Aug 17
Orang tidak akan berunding dengan maling di rumahnya … Negara yang hidup meminjam, pasti menjadi hamba peminjam … Mengajari anak-anak Indonesia saya anggap pekerjaan tersuci dan terpenting. (Tan Malaka).
Merdeka !
Orang tidak akan berunding dengan maling di rumahnya … Negara yang hidup meminjam, pasti menjadi hamba peminjam … Mengajari anak-anak Indonesia saya anggap pekerjaan tersuci dan terpenting. (Tan Malaka).
Merdeka !
Betul sekali bang Riri…. Sepertinya Indonesia belum merdeka dari jeratan hutang jangka panjang……
Mungkin sebenarnya negara berhutang itu adalah “lumrah” ya…… namun masalahnya apakah pinjaman tersebut dapat memakmurkan kita atau malah menambah beban saja?? Ah… capeeee deh……..
——————
Kang Yari … kata-kata itu diucapkan oleh Tan Malaka pada tahun 1946 ! … apakah beliau sebagai salah satu Bapak Bangsa sudah memprediksi hal itu bakal terjadi ? .. well …
Wah….. ternyata fikiran saya sama Tan Malaka 1946 sama ya?? Padahal saya hanya tahu Tan Malaka “only by the name” saja. Kok bisa kebetulan ya?? Tapi bagian yang “capeeee deh…..” apa disebutkan juga oleh Tan Malaka kala itu?? Huehehehe…..
—————
Iya Kang … he he he … tapi ya itulah, ternyata memang terjadi … dan ini jadi pe-er untuk generasi sekarang jadinya …
saya juga baru menemukan kata2 bijak tan malaka lainnya, tentang semangat percaya diri secara bersama sebagai bangsa atau apapun:
“keputusan 1/2 benar tetapi dengan gembira dikerjakan oleh seluruh anggota lebih baik daripada keputusan yang baik sekali tapi dikhianati 1/2 anggota”.
http://trendibandung.wordpress.com/2008/07/18/3m/
———————-
Terima kasih Mas Andri atas tambahannya … Tan Malaka benar sekali, dia ingin mengatakan bahwa konsensus dan komitmen harus berjalan beriringan selamanya … kalau nggak ya sudah …
Komentar dan Diskusi