Suatu kali saya diminta menjadi penguji tamu untuk sidang tesis mahasiswa S2 di sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta. Si mahasiswa membuat tesis mengenai analisis efektivitas penerapan sistem ERP di sebuah perusahaan yang dia jadikan studi kasus. Nah, ini tentu topik yang menarik.
Tetapi sayangnya, setelah saya baca habis tesis yang bersangkutan, saya menemukan banyak sekali kelemahan logika dalam berargumen untuk tingkat S2. Banyak sekali blok-blok pemikiran yang “jaka sembung naik ojek, kagak nyambung jek !“. Sebelum ujian sidang dilaksanakan, saya konfirmasikan kepada sekretaris jurusan program studi tersebut, kok tesis begini bisa lewat untuk maju sidang ? Si sekretaris jurusan gak bisa jawab dengan jelas, hanya dia bilang, pembimbing yang bersangkutan, seorang dosen senior di universitas tersebut, sudah mengizinkan yang bersangkutan maju … Well, oke deh …
Saat sidang berlangsung, saya mengajukan pertanyaan. Salah satu kesimpulan tesis itu adalah, aplikasi supply chain management (SCM) sudah diimplementasikan dengan efektif. Nah, saya tanya, dari mana kesimpulan ini diperoleh ? Bagaimana proses analisis yang dilakukan sehingga sampai pada kesimpulan demikian ?
Jawabannya sangat membuat saya surprise ! Dia bilang, dia sudah wawancara manajer yang mengurusi SCM di perusahaan tersebut, dan sang manajer mengatakan bahwa implementasi aplikasi SCM sudah efektif. Maka dengan demikian, dia tuliskanlah bahwa kesimpulannya implementasi aplikasi SCM sudah berjalan dengan baik. Tanpa ada analisis yang lain.
Saya tanya lagi, apakah tidak ada analisis yang lain ? Jawabnya, tidak ! Kemudian saya jelaskan, bukankah kita kalau ingin menilai sesuatu, misalnya efektif atau tidak, kita perlu merumuskan kriteria dulu, misalnya apa kriteria efektivitas untuk implementasi sebuah aplikasi SCM. Tahap berikutnya baru dibandingkan dengan kondisi nyatanya. Dengan menggunakan analisis tersebut, baru kita sampai pada kesimpulan bahwa itu sudah efektif atau belum.
Oke deh, kalau memang melakukan wawancara, bagaimanakah wawancara itu dilakukan ? Apakah structured interview atau depth interview ? Dalam beberapa hal, metode seperti ini masih diperbolehkan. Analisisnya nanti akan sangat kualitatif.
Dia mengatakan bahwa dia tidak melakukan itu, hanya melakukan wawancara biasa dan itu pun singkat, dan menuliskan hasil wawancara itu. Analisis ? Ya, hanya menuliskan hasil wawancara singkat.
Dalam hati saya prihatin, ini apakah tesis level S2 atau hanya sekedar reportase lapangan tanpa analisis ? Saya pikir untuk tingkat S2, ini sangat tidak sistematis, tidak lojik, dan belum layak untuk lulus.
Nah, pada tesis tersebut banyak saya temukan kesimpulan tanpa argumen atau analisis yang relevan sperti itu. Waduh ! Menurut saya ini masalah serius dalam penulisan tesis level S2. Ini masalah metodologi atau logika yang perlu diluruskan.
Saya pun tidak meluluskan yang bersangkutan, dan memberikan argumen mengapa saya memberikan penilaian demikian. Kesalahannya sangat fatal, di mana tesis ini mirip sebuah laporan reportase dan sangat minim analisis … Tetapi rupanya, yang bersangkutan tetap lulus karena sang pembimbing memberikan nilai A, sehingga secara agregat nilainya masuk kategori lulus.
Dampaknya ke saya ? .. he he he … itulah pertama kalinya dan sekaligus terakhir kalinya saya jadi anggota dewan penguji tesis S2 di sana alias gak pernah dipanggil lagi. Belakangan saya dengar bahwa belum ada yang berani memberikan nilai tidak lulus kepada bimbingan Pak Dosen senior itu sebelumnya. Jadi saya ini “keterlaluan” … waduh !
Ya, sudah deh, kalau begitu saya konsen saja deh sama mahasiswa saya di MTI-UI … ![]()

strategy | organization | HRD 



He3x, it’s real world Sir, but salut buat konsistensi Pak Riri, itu nan diajaan agamo jo adaik wak Pak, wass
——————
Dunsanak Deddy, yup toleransi dalam hidup itu penting, tetapi ada kalanya kita harus tegas dalam masalah yang prinsipil … dengan segala konsekuensi he he he … begitulah Sanak .. salam.
Paragraph terakhir membuat saya berkeinginan ikut bimbingan Pak Riri.
Mohon dibimbing pak.
———————
See you in the class, Mazirwan …
Huehehehe…. udah wawancaranya ngasal…. si manajer ternyata juga njawabnya nggak yakin, cuma buat prestise atau “gengsi” pribadi atau departemen/perusahaannya aja. Capeeeeee deh……
—————-
Nah, jadi menurut Kang Yari gimana tuh ? kalau diluluskan kan menambah parah apa yang Kang Yari tulis di blog kang Yari tuh mengenai pendidikan … ya nggak ? .. he he he … tapi ya itulah Kang, … kenyataan di lapangan …
Mas, jangan aneh ya..hal begini saat ini sudah mulai merambah dunia kedokteran lho…makannya saya juga miris dengernya lately….
