Hari ini, kami dari People Performance Consulting (PPC-Indonesia), mendapatkan kehormatan untuk menjadi fasilitator pada Balanced Scorecard Workshop untuk para Manajer IKU yang baru di Bank Indonesia. IKU adalah istilah yang lazim dipergunakan di Bank Indonesia untuk KPI (key performance indicators). Dengan demikian, para Manajer IKU adalah mereka yang memanajemeni KPI atau IKU di setiap direktorat di lingkungan Bank Indonesia. Acara ini dilakukan di Hotel Savoy Homann - Bandung.
PPC-Indonesia menurunkan tim yang terdiri dari saya sendiri, rekan saya Yodhia Antariksa, serta Ade Ahmad Rozi. Sementara itu, teman kami Vani Virgayanti magang sekaligus menjadi pengamat untuk topik balanced scorecard di dalam ruangan tersebut. Saya sendiri bertindak sebagai lead facilitator.
Workshop dimulai dengan menjelaskan konsep strategy-focused organization dan kaitan manajemen stratejik serta manajemen kinerja dengan balanced scorecard. Pada awal ini, juga disampaikan sepintas mengenai manajemen perubahan organisasi. Tidak disangka, justru diskusi mengenai manajemen perubahan ini menjadi marak dan seru. Setelah itu, baru masuk ke inti balanced scorecard, yaitu menyusun strategy-maps, mengidentifikasi KPI atau IKU, serta menyusun strategic initiatives. Diskusi semakin seru setelah makan siang, karena beberapa peserta sangat kreatif dalam menyusun balanced scorecard-nya. Sesi terakhir adalah proses cascading dan alignment. Acara diakhiri jam 17.30 sore.
Acara yang menjadi tanggung jawab kami sudah selesai. tetapi teman-teman Bank Indonesia ini masih ada acara esok hari, yaitu membahas balanced scorecard dan IKU yang spesifik untuk Bank Indonesia, yang dipandu oleh tim khusus dari Bank Indonesia.
Melelahkan juga, tapi juga menyenangkan … karena kami mendapatkan apresiasi yang positif dari teman-teman di Bank Indonesia … best wishes for all of you ..




September 21st, 2008 11:39 pm
dear Pak Riri,
ada usul nggak, literatur yang bagus untuk mendalami BSC?
apa buku2 Kaplan & Norton itu udah cukup?
gimana dengan implementasi BSC di Indonesia, apa ada bukunya?
regards,
David
———————
Mas David,
Kaplan dan Norton adalah mereka yang yang memformulasikan konsep BSC, dan sampai sekarang mereka sudah menulis 5 buku tentang BSC, mulai dari generasi pertama, sampai dengan yang terakhir … buku terakhir judulnya “Execution Premium” yang baru terbit 3 bulan yang lalu …
Jika Anda membaca dan menguasai semua buku Kaplan dan Norton, maka itu LEBIH DARI CUKUP dan bahkan Anda sudah berkualifikasi konsultan BSC Mas … he he he …
Jika Anda sudah menguasai, maka Anda akan bisa memodifikasi BSC itu sesuai dengan kondisi Indonesia …
Begitu dulu, terima kasih.
December 17th, 2008 3:47 am
[…] pembicara mengenai balanced scorecard untuk para KPI manager di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)-RI. Hal yang sama juga pernah dilakukan untuk Bank Indonesia. Saya tidak akan mengulas lagi apa itu balanced scorecard di sini. Tulisan saya mengenai balanced […]
December 17th, 2008 10:24 am
pak riri,
saya astu mahasiswa UNPAD,
kebetulan saya menggunakan BSC untuk skripsi saya,saya sedang bingung untuk menentukan indikator2 BSC yang diperkuat dengan kutipan ahli,karena yang saya baca di buku kaplan,kebanyakan indikator mengikuti kondisi visi dan misi perusahaan sehingga saya sulit untuk mencari kutipan para ahlinya,
terima kasih banyak.
—————————–
Yang benar itu memang indikator itu harus mengikuti kondisi visi dan misi perusahaan … kutipan para ahli hanya menjadi pelengkap, karena para ahli itu juga melakukan riset dengan sampel yang terbatas, pasti ada asumsinya, sehingga belum tentu juga pas dengan kebutuhan perusahaan … begitu .
