Masih dalam suasana peringatan kemerdekaan negara tercinta ini, sejenak rasanya perlu melakukan kontemplasi mengenai kebangsaan. Setidaknya saya mencoba melihat ke rak buku di rumah, dan diantara ratusan buku di dalam sebuah ruangan yang menjadi ruangan kerja sekaligus perpustakaan pribadi saya di rumah, terdapat beberapa buku karya Bapak Bangsa.
Di sana ada buku kumpulan Bung Karno semasa penjajahan Belanda, “Di Bawah Bendera Revolusi”, serta buku kumpulan pidato Bung Karno semasa menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama. Ada juga sekumpulan buku karya Bung Hatta, saya punya 8 buku kumpulan tulisan Bung Hatta. Kumpulan tulisan Bung Hatta itu, baik yang ditulis semasa penjajahan Belanda, maupun setelah beliau menjadi Wakil Presiden pertama. Kemudian buku tulisan Tan Malaka, ada 2, yaitu “Madilog” dan “Dari Penjara ke Penjara”.
Bung Karno, di mata saya adalah Bapak Bangsa yang kharismatik. Jika kita membaca tulisan Bung karno (apalagi mendengar pidatonya), maka kita akan digiring kepada sebuah suasana emosional yang kuat, betapa penjajahan atau kolonialisme itu harus dibasmi dari muka bumi, dan semua bangsa harus merdeka, termasuk Indonesia. Pada usia 28 tahun (tahun 1929), Bung Karno memunculkan pledoi “Indonesia Menggugat” sebagai tanggapan atas penahanan dirinya oleh penjajah Belanda akibat kegiatannya yang mengarah kepada opini publik, Indonesia merdeka ! Dalam buku “Di Bawah bendera Revolusi” ada tulisan Bung Karno yang berjudul “Demokrasi Politik dan Demokras Ekonomi”. Di sini saya menilai memang terdapat titik temu pemikiran Bung Karno dan Bung Hatta.
Bung Hatta, di mata saya adalah Bapak Bangsa yang memikirkan bagaimana nanti setelah kita merdeka, kehidupan perekonomian berbangsa ditata dengan baik. Bayangkan, pada tahun 1926, saat berusia 26 tahun, Bung Hatta menyampaikan pidato di Belanda saat diangkat menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia di sana, yang berjudul “Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen” atau “Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan”. Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif. Pidato itu dibuat oleh seorang pemuda Indonesia berusia 26 tahun ! Kemudian pada usia 27 tahun (tahun 1928) Bung Hatta memberikan ceramah di Swiss bersama Nehru, berjudul “L ‘Indonesie et son Probleme de I’ Independence” atau “Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan” Menurut saya, hampir semua pemikiran Bung Hatta terfokus kepada kehidupan ekonomi yang memihak kepada rakyat. Jika Bung Karno berpikir bagaimana melakukan revolusi untuk memerdekakan Indonesia, Tan Malaka berpikir secara filosofis bagaimana kemerdekaan Indonesia itu, maka Bung Hatta berpikir, kalau kita sudah merdeka, bagaimana kita mengisi kehidupan perekonomian untuk pembangunan. Jawaban Bung Hatta adalah sistem ekonomi yang memihak kepada rakyat ….
Kalau Tan Malaka, menurut saya, agak sedikit lain. Mungkin karena dia punya “dosa sejarah”, yaitu pernah menganut paham komunis, walaupun semangatnya adalah Indonesia merdeka, maka nama Bapak Bangsa yang satu ini kurang dikenal. Saya sangat mengagumi buku “Madilog”. Pada tahun 1926, saat berusia 29 tahun, Tan Malaka menulis buku ‘Massa Actie” yang berisikan pemikirannya perlunya dibangun sebuah bangsa yang besar, yang mencakup Asia Tenggara dan Australia untuk menandingi bangsa besar lainnya di dunia. Tan Malaka berpikir lebih besar dari ruang lingkup Indonesia yang ada sekarang … Buku ‘Madilog” menurut saya sangat filosofis. Saya pernah berpikir, kok bisa ya Tan Malaka menulis buku yang sangat filosofis mengenai logika berpikir, metode induktif dan deduktif, bukti empiris, dan kaitannya dengan agama, pada zaman dan kondisi yang dihadapinya saat itu. Bung Hatta juga pernah menulis filsafat, yaitu “Alam Berpikir Yunani”, tetapi menurut saya, “Madilog” jauh lebih greget untuk masalah filsafat.
Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, dan juga Bapak Bangsa lainnya yang belum saya tulis di sini, pada usia muda telah memainkan kiprahnya sebagai Bapak bangsa …. Adakah pemuda Indonesia yang bisa seperti itu sekarang ? … renungan untuk kita semua …

strategy | organization | HRD 



Hmmmm….. bang Riri…. maaf nih agak OOT….
Tapi bagaimana menurut bang Riri bahwa kolonial Belanda di bumi Indonesia harus dihapuskan. Tentu saya setuju dengan pendapat itu.
Namun, andaikan beberapa puluh tahun kemudian, banyak para pemuda kita yang pindah ke Belanda untuk bekerja, apakah itu berarti bahwa hidup di negeri ex-penjajah lebih “menjanjikan” daripada hidup di negeri sendiri….. Ataukah pepatah “hujan batu di negeri sendiri lebih enak dari hujan emas di negeri orang” hanya semboyan kosong belaka…… atau secara tidak langsung orang2 tersebut menunjukkan bahwa kemerdekaan hanya perubahan kekuasaan saja…. selebihnya…. terserah anda……. Bagaimana bang Riri? Huehehe….
———————
Nah, ini masalah lain Kang … sejarah tetaplah menjadi sejarah, itu untuk diingat dan dikenang, supaya hal-hal buruk di masa lalu tidak terulang kembali lalu nilai-nilai luhur da spirit di masa lalu barangkali ada yang masih relevan dan bisa dipakai saat ini, walaupun persoalan dunia sekarang jauh berbeda dibanding masa lalu … Tetapi masalah nasionalisme tetap relevan Kang … hanya setiap orang bebas dan berhak menentukan pilihan jalan hidupnya ..
hm, permisi… mau tanya, *manggil apa yah?* Kak, punya bukunya Pak Hatta yah? boleh tau judul2 buku yang ditulis bung hatta apa aja yah?
trus kira2 copy pidatonya yang “Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen” dibukukan gak yah?
makasih jawabannya.
——————————
Rizkana … mengenai judul2 buku, ntar aku lihat sekembali ke Jakarta ya … sekarang saya lagi di luar kota … lalu mengenai pidato tsb, setahu saya belum dibukukan …
hm Pak, aku mau comment dikit nih…masih terkait dengan nasionalisme…Bapak katakan masalah ini adalah masalah pribadi…tapi alangkah sedih mendengar seorang anak bangsa mengatakan kalau dia gak peduli dengan keadaan bangsa instead of keadaan dirinya sendiri…emangnya dia gak attached dengan Indonesia lha wong abis sekolah di sini dia pulang lagi kok! (wuih emosi nehhh) jadi membayangkan para bapak bangsa kita bakal nangis denger comment seperti ini
—————-
hai hai hai DTY … he he he .. santai dulu, angan emosi … ada apa sih ?
saya tertarik membaca karya tan malaka karna beliau salah satu tokoh n negarawan yang revolusioner jauh sebelum sukarno dan yang lainnya.anak bangsa yang mati ditngan saudarnya sendiri.
———————-
yup, setuju … dan akhir yang menyedihkan …
Komentar dan Diskusi