——————-
Dokter Rizky … wah, gitu ya … mudah2an situasi ini bisa kita atasi bersama … harus ada orang2 yang siap jadi benteng terakhir untuk kualitas … tanpa bermaksud mempersulit, melainkan hanya sekedar menjaga kualitas, dan tentu saja kita berharap semua mahasiswa lulus dengan standar kualitas yang tinggi … hanya saja, seringkali banyak pihak menganggap penerapan standar kualitas yang tinggi identik dengan mempersulit … wallahualam Dok.
Sehingga lesson learned yang bisa diambil adalah:
“Pilihlah Pak Riri sbg pembimbing.. daripada diuji Pak Riri kemudian!”
Hehe,
makasih banyak atas bimbingannya Pak.. benar2 pencerahan buat saya, not only about the thesis itself, but much more than that..
———————-
Anna, he he he … gitu ya … iya deh …gimana rasanya nih sudah lulus … mohon maaf ya kalau selama bimbingan saya agak bawel dan keras dan kesannya kok sulit gitu … he he he … tapi hasilnya, nilai tesisnya A kan ? … oke deh, salam sukses selalu ya …
@[a]nna:
Anna, wah gak jaminan tuh kalo Pak Riri jadi pembimbing beliau bisa “kalem” diruang sidang, temenku juga pembimbingnya Pak Riri tapi pas sidang justru Pak Riri yang paling aktif menguji… so jadi pembimbing atau penguji sama saja kalo bicara soal Pak Riri, kualitas tetap prioritas nomor satu…
Jadi langkah paling aman, siapkan diri sebaik mungkin..
BTW soal tesis yang logikanya gak nyambung, mungkin memang kampus itu orientasinya bukan kualitas, tapi cuma mengejar target jumlah kelulusan mahasiswa. Beruntung kita mahasiswa MTI. Cuma yah itu, semenjak angkatan saya, tugas tugasnya jauh lebih banyak dan berat. BTW kampus kita masuk nominasi INAICTA tuh.
————————-
Ha ha ha .. Mas Wibi .. kalau itu terjadi, silakan ditanyakan kepada temannya mengapa saya demikian … barangkali ada penyebabnya ? .. tapi saya sepakat bahwa untuk mutu kita tidak ada kompromi, demikian juga filosofi pembimbing disertasi S3 saya di atas, Prof. Sjafri … he he he … saya pun di-drill abis sama beliau …
Kalau tugas banyak, he he he … apalagi kami yang kuliah di S3 … tiap minggu itu ada paper Mas … mabok ! … tapi sekali lagi, those things for best quality …
Mengenai INAICTA 2008 itu, salah satu jurinya sahabat saya tuh, Romi Satria Wahono …
saluuuut bung riri…..salah satu ciri dosen yang memiliki integritas akademik adalah say no pada tindakan manipulasi akademik…..tak ada toleransi dan tak ada kompromi terhadap mutu akademik……dosen senior????……seharusnya yang bersangkutan obyektif dan mengakui segala kekurangannya selama membimbing…….mawas diri….”titel” senior bukan segalanya bung…..
———————
Pak Sjafri … thank you for your support Prof … I learn from you a lot how we define quality in education and consistent implementation … terima kasih banyak Pak ..
Hehe, Bapak gak bawel kok.. tapi memang kita (ehm, saya :p) nya aja yang bandel,
akibatnya baru sadar di akhir semester kalau research dan thesis itu ternyata menyenangkan.. Jadinya malah agak2 nyesel, kok udah lulus yaa?? Padahal masih pengen belajar lagi
So, makasih Pak.. and please wish me luck for my next endeavor..
To Wibi:
Wah Mas, setau saya setiap pembimbing punya waktu 1 semester penuh untuk ‘menguji’ anak bimbingannya.. jadi gak mungkin masih menguji juga setelah masuk ruang sidang. Kalau ‘mengarahkan’ mungkin iya.. Masalahnya, pressure di ruang sidang bisa menyebabkan ‘mengarahkan’ dan ‘menguji’ ini jadi tipis bedanya buat si objek penderita.. (hehe, pengalaman pribadi ;p)
[…] kedelapan adalah tulisan berjudul “LOGIKA” yang berisikan rasa sebal saya terhadap sidang tesis S2 di salah satu perguruan tinggi […]
hallo uda Riri,
Blog-nya bagus dan saya kagum sama prestasi & proffesional-nya uda Riri sekarang. Secara tidak sengaja nge-link ke blog ini. Mungkin masih ingat da Riri sama Boy, tetangganya di Pdg.
Sekarang saya di Jakarta. Kebetulan dapat scholarship dari tempat kerja untuk ambil S2(MBA). Baru mulai kuliah. Berharap bisa menyelesaikan program ini dengan thesis yang berbobot dan “tidak memalukan” seperti cerita di atas hehe.. If possible, mohon advice-nya, sehingga bisa menjalani program ini dengan baik…
Sekali lagi salut buat uda Riri, mudah2an semakin sukses ke depannya! Salam buat keluarga!
————————-
Hallo Boy … apa kabar nih ? .. wah, sekarang di mana ? … selamat en sukses ya dengan sekolahnya … pls kontak2 ya … salam sukses selalu …
Komentar dan Diskusi