January 11th, 2009 3:29 pm
[…] organisasi, serta manajemen SDM berbasis kompetensi di Indonesia. Lihat seminar yang dibawakan di Bank Indonesia, Badan Pemeriksa Keuangan - RI, kuliah di S2 teknologi informasi UI, tulisan tentang BSC, nara […]
June 6th, 2009 6:34 pm
[…] pemerintahan yang ketiga yang menggunakan jasa kami untuk workshop balanced scorecard, setelah Bank Indonesia, serta Badan Pemeriksa Keuangan […]
July 3rd, 2009 9:26 am
Dear Pak Riri,
Saya dari Depkeu. Pernah mengikuti workshop Bapak di hotel Redtop. Dalam workshop tsb selain BSC saya juga mendapat pengetahuan lain dari bapak tentang manajemen. Kebetulan saat ini saya menjadi salah satu staf dalam SMO-nya Depkeu. Hingga pertengahan tahun 2009 kami telah melakukan cascading BSC sampai level eselon II dan kami merencanakan akan melakukan cascading ke level eselon III pada tahun 2010. Sebagai informasi, Eselon III Depkeu berjumlah lebih kurang 1600 unit. Menurut Bapak, tahapan apa saja yang harus kami siapkan agar proses tersebut berjalan efektif dengan sumber daya yang terbatas (kami ingin menjalankan management style “plan before you do”). Kami juga berencana akan melibatkan manajer kinerja dari masing-masing unit eselon I.
Demikian Pak, terimakasih atas bantuannya.
Best regards,
Idowati
————————————————–
Mbak Idowati,
Sebenarnya proses melakukan cascading hanya membutuhkan waktu 2 hari, mungkin alignment yg agak butuh waktu, karena tergantung kepada banyaknya koordinasi yg perlu dilakukan. Tetapi untuk bisa melakukan cascading yg 2 hari tersebut, ada syaratnya, yaitu : 1) setiap unit sudah punya tugas pokok fungsi / jod description yang jelas dan baik, 2) setiap pemangku jabatan memahami tugas pokok fungsi / job description tersebut, 3) pemangku jabatan memiliki kompetensi yang memadai untuk menjalankan tugas pokok fungsi / job description, serta 4) pemangku jabatan paham bagaimana melakukan cascading, menyusun strategy map, KPI, dan inisitif stratejik.
Jika keempat hal di atas sudah terpenuhi, maka saya yakin proses cascading akan menjadi mudah. Selama 2 hari di RedTop kemaren, kita membenanahi persyaratan ke-4, dan itulah tugas kami. Tetapi ada 3 persyaratan lain yang juga harus ada. Pengalaman kami di berbagai tempat, dan kelihatannya juga di Depkeu, persyaratan ke-3 yang banyak menjadi penyebab tersendatnya penerapan balanced scorecard. Contoh kasus, bagaimana mungkin unit pengembangan SDM bisa menyusun BSC kalau tidak memahami kerangka pengembangan SDM mulai dari analisis kebutuhan (seperti training needs analysis), sampai dengan evaluasi pasca training (misalnya dengan 4 skala Kirkpatrick)? tentu dia akan mengalami kesulitan, karena metode cascading-nya akan banyak menggunakan metode indirect.
Jadi, menurut saya, ke-4 persyaratan di atas sebaiknya dipenuhi untuk bisa menjalankannya. Terima kasih banyak Mbak Idowati, salam sukses selalu.
September 7th, 2009 8:33 am
Yth Pak Riri,
Pak, berarti dalam merumuskan strategy map dan KPI, hrs sudah ada job description yg jelas ya? Jadi Strategy map follows job desc? Di tempat saya berkerja, saat ini sedang menyusun KPI menggunakan BSC. Sudah mulai dilakukan cascading sampai eselon 3. Namun saat ini kami juga sedang membuat job desc karena ternyata selama ini msh belum ada job desc untuk semua pekerjaan. Lalu bagaimana ya pak, apakah penyusunan KPI hrs menunggu job desc selesai dibuat? ataukah bisa paralel? Idealnya seperti apa pak?
Terima kasih..
———————————-
Mbak Maharani, memang idealnya untuk menyusun KPI harus ada job desc dulu, tetapi kalo belum ada, menurut saya bisa dilakukan berbarengan atau paralel … begitu Mbak, terima kasih ..