Saya suka pemodelan sistem blogsphere yang dikembangkan oleh blogger Pak Dhe Rovicky ini. Beliau adalah seorang ahli geologi dan banyak nge-blog masalah-masalah geologi dan fenomena alam lainnya. Saya sendiri pernah ketemu beliau pada Pesta Blogger 2007 yang lalu di Blitzmegaplex Jakarta.
Pak Rovicky menggambarkan bahwa blogsphere adalah suatu sistem besar yang melibatkan banyak aktor, mulai dari blogger sampai dengan masyarakat umum. Terdapat 4 jenis interaksi dalam model tersebut (lihat gambar di atas). Beliau menyebut ada interaksi hanya sekedar “katak di bawah tempurung” untuk blogger, sampai dengan interaksi yang memungkinkan ide-ide brilian para blogger menjadi bermanfaat untuk masyarakat banyak.
Menurut saya, mungkin kita perlu mengembangkan semacam blogsphere maturity level (BML). BML dengan nilai terendah adalah jika interaksi 2 pada model di atas jumlahnya sangat kecil dibanding interaksi 3 dan 4. Artinya jumlah blogger aktif itu sangat sedikit relatif terhadap masyarakat. Dengan demikian, gaung blog akan sangat kecil kontribusinya kepada kehidupan bermasyarakat.
Sebaliknya BML dengan nilai tinggi adalah jika interaksi 3 dan 4 jumlahnya sangat minim terhadap interaksi 2. Ini berarti jumlah blogger aktif sudah relatif besar dalam masyarakat, sehingga interaksi antar blogger sudah bisa mewakili interaksi dalam masyarakat. dengan demikian, gaung blog sangat mwarnai kehidupan bermasyarakat.
Silakan baca tulisan beliau di sini (bagian I) dan dilanjutkan di sini (bagian II). Kapan-kapan saya akan melengkapi dan mengembangkan model yang telah beliau rintis ini lebih lanjut. To do something, we should know the path. Good work Pak Dhe Rovicky !
Gambar di atas di-link dari blog Pak Dhe Rovicky dengan niat baik ![]()

strategy | organization | HRD 



[…] sesuatu yang lebih serius mengenai dunia per-blog-an di Indonesia, seperti Pak Dhe Rovicky dengan model blogsphere system. Tentu saja, tindakan konkrit nyata dalam berbagai bentuk aksi juga tetap perlu dilakukan, dan kita […]
Waktu saya mulai nge-blog, saya cuma ikut2an saja, kebetulan saya lihat blognya Prof. Sjafri. Dan voila blog saya tercipta hanya untuk menuangkan apa yang ada di kepala saya saja, mulai yang asal2an sampai yang agak nggak asal2an. Mula2 saya tidak begitu peduli apakah blog saya ramai dikomentarin atau nggak. Namun setelah blog saya lumayan banyak komentarnya, saya jadi sadar bahwa komentar2 tersebut (walaupun banyak juga yang basa-basi dan sampah) ternyata ada juga yang menstimulus fikiran saya untuk berfikir lebih jauh lagi tentang artikel2 yang telah saya tulis.
Sebenarnya sejak awal saya sudah mengetahui bahwa salah satu cara untuk meramaikan blog kita adalah dengan cara meninggalkan banyak komen di blog lain. Untung saya orangnya suka berkomentar masalah apa saja dari masalah ekonomi, manajemen, komputer, teknologi, kedokteran, politik, sastra sampai artikel yang nggak jelas. Sebisa mungkin saya kasih komen yang seserius mungkin walau terkadang saya juga nggak segan2 untuk berkomentar konyol dan nggak jelas arahnya (tergantung artikel juga). Pendek kata, dari banyak komentar di tempat lain, akhirnya blog saya cukup ramai juga dikomentari oleh orang lain. Nah, menurut pengamatan saya, komentar2 blog yang masuk pada umumnya terbagi 3:
- Komentar dari orang2 yang berharap blognya dikomentarin balik
- Komentar dari orang2 yang benar2 menikmati artikel saya atau orang yang tengah mencari informasi dan mendapatkannya di artikel saya
- Komentar2 eratik atau komentar2 sampah
Golongan pertama, komentarnya bervariasi dari yang bermutu hingga yang gombal. Golongan kedua, biasanya komentarnya bagus dan juga berisi pertanyaan2. Golongan ketiga, kualitas komennya biasanya, ya begitulah.
