Sungguh, saya sangat trenyuh membaca tulisan Pak Sjafri Mangkuprawira di blog beliau mengenai nilai pensiun seorang akademisi dengan kategori guru besar atau profesor.

” …. Besarnya uang pensiun sebagai PNS dengan masa pengabdian selama 39 tahun dua bulan, yang saya terima adalah sebesar Rp2.182.500 ditambah dengan tunjangan isteri sebesar Rp218.250 plus lain-lain; totalnya adalah Rp2.400.800. …”

Ayah saya juga seorang dosen, juga sudah pensiun, dengan golongan yang hampir sama dengan Pak Sjafri, dan memang uang pensiun diterima hampir sama.

Bagaimana tidak trenyuh, nilai di atas masih belum setengahnya penghasilan anak muda yang baru saja memulai karir di sebuah perusahaan telekomunikasi besar, atau perusahaan minyak dan gas. Bahkan seorang asisten lawyer pada sebuah law firm terkenal, yang baru lulus sarjana S1 pun bergaji lebih dari 2x nilai tersebut.

Jika kita katakan bahwa gaji berbanding lurus dengan job value, maka pasti kita sepakat, ada yang salah dalam menentukan job value di sini. Mana mungkin job value profesor lebih rendah daripada asisten lawyer.

Saya mengamati ada asumsi atau paradigma yang berkembang bahwa nilai pendapatan terlihat bergantung kepada jangka waktu manfaat yang diperoleh dari jasa atau kontribusi yang diberikan oleh pekerjaan itu. Misalnya dokter, manfaat jasanya dirasakan saat itu juga, maka tarif dokter umumnya mahal, tergantung kegawatan penyakit, apalagi di rumah sakit mewah. Lalu juga artis, jasa hiburan yang dia berikan juga dapat dinikmati saat itu juga, maka bayarannya pun mahal, sesuai dengan kaliber karya seninya. Tetapi kalau dokter yang sama atau artis sama mengajar atau membentuk dokter atau artis di masa depan, maka manfaat yang dirasakan oleh konsumennya baru terasa di masa depan, maka nilai bayarannya pun lebih rendah. Jika hipotesis ini benar, maka honor terkecil akan diterima oleh para ustadz atau rohaniawan karena “manfaat” jasa mereka akan “dirasakan” nanti di akhirat :)

Nah, sekali lagi, kalau hipotesis ini benar, maka jelas ada yang salah dalam sistem tersebut. Masalahnya terletak bagaimana kita memberikan nilai atau value terhadap sebuah pekerjaan. Profesi seperti guru, dosen, peneliti, ilmuwan, menjadi tidak menarik, karena pasti gajinya kecil berdasarkan penundaan manfaat tadi. Tetapi hampir semua orang sepakat bahwa pekerjaan seperti guru, dosen, peneliti, ilmuwan itulah yang sangat menentukan keunggulan suatu bangsa. Lantas mengapa value-nya lebih kecil ? Saya juga bingung.

Seorang pembicara seminar yang memberikan tips jalan pintas menjadi kaya konon bisa mendapatkan puluhan juta rupiah untuk bicara seminar setengah hari. Sementara seorang dosen yang mengajarkan pola berpikir yang lebih holistik berpenghasilan sekitar Rp. 1 juta sekali ngajar di kelas MM terkenal di Indonesia. Nah, seorang ustadz atau rohaniwan yang mengajarkan kebajikan untuk kehidupan semesta cuman dikasih amplop ala kadarnya ….

Saya semakin yakin, rasanya ada yang salah dalam sistem yang ada, atau bahkan jangan-jangan yang salah adalah paradigma yang ada untuk memberikan value terhadap job saat ini …