Jul 01
Ternyata benar local wisdom para leluhur kita di nusantara ini, kalau sukses janganlah menyombongkan diri, karena itulah pangkal malapetaka … Setidaknya itulah hasil riset empiris yang dilakukan beberapa tahun terakhir oleh Jim Collins seperti yang diuraikan dalam bukunya yang terbaru (terbit 19 Mei 2009 yang lalu), “How the Mighty Fall”. Ini adalah buku ketiga Jim Collins, setelah 2 buku sebelumnya yang juga menjadi best seller, yaitu “Built to Last (1994)” serta “Good to Great (2001)”.
Oh ya, Jim Collins baru menulis 3 buku, tetapi ketiga buku tersebut adalah hasil riset tahunan dengan data empiris yang luar biasa lengkap. Bisa dikatakan, ketiga buku Jim Collins ini bukanlah buku asal-asalan, atau buku yang dibombastiskan. Riset selama 6 tahun untuk satu buku adalah sesuatu yang membutuhkan ketekunan, persistensi, komitmen, kesabaran, serta dedikasi yang tinggi. Tanpa dibombastiskan, the book speaks itself!
Nama Jim Collins pun menjadi suatu jaminan mutu untuk sebuah tulisan, baik buku ataupun artikel. Hebatnya, dia membagikan artikel-artikelnya secara gratis lewat internet di sini.
Okey, back to the book .. Hasil riset Jim Collins menunjukkan adanya kesamaan pola dari para perusahaan raksasa yang pernah sukses, tetapi berikutnya tumbang. Dia menguraikan pola itu dalam 5 tahap kehidupan perusahaan menjelang kejatuhan.
Baca selengkapnya … »
Jun 25
Tulisan ini juga saya posting di Politikana.com
Sebagai seorang praktisi manajemen, saya sangat paham bahwa bahasa manajemen itu haruslah spesifik, terukur (measurable), atau dalam istilah lain, harus definitif. Kalau tidak, maka setiap pihak bisa menafsirkan suatu istilah “sesuai dengan iman masing-masing”, dan ini tentu kurang bagus untuk perjalanan sebuah organisasi. Walaupun manajemen membutuhkan “creative thinking“, tetapi tetap ada koridor kebijakan di dalam organisasi yang definitif dan jelas, sedapat mungkin menutup peluang multi-interpretasi. Inilah prinsip manajemen yang disampaikan oleh pendekatan balanced scorecard, ataupun pendahulunya seperti management by objectives. Intinya begini, we could not manage what could not measured.
Sementara itu, sepanjang pengamatan saya, ranah politik memiliki paradigma yang berbeda. Bahasa politik ternyata penuh dengan retorika, “istilah-istilah yang menakjubkan”, membuat orang terpesona, dan seringkali (saya pernah melakukan survei kecil-kecian) maknanya tidak dipahami. Tujuannya bukan untuk membuat orang lain paham, tetapi justru membuat orang lain terpesona (walaupun dengan alasan yang tidak jelas). Apakah benar bahwa bahasa politik itu demikian? Wallahualam.
Ada yang bisa memberi saya pencerahan? Terima kasih.
Jun 25
Kumpulan opini yang saya kutip dari Majalah SWA 28 Mei 2009 (termasuk IMHO / in my humble opinion) … So, bagaimana tipsnya ? Inilah ringkasannya :
- Kemampuan kepemimpinan yang baik (great leadership).
- Personal branding yang baik (great personal branding).
- Rekam jejak dan kinerja yang baik dan bernilai lebih (great performance record).
- Terus-menerus belajar dan mengembangkan kompetensi (learning new things).
- Mampu menarik pelajaran dari kegiatan keseharian (learning from daily life).
- Selalu belajar dari orang-orang sukses (learning from others).
- Selalu up-to-date dengan kondisi bisnis yang ditekuni (up-to date).
- Selalu menjadi yang terbaik, lakukan yang terbaik (always do the best).
Pengakuan akan datang dengan sendirinya sebagai buah dari kerja keras dan komitmen baik Anda sebagai profesional. Ke depan, dengan situasi bisnis yang makin kompleks, apalagi gelombang krisis global belum surut, tentu profesional makin dituntut untuk mampu memoles diri. Tak hanya wawasan, menurut Riri Satria, diperlukan pula kemampuan kepemimpinan dan tak kalah penting personal branding. “Supaya terus menjadi incaran head-hunter,” ucap Direktur Consulting People Performance Consulting Indonesia ini.
“Seorang profesional harus bisa menjaga kinerja serta rekam jejaknya dengan baik, berkontribusi terhadap perkembangan perusahaan, memiliki nilai lebih dibanding profesional lain di bidangnya dan mampu membangun relasi sehingga banyak orang yang merekomendasikan mereka kepada head-hunter,” papar pengamat manajemen SDM, Arina Sary.
Baca selengkapnya … »
Jun 14
Salah satu konsep manajemen SDM yang menyita perhatian saya akhir-akhir ini adalah Human Sigma. Bukunya sendiri baru masuk ke Indonesia, walaupun konsep ini sudah agak lama terdengar dan dipublikasikan di berbagai tulisan di internet.
Setidaknya ada beberapa tulisan tentang Human Sigma ini, yaitu di Gallup Management Journal,(juga di sini), blog Frank Capek, PharmaPulse, review oleh Carrie Cavanaugh, cavehendricks.com, kolom Elbo di Manila Times, serta BusinessWeek. Juga ada video pidato Dr. John Fleming tentang Human Sigma.
Human Sigma adalah konsep yang merupakan implementasi six sigma pada manajemen SDM atau human capital.
The Human Sigma approach combines a proven method for assessing the health of the employee-customer encounter with a disciplined process for improving it. It is based on five new rules to bring excellence to the way employees engage and interact with customers. Companies that follow these principles are outpacing their competition by 26% in gross margin and 85% in sales growth. (BusinessWeek).
Baca selengkapnya … »