
Seumur-umur saya belum pernah melihat langsung, apalagi merasakan, menyeberangi sungai menggunakan ferry. Apalagi di zaman digital modern ini, saya berpikir pasti semua sungai yang ada jalur transportasi jalan raya sudah memiliki jembatan. Nah, di Jakarta aja banyak jembatan kok, walaupun tidak ada sungai di bawahnya ..
Ternyata penyebarangan sungai menggunakan ferry itu masih ada. Saya merasakan tadi siang sewaktu menuju Siak dari Pekanbaru, Riau. Perjalanan dari Pekanbaru menuju Siak ditempuh sekitar 3 jam. Jika melewati Perawang, maka kita harus menyeberangi sungai Siak dengan menggunakan ferry. Fasilitas penyeberangan ferry ini miliki Badan Operasi Bersama (BOB) PT. Bumi Siak Pusako - Pertamina, yang sekarang mengelola sumur minyak bekas Caltex (sekarang Chevron) di Siak. Tetapi masyarakat umum juga bisa menggunakan fasilitas ini, hanya saja prioritas diberikan kepada pihak BOB dan Pemda Siak. Karena saya datang untuk keperluan di BOB, maka tidak perlu ngantri untuk naik ferry menyeberangi sungai.
Sungai Siak ini cukup lebar. Sebagai salah satu wilayah yang termasuk cepat pengembangannya, rasanya agak aneh juga kok belum ada jembatan yang berada di wilayah Perawang ini untuk menuju Siak. Kalau di kota Siak memang sudah ada jembatan baru yang besar dengan teknologi cable stayed yang mirip dengan jembatan Barelang di Batam, dan menjadi ikon kota Siak. Mungkin di wilayah Perawang ini geliat ekonomi belum seberapa, sehingga masih belum menjadi prioritas ….

strategy | organization | HRD 



Jadi ingat perjalanan tahun 1998 dari Batam-Buton-Pakanbaru-Padang bareng Riki. Jalur Buton-Siak-Pakanbaru separonya masih jalan tanah yang sangat berdebu, diselingi naik kapal penyeberangan. Suasana pelabuhan Buton? Kayanya Riki masih menyimpan fotonya, serasa di negeri antah berantah.
Tahun 2001 saat mau ke Batam, jalanannya sebagian sudah di aspal.
Ternyata setelah 10 tahun, ferry-nya masih ada… hiks…. mme..mer..merdeka…!!
——————–
apo kabar Teguh ? ha ha ha .. jadi teringat pengalaman dulu sama Riki ya … yup, semua ferry itu masih ada .. ya begitu lah …
Lu baru sekali ini ya naik Ferry nyebrang sungai? Udah pernah naik rakit belum nyebrang sungai? Waktu kecil-kecil dulu gw ingat, untuk pulang kampuang ke Bukittingi, mobil landrover bokap gw kudu naik rakit menyebrangi sungai Rantau Berangin. Sekarang sudah ada jembatan di sana. Waktu pertama kali menjajal jalan darat Pekanbaru-Jakarta, masih ada juga sungai yang harus disebrangi naik rakit. Sekarang hal-hal yang berbau petualangan yang menarik tersebut makin berkurang. Terkadang kemajuan teknologi, era digital, mengurangi rasa exciting berpetualang. Mobil naik rakit atau naik ferry pastilah sebuah pengalaman yang menyenangkan apalagi kalau abang Rayhan dan adik Nadia ikutan juga.
—————-
hah, naik rakit ? jangan sampai deh ! .. kalau naik ferry masih mending … rakit ? waduh, gak kebayang …
Well, bukan alasan kan untuk tidak membangun jembatan di sana semata-mata karena petualangan, ya kan ?
jembatan untuk daerah Perawang masih dalam tahap konstruksi.. Lokasinya di daerah Maredan, jd gak pas di kota Perawang.
Jembatannya bukan cable stayed, tapi tipe Balanced Cantilever, dan kalo gak salah, bila nanti jembatannya udh jadi maka menjadi jembatan tipe Balanced Cantilever terpanjang di Indonesia..
oh iya, satu lagi jembatan besar yg mau d bangun d sungai siak adalah d daerah Teluk Mesjid, kira2 2-3 jam ke arah hilir sungai kl dari kota Siak..
-Rp-
———————–
Thank you for the info Bro Robby …
Terimakasih mas Riri telah bersedia mampir didaerah kami,
Beginilah keadaan di zaman kemajuan ini, Majikan jadi pembantu, pembantu jadi majikan.
yang kaya diperlaku miskin dan simiskin diperlaku kaya.
ini adalah sebuah proses pembangunan mental dan fisik yang tak berhaluan.
——————–
Terima kasih juga Bang Nazaruddin … kalau menurut saya, di zaman kemajuan ini seharusnya tidak ada lagi pembantu, yang ada hanya mitra kerja, dan juga tidak ada lagi si miskin, karena harusnya semua sudah masuk wilayah sejahtera … salam sukses selalu.
Komentar dan Diskusi