Ini cerita atau pengalaman isteri saya baru-baru ini. Dia bilang, dia ditelepon oleh sebuah bank yang menawarkan pinjaman tunai sebesar Rp. 5 juta yang dapat dicicil dalam waktu 6 bulan, pasti disetujui, tanpa bunga (gila !), cukup dengan uang administrasi Rp. 500 ribu yang langsung dibayarkan di muka. Hebat bukan ? Sekilas, jika kita tidak berpikir panjang atau kritis, bisa ketipu lho …
Well, saya hanya kasihan sama si mbak yang menelepon, kali ini dia ketemu seorang akuntan dan family financial analyst, he he he (lihat saja di sini) … Coba pikirkan, apa artinya Rp. 500 ribu yang dibayar di muka tersebut ? Bukankah itu sama dengan bunga ? ataupun kalau namanya lain, pokoknya biaya yang harus dikeluarkan. Jumlah Rp 500 ribu dari Rp. 5 juta berarti 10%-nya. Dengan demikian, beban biayanya adalah 10% untuk pinjaman jangka 6 bulan atau setengah tahun. Jika dibawa ke nilai annual atau tahunan, berarti beban itu adalah 20% per tahun.
Apa artinya ? Artinya skema pinjaman yang ditawarkan tersebut sama dengan skema pinjaman dengan tingkat bunga 20% per tahun ! Gila kan ? Pinjaman apa dengan bunga setinggi itu sekarang ?
Memang dalam pemasaran, sah-sah saja kita menggunakan berbagai strategi. Bahkan ada pakar pemasaran yang menganjurkan untuk mengeksploitasi kata-kata “gratis” untuk sesuatu yang sesungguhnya tidak gratis, mirip dengan pinjaman tanpa bunga ini. Tetapi memanfaatkan ketidaktahuan orang awam, apalagi bisa sampai menjerat dan menjebak mereka akibat ketidaktahuan itu untuk mendapatkan keuntungan rasanya bertentangan dengan prinsip etika bisnis. Kecuali memang kalau etika itu tidak diperhitungkan …
So, hati-hati dan kita harus kritis dalam menyikapi setiap penawaran pinjaman yang “extra menarik” …

strategy | organization | HRD 


