Jul 26
Sungguh, saya sangat trenyuh membaca tulisan Pak Sjafri Mangkuprawira di blog beliau mengenai nilai pensiun seorang akademisi dengan kategori guru besar atau profesor.
” …. Besarnya uang pensiun sebagai PNS dengan masa pengabdian selama 39 tahun dua bulan, yang saya terima adalah sebesar Rp2.182.500 ditambah dengan tunjangan isteri sebesar Rp218.250 plus lain-lain; totalnya adalah Rp2.400.800. …”
Ayah saya juga seorang dosen, juga sudah pensiun, dengan golongan yang hampir sama dengan Pak Sjafri, dan memang uang pensiun diterima hampir sama.
Bagaimana tidak trenyuh, nilai di atas masih belum setengahnya penghasilan anak muda yang baru saja memulai karir di sebuah perusahaan telekomunikasi besar, atau perusahaan minyak dan gas. Bahkan seorang asisten lawyer pada sebuah law firm terkenal, yang baru lulus sarjana S1 pun bergaji lebih dari 2x nilai tersebut. Baca selengkapnya … »
Jul 24

Masih dalam rangka Asia HRD Congress 2008, tadi siang saya berkesempatan ketemu dengan sosok yang pernah menjadi CEO handal di Indonesia, yaitu Pak Robby Djohan. Beliau yang membesarkan Bank Niaga dari bank kecil menjadi besar, lalu “menyelamatkan” Garuda Indonesia dari kebankrutan, serta arsitek mega merger Bank Mandiri sehingga tidak hanya terselamatkan dari krisis, melainkan juga berkembang menjadi besar.
Satu hal yang saya kagum sama beliau adalah, di masa pensiunnya, beliau lebih banyak melakukan proses pencerdasan anak bangsa, terutama di bidang manajemen dan bisnis. Di samping aktif menulis buku, beliau juga mengajar di kelas pascasarjana manajemen di Universitas Indonesia. Baca selengkapnya … »
Jul 24

Pentingkah mengukur ROI (return on investment) untuk evaluasi pengembangan SDM seperti pendidikan dan training ? Pendapat yang agak mengejutkan saya keluar dari Jim Kirkpatrick sewaktu dia menjadi salah satu pembicara pada Asia HRD Congress 2008 tadi siang. Well, baru kali ini saya lihat orangnya langsung bicara, biasanya hanya baca bukunya.
Jim Kirkpatrick adalah anak dari Don Kirkpatrick, orang yang pertama kali mengembangkan konsep evaluasi training yang dikenal dengan 4-level training evaluation. Level 1 adalah reaksi dari peserta (reaction), level 2 adalah terjadinya proses pembelajaran (learning), level 3 adalah berubahnya perilaku dan menerapkan ilmu baru di tempat kerja (behavior), serta level 4 adalah terjadinya perbaikan di dalam bisnis perusahaan (result).
Jim Kirkpatrick mengatakan bahwa yang terpenting bukanlah ROI atau return on investment untuk training, atau ada juga yang menyebutnya ROTI (return on training investment), melainkan ROE atau return on EXPECTATION. Expectation siapa ? Tentu saja para pengguna jasa manajemen SDM di dalam perusahaan, yaitu unit lainnya atau business leaders. Jadi, menurut Jim, yang perlu diketahui pertama kali adalah apakah harapan atau ekspektasi pimpinan unit lain (business leaders) terhadap pengembangan SDM. Baca selengkapnya … »
Jul 23
Ini cerita atau pengalaman isteri saya baru-baru ini. Dia bilang, dia ditelepon oleh sebuah bank yang menawarkan pinjaman tunai sebesar Rp. 5 juta yang dapat dicicil dalam waktu 6 bulan, pasti disetujui, tanpa bunga (gila !), cukup dengan uang administrasi Rp. 500 ribu yang langsung dibayarkan di muka. Hebat bukan ? Sekilas, jika kita tidak berpikir panjang atau kritis, bisa ketipu lho …
Well, saya hanya kasihan sama si mbak yang menelepon, kali ini dia ketemu seorang akuntan dan family financial analyst, he he he (lihat saja di sini) … Coba pikirkan, apa artinya Rp. 500 ribu yang dibayar di muka tersebut ? Bukankah itu sama dengan bunga ? ataupun kalau namanya lain, pokoknya biaya yang harus dikeluarkan. Jumlah Rp 500 ribu dari Rp. 5 juta berarti 10%-nya. Dengan demikian, beban biayanya adalah 10% untuk pinjaman jangka 6 bulan atau setengah tahun. Jika dibawa ke nilai annual atau tahunan, berarti beban itu adalah 20% per tahun. Baca selengkapnya … »