Mungkin pemodelan Blogsphere yang akan dikembangkan ini jikalau menitikberatkan pada interaksi antara blogger dan para pembacanya, mungkin harus jelas pembagian2 jenis komentar agar dapat secara jelas diketahui secara lebih transparan tingkat maturity sebuah blog.
Kalau bisa sih sampai formulanya hehehehe…. yah just for fun aja sih. Yang penting formulanya cukup representatif, nggak perlu akurat2 amat seh…
Btw, maturity sebuah blog belum tentu mencerminkan maturity blogger-nya ya?? Huehehe….
———————-
Wah, analisis Kang Yari benar sekali. Kita memang tidak bisa hanya melihat dari jumlah interaksi yang terjadi, melainkan juga kualitas interaksi yang terjadi. Interaksi antar blogger tentu terlihat dari komentar, trackback, serta berbagai bentuk link lainnya. Semua pemeringkatan blog memang hanya melihat hanya dari sisi kuantitas atau jumlah interaksi yang terjadi, serta jumlah kunjungan.
Bagaimana dengan kualitas interaksi ? Ini memang pertanyaan besar Kang. Ini perlu pemikiran lebih lanjut.
Terakhir, saya sepakat bahwa maturity jika dilihat dari kuantitas interaksi belum tentu mencerminkan maturity blogger-nya …
Terima kasih Kang Yari atas komentarnya … this is a very valuable comment !
Saya paling suka jika mendapat komentar yang membuat saya menemukan ide, bagaimana sebaiknya blog saya bisa bermanfaat bagi orang lain. Dengan kondisi saya sekarang ini, sebetulnya relatif saya lebih punya banyak waktu, namun kenyataannya saya sendiri masih sulit menemukan formula bagaimana saya bisa menulis yang memberikan peran secara nyata pada pembaca…..rasanya masih mudah di dunia nyata karena ada interaksi dengan orang-orangnya.
———————-
Bu Edratna, itulah yang dimaksud dengan collaborative learning … pemikiran kita dibahas oleh orang lain, dan bahasan orang lain itu juga menimbulkan ide baru pada pikiran kita … jangan khawatir Bu, tetaplah menulis, toh salah-salah dikit orang akan maklum, yang penting kan esensi tulisannya … saya juga modal nekad aja Bu … intinya, pemikiran saya begini, nah silakan dibahas oleh pengunjung blog … dengan demikian diskusi akan menarik … memang, sebiah ide lahir karena interaksi … makanya collaborative learning itu jauh lebih bermanfaat ketimbang individual learning … dan menurut saya, blog adalah salah satu alat untuk collaborative learning yang ampuh saat ini … keep on blogging Bu, ditunggu terus tulisan2nya … terima kasih
Kayaknya ide menarik untuk melanjutkan membuat :”blogsphere maturity level (BML)”. Ntah seperti apa jadinya, tetapi ide ini mestinya dikembangkan. Mas Riri yg berkecimpung di dunia IT mestine bisa mengembangkannya. Yang terlintas dibenak saat ini ada beberapa faktor yg harus dimasukkan :
. Atau paling tidak ada pengakuan khusus dari “blogger association” … apa pula ini ya :p
- Sisi Kuantitas/kualitas interaksi. Bagaimanapun jumlah yang akses maupun yang link merupakan tolok utk yg mudah dikomparasi secara fisis (klick, link, track dsb)
- Sisi tehnis dan teoritis (nyuwun sewu aku ini selalu menggunakan pendekatan science (scintific approach) supaya mudah di-evaluasi, di-review dan di-revisit.
- Sisi pengakuan. Bagaimanapun kualitas maturity blog assesmentnya mesti harus dilakukan oleh “blog expert”… halllah bikin profesi baru
———————
Pak Rovicky alias RDP, yup setuju dengan wacana itu. Nah, kayaknya sudah mulai harus dikembangkan nih. Katanya sekarang zaman information economy, maka tentu saja metrik-metrik atau ukuran yang relevan dengan information economy harus dikembangkan … mungkin BML salah satu yang menarik untuk dielaborasi lebih lanjut … salam Pak ..
Komentar dan Diskusi