut saya, ada 2 jenis kebenaran, yaitu (1) kebenaran hakiki (the real truth), serta (2) kebenaran yang dipersepsikan (perception of truth). Kebenaran hakiki sejatinya milik Yang Maha Kuasa Sang Pengatur Alam Semesta, dan sulit untuk dicapai oleh manusia seobyektif mungkin. Saya meyakini sepenuhnya bahwa kebenaran hakiki ini ada, somewhere up there. Sementara itu kebenaran yang dipersepsikan inilah yang ada pada umat manusia. Kebenaran yang dipersepsikan ini berwujud suatu konsensus atau kesepakatan atau kesetujuan terhadap sebuah fenomena, di mana bisa saja sesuai dengan kebenaran hakiki, bisa juga tidak. Tetapi selagi disepakati oleh sekelompok manusia, maka itu diyakini sebagai kebenaran oleh kelompok tersebut, tentu saja kebenaran yang dipersepsikan. Kebenaran yang dipersepsikan ini bisa saja terkoreksi suatu saat, sesuai dengan perkembangan zaman. Tetapi kebenaran hakiki akan kekal abadi selamanya.
Misalnya, kasus planet Pluto. Selama lebih dari 60 tahun planet ini diyakini oleh para ahli astronomi sebagai bagian dari planet tata surya kita. Ini diyakini sebagai sebuah kebenaran, tentu saja kebenaran yang dipersepsikan melalui konsensus para ahli astronomi saat itu. Tetapi beberapa waktu yang lalu, para ahli astronomi mengoreksi ini, dan ternyata Pluto, berdasarkan bukti ilmiah yang ada, bukanlah planet, walaupun masih bagian dari tata surya kita. Sekali lagi, kebenaran berdasarkan konsensus bisa dikoreksi oleh konsensus yang lain.
Nah, apalagi dalam disiplin ilmu sosial, kebenaran itu lebih subyektif lagi. Kalau dalam ilmu alam seperti astronomi atau fisika kita bisa melakukan penelitian secara obyektif dengan prinsip positivistik atau empiris, itu pun hasilnya masih berupa kebenaran yang dipersepsikan, ada unsur subyektifnya. Pada ilmu sosial, metode mencari kebenarannya sering bersifat interpretif, dan ini lebih tinggi lagi unsur subyektivitasnya. Makanya seringkali teori ilmu sosial itu sangat debatable dan tidak berlaku universal. Inilah yang memicu lahirnya aliran critical thinking dalam ilmu sosial.
Bagaimana dengan ajaran agama ? Nah, ini sudah memasuki wilayah keimanan dan doktrin, sehingga tidak mudah didiskusikan. Setiap pemeluk agama atau keyakinan tertentu pasti akan mengatakan agamanya yang paling benar. Mau debat seperti apapun, landasannya ya seperti itu. Setiap orang akan mengatakan bahwa agamanya adalah kebenaran hakiki, ya sah-sah saja (karena ada unsur iman dan doktrin). Tetapi jika melihat banyak juga orang yang berpindah agama, maka bisa juga dikatakan bahwa ini adalah kebenaran yang dipersepsikan. Tetapi saya pribadi selalu menolak ikut terlibat dalam diskusi kebenaran dalam perspektif agama, karena tidak ada gunanya menurut saya. Yang terpenting jalankan saja dengan baik apa yang diyakini benar itu.
Tetapi, terlepas dari semuanya, itulah yang terbaik yang bisa dilakukan oleh manusia saat ini. Dalam ajaran Islam dikatakan, jika kita mencari kebenaran (tentu melalui studi, riset, dan sejenisnya) dan hasilnya sesuai dengan kebenaran hakiki (Sunnatullah), maka pahalanya dua, tetapi jika tidak, juga dapat pahala satu, karena sudah berupaya untuk itu. Tentu saja dilakukan dengan niat semata-mata untuk mencari kebenaran untuk kemaslahatan umat manusia …
Nah, jika anda berminat untuk membuat pusing kepala dengan teori kebenaran ini, maka silakan lihat sini, di mana terdapat 10 teori mengenai kebenaran :
Constructivist theory of truth
Correspondence theory of truth

strategy | organization | HRD 



Menarik sekali Pak Riri ulasan mengenai kebenaran nya, Saya juga sependapat jika sudah mengenai keimanan saya tidak suka berdebat. Apalagi dengan ilmu saya yang terbatas malah menjadi perdebatan kusir nantinya. terimakasih
————
Terima kasih atas apresiasinya Mbak Yulis … yup, sesuatu yang sifatnya iman dan doktrin, agak susah untuk didiskusikan … nah, ilmu pengetahuan atau science itu menag harus memiliki ruang untuk berdebatan atau pengujian dengan metodologi ilmiah yang diyakini benar (persepsional) sampai hari ini …
[..]Saya beranggapan bahwa kebenaran yang saya yakini mungkin berbeda dengan kebenaran yang diyakini orang lain dan juga bisa sama. Kebenaran yang saya yakini sekarang mungkin akan berbeda dengan kebenaran yang saya yakini pada masa yang akan datang. Seperti halnya kebenaran saya sekarang berbeda dengan kebenaran yang saya yakini pada masa lampau. [..]
………………
Mazirwan, terima kasih atas link yang diberikan … dalam beberapa hal, pemikiran saya sejalan dengan penulis posting tersebut …
pak Riri, jd kita tdk boleh asal menilai sesuatu hal itu benar atau salah? trus kalo menilai sesuatu pertimbangannya apa saja pak?
———————
menilainya relatif sesuai atau tidak dengan standar yang kita pergunakan …. jadi, kalaupun dibilang salah atau benar, acuannya relatif kesesuaian dengan standar yang kita pakai … artinya kalaupun salah, tidak mutlak salah, sebaliknya kalaupun benar, tidak mutlak benar … begitu Mas …
Komentar dan Diskusi